Googling Sambil Memeluk Guling

Akhirnya, setelah sekian lama, saya menyanggupi saran beberapa teman untuk memulai berkencan lagi. Ini termasuk saran dari semua teman sesama penulis di Linimasa, yang kerap memborbardir grup obrolan dengan nasihat untuk mulai membuka diri terhadap urusan romansa. Well, I just put that mildly in a PG-rated term.

Salah satu teman, di luar kelompok penulis di situs ini, berhasil mengenalkan saya kepada temannya. Setelah bertukar nomer ponsel, kami mulai berbicara, atau texting. Janji temu ditetapkan tak lama kemudian.
Lalu kami pun menunggu sampai hari bertemu itu datang.

Di sinilah ada sedikit keanehan yang saya sadari, karena sengaja saya lakukan.
Selama waktu dari kenalan sampai akhirnya bertemu, saya tidak mencari tahu informasi apapun tentang orang ini.
Dalam kata lain, I don’t Google this person at all.

Entah apa yang mendorong saya melakukan ini. Padahal, dulu-dulu, begitu tahu nama orang yang sedang dicari, langsung meng-Google nama orangnya hanya dalam hitungan detik. Dan dalam sekejap, informasi tentang orang ini, terutama akun Facebook dan LinkedIn, pasti terpampang di layar laptop atau ponsel kita. Bahkan sejak penggunaan Google belum semarak ini.

Sejak internet dan search engine ditemukan, rasanya tidak ada orang yang tidak bisa dicari di dunia (maya) ini.

(Courtesy of nymag.com)
(Courtesy of nymag.com)

Apalagi “godaan” kemudahan informasi tentang jati diri orang baru ini sangat mudah ditemukan.
Meskipun nomer ponsel belum saya simpan di daftar kontak, namun namanya sudah muncul ketika dia mengirim pesan di WhatsApp. Lalu dia pernah memberikan informasi akun Instagram-nya. Tetap saya menahan diri untuk tidak melakukan investigasi apapun.

Pertahanan ini sedikit jebol ketika secara tidak sengaja saya menemukan akun Facebook-nya, karena dia meninggalkan komentar di postingan teman saya, yang rupanya berteman juga dengan orang ini.
Untungnya, online exposure sudah cukup sampai di situ.

Sampai akhirnya datanglah hari di mana kami bertemu.

Pembicaraan berjalan lancar. Kebetulan dia banyak berbicara, sehingga cukup mudah buat saya untuk mencari tahu tentang pekerjaan, kesukaan, dan apapun yang membuat pembicaraan berjalan terus tanpa henti. Tentu saja ada dead air dan awkward silence, tapi tidak berlangsung lama. Ini terjadi saat saya berpikir keras sambil mendengarkan dia berbicara, untuk tahu ke mana arah pembicaraan ini harus berjalan selanjutnya.

Apakah proses menahan diri untuk tidak meng-Google lawan bicara sebelum bertemu ini berhasil?
Dalam kasus saya, jawabannya adalah ya dan tidak.

(Courtesy of datenurse.com)
(Courtesy of datenurse.com)

Berhasil, karena ada banyak informasi yang baru saya dapatkan, dan semuanya terasa hidup, karena dituturkan langsung dengan raut muka dan gerak tubuh yang ekspresif. Sehingga saya tahu, informasi mana saja yang berarti buat orang ini.

Tidak atau kurang berhasil, karena begitu banyak informasi yang saya terima dalam satu kali pertemuan, sehingga saya merasa sedikit overwhelmed and overloaded. Harusnya kemarin-kemarin menyempatkan Google dulu, paling tidak membaca temuan di halaman pertama Google atas pencarian namanya, atau 20 foto pertama di Instagram-nya untuk sekedar bekal informasi dan sedikit tahu tentang orangnya. Tidak hadir dengan minimum information. Or worse, blank.

Pertemuan berakhir dengan baik. Dia pulang ke rumah, saya pergi untuk meeting pekerjaan. Belum ada janji temu lain.
Sepertinya masih harus menghabiskan malam hari dengan guling sambil Googling apapun yang ingin dibaca sebelum tidur.

Meskipun saya dan Anda tahu bahwa guling bukanlah teman tidur yang ideal.

(Courtesy of today.com)
(Courtesy of today.com)
Iklan

14 thoughts on “Googling Sambil Memeluk Guling

  1. my headhunter, instead of cariin kerjaan baru buat aku, malahan ngenalin aku ke salah satu team nya dia. ceritanya ngejodohin.
    dia udah promosiin ini itu, bahkan dicari kecocokan berdasarkan zodiak, hahaaa..
    aku yaaa googling laaah!!
    googling/facebook/instagram itu mungkin semacem “don’t judge the book by it’s cover”. siapa tau aslinya gak seperti di socmed. tapi buat aku sih penting. aku sih emang gak tertarik dari awal. tapi ya-okelah-mari-dicoba.
    lalu wasapan dulu.
    lalu ternyata dari kira-kira 2-3 minggu ngobrol di wasap, aku gak suka. so, judge the book by it’s cover versi aku, ternyata benar.
    “ya kan buat temenan aja dulu”
    buat temenan juga harus klik lah, at least ada one thing in common.
    abis itu belum pernah ketemu.
    dan gak minat ketemu.
    life goes on…
    kerja lagiii.. main lagiii.. yuk mari ah..

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s