I Shall Be Free No. 7

Ketika dia kecil dia selalu penasaran dan bertanya kepada ibunya. Ma, kenapa semuanya berwarna putih? Kenapa Yesus putih, pirang dan bermata biru? Kenapa teman-teman Yesus di perjamuan terakhir semuanya putih? Kenapa malaikat putih semua? Apakah kalau kita meninggal kita akan masuk surga? Ya tentu saja kita semua akan masuk surga. Lalu ketika kita di surga apakah kita akan tinggal di dapur dan melayani mereka yang berkulit putih? Dia selalu dihinggapi rasa penasaran kenapa Tarzan yang merupakan Raja Afrika itu bule? Bukankah dia tinggal di Afrika? Kenapa tidak hitam? Ma, kenapa semuanya berwarna putih? Kenapa Miss Universe selalu putih? Kenapa Presiden kita selalu putih? Bahkan tinggalnya pun di White House? Sinterklas pun putih? Ma, kenapa sesuatu yang jelek selalu identik dengan hitam? Ilmu hitam? Kucing hitam identik dengan kesialan. Kenapa memeras disebut blackmail? Kenapa tidak whitemail? Kenapa berbohong untuk kebaikan disebut white lies? Kenapa, Ma?

Ketika dia berumur dua belas tahun dia mendapat hadiah Natal dari orang tuanya. Sepeda. Tapi sepeda itu hilang. Dicuri. Dia lapor ke polisi setempat. Pak, sepeda saya hilang. Dimana? Di auditorium. Kapan? Baru saja, Pak. Napasnya masih terengah-engah. Ingin rasanya kupukul si pencuri itu dengan tangan kiriku! Tenang dulu. Jangan terburu nafsu. Sebelum kau memukul pencuri tersebut sebaiknya kau belajar bertinju dulu di sasanaku. Polisi itu adalah Sersan Joe. Dia yang mengenalkan anak dua belas tahun itu bertinju. Sampai enam tahun kemudian. Anak yang sudah beranjak remaja terpilih untuk mengikuti Olimpiade 1960 di Roma, Italia. Tapi dia takut terbang. Dan hampir saja dia tidak jadi pergi. Tapi Uncle Joe Martin, yang sejak awal melihat potensi yang ada pada anak itu, memaksanya. Cass, ini kesempatan tidak akan datang dua kali. Kamu harus mengambilnya. Saya tidak melihat ada petinju yang lebih berbakat darimu. Pergilah ke Roma. Bertandinglah. Dan kamu akan meraih medali emas. Aku percaya itu. Cass pun pergi. Dan Uncle Joe betul. Dia meraih medali emas. Melewati semua negara komunis yang menjadi pesaingnya. Uni Soviet dan Polandia salah satunya.

Cassius kembali ke kampung halamannya. Kali ini sebagai peraih medali emas Olimpiade. Kebanggaan bangsa. Cassius Clas mampir di sebuah tempat makan. Dia lapar. Tapi pramusaji di tempat makan tersebut bilang we don’t serve negros. Cassius marah. Dia keluar dari restoran itu dia lempar medali emas yang dia raih ke sungai di Louisville. Dia cari pelatih tinju. Dia harus menjadi juara dunia kelas berat. Tekadnya sudah bulat. Dia bertemu dengan Angelo Dundee yang kelak menjadi pelatihnya. Dia sontak menjadi terkenal karena bermulut besar. Dia menjuluki dirinya sendiri sebagai Louisville Lip. Dia selalu menyebut dirinya sendiri sebagai The Greatest. Dia bisa merangkai puisi berima secepat kilat. Jauh sebelum Kanye West melakukannya. Dia selalu mengolok-olok lawannya. Dia menyebut dirinya tidak bisa dikalahkan. Bahkan dia menebak sendiri ronde berapa lawannya akan dijatuhkan. Tebakannya jitu. Itu dia lakukan ketika dia menjadi juara dunia ketika mengalahkan Sonny Liston. Semua pasar taruhan tidak ada yang memihaknya. Dan mereka salah.

4279

Pertemanan dengan Malcolm X, dan Elijah Muhammad yang juga sebagai pendiri Nation of Islam membuatnya menjadi muslim dan mengganti namanya menjadi Muhammad Ali. Pada saat itu, ini hal yang sangat beresiko. Black muslim, dianggap sangat subversif, pembelot, dan juga tidak Amerika. Telponnya disadap oleh NSA. Ali maju terus. Pantang mundur. Ada saatnya ketika dia terpilih untuk mengikuti wajib militer dan pergi ke Vietnam. Muhammad Ali menolak. Tidak ada Vietcong yang menyebutnya nigger ujarnya. Buat apa dia pergi ribuan kilometer? Musuh sesungguhnya ada di negaranya sendiri. Cuma Ali yang bisa bicara begini. Atau mungkin John Lennon, yang pernah berfoto bersama. Tapi Lennon bukan warga Amerika. Konsekuensinya dia pergi harus pergi ke Vietnam atau harus masuk penjara dan melepas gelarnya. Muhammad Ali bukan Elvis Presley yang mengikuti wajib militer. Muhammad Ali adalah Muhammad Ali. Dia lepas gelarnya. Dia masuk penjara. Dia banyak kehilangan uang, energi, dan waktu. Semua resiko itu dia tempuh dengan sadar.

Keluar dari penjara, hanya satu tujuan yang ingin dia raih, mengambil kembali gelar yang dicabut. Tapi itu tidak mudah. Juara bertahannya adalah George Foreman. Jauh lebih muda dan lebih buas. Bayangkan saja Mike Tyson di akhir tahun 80an. Atau awal tahun 90an. Tapi Ali adalah Ali. Dia tetap bermulut besar. Dan bahkan sesumbar kan mengalahkannya. Bahkan menjatuhkannya. Tidak ada yang percaya. Bahkan pasar taruhan pun tidak ada yang menjagokannya. Ali sudah kepala tiga. Sudah lama tidak berlatih. Tapi apa yang terjadi? Ali menjatuhkan Foreman dengan taktik bertinjunya yang jitu yang terkenal dengan nama rope-a-dope. Muhammad Ali kembali menjadi juara dunia.

1465208660780

Segala kontroversinya di dalam atau di luar ring tinju hanya membuat namanya semakin besar. Setelah dia pensiun di awal tahun 80an, Ali tidak berhenti. Dia mempunyai lawan baru, namanya Parkinson. Dia tidak menyerah. Dia terus bertarung hingga akhir hayatnya dua hari lalu. Pertarungan lainnya adalah Ali menjadi aktivis hak asasi manusia. Dengan Parkinson yang setia menemaninya, Ali keliling dunia. Bertemu tokoh dunia. Dari Paus hingga Saddam Husein. Dari Mandela hingga Harmoko. Susah sekali sekarang mencari sosok seperti Muhammad Ali. Di profesi apapun. Padahal sekarang zaman relatif lebih bebas untuk berbicara. Tapi yang terjadi banyak justru yang memilih diam, cari aman, atau ikut arus. Ketika banyak orang berbicara A, maka semua bilang A. Tidak ada yang keberatan. Tanpa disaring. Begitu mereka berpindah menjadi B, maka kita pun ikut menjadi B. Selalu begitu. Terlalu biasa. Gampang ditebak. Tidak ada kejutan. Yang justru itu biasanya nanti akan cepat dilupakan.

Iklan

5 thoughts on “I Shall Be Free No. 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s