Penting dan Kurang Penting

DIPIKIR dulu sebelum bicara.

Petuah ini barangkali sudah disuarakan berjuta kali sampai sekarang, baik sebelum maupun sesudah sebuah kejadian. Meski begitu, tetap saja terasa cukup sulit untuk benar-benar dijalankan dengan penuh kesadaran. Kecuali oleh orang-orang yang dari sananya pendiam, cuek, atau mereka-mereka yang malah malas menggubris keadaan.

Sulit bukan berarti mustahil, karena hal ini seharusnya bisa dilatih sambil belajar seiring pertambahan usia. Ya setidaknya jangan sampai keceplosan. Mengucapkan sesuatu yang tanpa sadar bakal sangat disesali kemudian. Baru disadari belakangan. Syukur-syukur bila nantinya bisa jadi orang baik sekalian. Ketika tidak hanya belajar menahan ucapan, tetapi niat atau kehendak untuk berucap yang kurang mengenakkan tidak pernah singgah dalam pikiran.

Kalau sudah telanjur, biasanya respons lanjutan terbagi jadi tiga. Ada yang langsung merasa bersalah dan berusaha meminta maaf dengan sepenuh hati, ada yang memilih bersikap masa bodoh dan bersiap untuk apa yang akan terjadi kemudian, namun ada pula yang justru makin kencang menjaga gengsi dan harga diri. Biar salah, yang penting nyaring, supaya bisa meredam atau mengalahkan yang lain.

Bisa dibayangkan, akan ada berapa banyak konflik, drama, pertikaian, kesalahpahaman, kegagalan kemarahan, kebencian, dendam, kekeliruan, iri hati, kekecewaan, patah semangat, penganiayaan, pembunuhan, dan segudang hal-hal buruk lain yang bisa dicegah kemunculannya apabila nasihat “dipikir dulu sebelum bicara” sungguh-sungguh dilaksanakan. Sayangnya, jarak antara dada ke mulut lebih dekat dibanding dada ke kepala. Jadi, belum sempat dipikirkan baik buruknya, luapan perasaan sudah terlebih dahulu terkeluar menjadi kata-kata. Dan kembali lagi, penyesalan selalu muncul belakangan. Seolah-olah mengejek sambil mengatakan: “gua bilang juga apa…”

Saat ini, situasinya sudah berkembang cukup jauh. Kita tengah hidup dalam masa ketika semua kanal untuk menyampaikan pendapat pribadi terbuka sangat lebar. Sehingga nasihat “dipikir dulu sebelum bicara” lebih cocok apabila dimodifikasi menjadi “dipikir dulu sebelum berkomentar”. Tidak hanya dengan lisan, melainkan tulisan dan produk-produk visual lainnya yang bisa diabadikan dengan mudah lewat kecanggihan teknologi bernama cuplik layar alias screen capture. Salah satu momok terbesar dalam ranah media sosial.

13239871_10153661393038004_3371746089244817353_n
Salah satu meme terkampret yang beredar belakangan ini. Setelah bikin ini, apakah si pembuat merasa sudah cukup hebat? Diambil dari Facebook.

Apa yang harus dilakukan untuk menghindari ini?

Bisa dimulai dari pemahaman-pemahaman dasar yang sederhana, kendati pada kenyataannya agak susah untuk dipraktikkan.

  • Tidak semua hal perlu ditanggapi

Silakan dipikir, dipertimbangkan, dan tanyakan kepada diri sendiri: “mengapa aku harus ikut mengomentari ini?” Apakah membuahkan alasan yang cukup kuat untuk dituruti?

  • Tidak semua hal penting untuk ditanggapi

Silakan dipikir, dipertimbangkan, dan tanyakan kepada diri sendiri: “apa pentingnya aku harus ikut mengomentari ini?” Apakah memang sepenting itu?

  • Tidak semua hal bermanfaat untuk ditanggapi

Silakan dipikir, dipertimbangkan, dan tanyakan kepada diri sendiri: “apa manfaatnya aku harus ikut mengomentari ini?” Adakah manfaat yang akan dicapai?

  • Tanggapan kita belum tentu tepat

Silakan dipikir, dipertimbangkan, dan tanyakan kepada diri sendiri: “apakah pendapat dan tanggapanku sudah tepat?” Yakin sudah benar-benar tepat?

Penting atau kurang penting? Terserah Anda saja, yang penting (semestinya) sudah dipikirkan matang-matang.

[]

Iklan

One thought on “Penting dan Kurang Penting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s