Kasmaran 2.0

Satu selfie-mu di Instagram, membawaku pelesir ke taman khayalan di mana aku bisa memilikimu.

Satu lope-lope darimu di Path, untuk beberapa detik duniaku tersenyum dan hatiku bersyukur.

Satu like darimu di Facebook, membuat semua temanku yang lain adalah kenihilan.

Satu RT darimu di Twitter, bisa langsung membuatku merasa pendampingmu.

Menggenggam ponsel pintar setiap saat, adalah harapanku untuk menggenggammu suatu saat.

Seadainya saja aku tak punya rasa malu, pasti sudah kusampaikan langsung di timelinemu.

Seandainya saja aku tak takut ditolak, pasti sudah kuutarakan via Direct Message tentang hasratku.

Seandainya saja aku percaya diri, mungkin sudah kupinta kau setting private semua akun media sosialmu.

Lalu mengapa tak juga kulabrak saja diriku sendiri dan melakukan segalanya?

Mengapa tak kututup rasa malu ini dan mengutarakan segalanya?

Mengapa tak kutumbuhkan percaya diriku agar dirimu jadi milikku?

Ada sesuatu di setiap postingan selfiemu yang seolah menyampaikan tak ada tempat lagi untuk aku.

Pandangan dan pendapatmu di Facebook yang seolah mengatakan kau tak membutuhkan siapa-siapa.

Apalagi ternyata lope-lope darimu di Path, tak eksklusif alias dibagi rata.

Kadang aku ingin mengenalmu lebih jauh.

Tapi suara batinku mengkhawatirkan akankah rasa ini hilang kalau aku mengenalmu lebih jauh?

Mungkinkah semua tentangmu di benakku adalah rekaan aku saja?

Dan kenyataannya berbeda 178 derajat?

Lalu jangan-jangan aku bukan jatuh cinta padamu.

Jangan-jangan aku jatuh cinta pada bayangan tentangmu yang kubuat sendiri.

Selalu ada pertanyaan di hati,

apakah kamu mengecek linimasa media sosialku sesering aku mengecek linimasa media sosialmu?

Ini penting, karena kalau tidak seimbang, tandanya aku bertepuk sebelah tangan.

Aku begini bukan tanpa alasan!

Terakhir kau posting sedang makan pizza, tepat 4 hari setelah aku posting ingin makan pizza.

Waktu kau selfie mengenakan baju merah, persis 75 jam setelah aku posting selfie mengenakan baju merah juga.

Dan saat kamu berlari, trackmu membentuk lingkaran yang merupakan inisial namaku O.

Kalau kau memang tak ada perasaan apa-apa padaku, mengapa kau lakukan ini semua?

Kalau memang tak kau sengaja, bukan kah itu berarti alam semesta yang mengatur ini semua?

Alam semesta, kekuatan besar yang ikut mengatur linimasa Path, Intagram, Facebook dan Snapchat dan yang terakhir Steller.

Sebenarnya aku tinggal menunggu saja, kapan kau sadari tanda-tanda dari alam semesta yang disampaikan via media sosial.

Yang pasti untuk saat ini, setiap postinganmu adalah titah yang tak hanya kucatat tapi juga kuresapi.

Ingat waktu kamu memposting “makan siang di mana ya enaknya? bingung!”

Berhasil membuatku menganalisa dan mengkhayatinya selama 4 hari.

Mengapa kau bingung soal makan siang? Apakah artinya kau membutuhkan seseorang pendamping yang bisa memberikan panduan hidup? Semacam panutan? Ah aku ingin dan bisa sangat melakukan itu semua. Akan kutuntun kau ke jalan kebenaran yang membahagiakan.

Lalu soal makan siang, mengapa bukan makan pagi atau makan malam? Apakah karena siang kamu sendirian? Atau merasa kehilangan arah di siang hari? Haruskah kudatangi dirimu siang hari? Mungkinkah kamu penggemar kencan siang? Sex After Lunch? Owh wow! Terlalu seksi bahkan untuk aku bayangkan.

Lalu bingung. Mengapa kau ingin orang tau kau sedang bingung? Apakah ini ekspresi manjamu seperti anak masa kini “atuna inun”? Aku sangat ingin memanjakanmu. Percayalah, aku bisa membuatmu jadi orang paling dimanja di dunia.

Dari check-in mu kupelajari dan kutelusuri, Blok M Plaza adalah tempat favoritmu untuk membeli baju kerja. Tapi kalau nongkrong kamu lebih suka di Pacific Place atau Plaza Senayan. Gym di Lotte Avenue. Kau tidak beribadah. Karena Jumat siang, kau makan siang santai bersama teman kantor. Minggu kau lebih sering menghabiskan waktumu melakukan perjalanan kuliner ke Kota.

Sebenarnya aku ingin bilang ke kamu, warna biru membuat kulitmu lebih kusam. Tapi aku tak tega melakukannya karena warna biru mengingatkanmu pada pantai. Tempat berlibur favorit yang kau lakukan setahun 4 kali. Kau sangat ingin sekali ke Pulau Tambelan. Ini aku ketahui saat kau posting foto Pantai Pandawa liburan kemarin.

Aku pun kurang suka dengan sepatumu. Bisa lebih up to date sebenarnya. Tapi kuingat lagi kau pernah posting kalau membeli tas lebih prioritas ketimbang sepatu bagimu. Mengatur uang telah kau serahkan sepenuhnya kepada seorang Financial Planner terkenal di Twitter. Kau dan dia berjanji untuk rutin bertemu setiap dua bulan untuk memantau hasil investasimu.

Maklum, saat ini kau sedang berencana membeli satu unit apartemen. Lokasinya sudah kau seleksi, Kalau gak di Gatot Subroto, Kemang, atau Karet Belakang. Ada beberapa unit yang sudah kau taksir. Saat kau posting di Instagram apartemen idolamu. Ada satu unit yang kau kurang suka tapi memiliki view yang bagus. Aku tau dilemamu ini dari postinganmu di Path.

Demikianlah, kau mengisi setiap hariku. Walau kita belum pernah bertemu. Apalagi berbincang akrab. Aku yakin, Alam Semesta yang telah mendekatkanmu padaku. Semoga alam semesta pula yang mendekatkanku padamu.

Amin.

shutterstock_143530636

 

Posted in: @linimasa

5 thoughts on “Kasmaran 2.0 Leave a comment

Leave a Reply