[Suara Pembaca] “Situs Web Sebagai Hidangan”

 

Waktu menunjukan pukul 5 pagi, saya terbangun dari aktivitas manusia pada umumnya. Bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan kewajiban 2 raka’at. Setelah mengakhiri dengan salam, lantas saya mengambil gawai. Menjalankan ibadah selanjutnya. Bukan! bukan untuk membaca al-qur’an versi digital. Melainkan membuka opera (web browser kesayangan kita semua) dan membaca berita.

Detiksport & okezone, dua situs portal berita yang pasti mengawali ibadah membaca pagi saya. Sehingga disadari atau tidak, dua portal tersebut pasti saya konsumsi. Layaknya hidangan yang disajikan setiap pagi hari. Mubazir dan basi jika tidak dinikmati.

Sepakbola menjadi hidangan pembuka dengan kunyahan pertama. Informasi terbaru mengenai sepak bola sangat gurih untuk dibaca-baca. Dimulai dari sang idola Lionel Messi sampai tetangga berisik si Manchaster City.

Bumbu-bumbu yang renyah terus saya nikmati. News, lifestyle, travel, bola, selebritis, politik, techno, food, dan kanal lainya saya lahap satu per satu secara pelan-pelan. Jika hidangan utama dirasa sudah cukup bikin otak kenyang, tab yang berjejer pun ditutup satu per satu.

Istrahat sejenak, kemudian melanjutkannya lagi.

Sama seperti halnya kalangan bangsawan. Saya juga butuh hidangan penutup alias pencuci mulut. Hidangan penutup biasanya mempunyai rasa manis dan menyegarkan, terkadang ada yang berasa asin atau kombinasinya.

Mojok.co dan Linimasa, saya kira dua situs ini memiliki ciri demikian.

Dua situs yang harus dilahap setelah menyantab berbagai sajian utama yang remeh temeh, embuh, atau judul dibikin bombatis yang tujuannya cuma mengundang klik.

Hidangan penutup itu ada 2 jenis, yaitu hidangan penutup panas dan hidangan penutup dingin.

Situs Mojok saya jadikan sebagai hidangan penutup panas. Tentu saja saya lahap terlebih dahulu. Situs yang lahir sejak tahun 2014 hingga sekarang menjadi kiblat untuk membaca berita atau isu yang sedang hangat diperbincangkan di dunia yang sering kita sebut maya. Situsweb yang benar-benar nakal dan banyak akal. Nyinyir, sindir, sekaligus jenaka karena satir. Rasanya agak sulit tak melahab menu pagi yang telah diracik oleh kokinya mojok.

Pernah saya mengirim beberapa resep ke dapur mojok. Sialnya resep-resep yang saya kirim ke dapur mojok tak pernah dipakai oleh juru kokinya. Ah sudahlah, mungkin bukan rejeki anak bapak Budi…. Padahal tiap harinya sering satu dapur sama kokinya mojok. Heheh…

Untuk hidangan penutup dingin ndak usah disebutkan lagi. Situs/blog berbagi cerita yang luar biasa. Menginspirasi meski terkadang mboeseni. Cukup satu hari satu menu disajikan seperti halnya Mojok. Tapi, menu yang disajikan di sini sangat khas, konsisten, jujur dan apa adanya. Menceritakan kehidupan tanpa banyak bumbu drama. Memiliki 7 koki. Masing-masing memiliki menu spesialnya sendiri. Dari Senin hingga Minggu selalu ada menu yang disajikan secara spesial oleh peraciknya.

Jujur, saya tidak pernah punya koki idola di linimasa, tapi jika diminta menyebut menu yang enak, itu ada di hari Rabu & Sabtu. J

Hidangan yang disajikan linimasa cukup berhasil membuat saya berpikir bahwa hidup harus dilahap dengan sepenuh hati.

Begitu tahu linimasa membuka kesempatan dari kontributor untuk turut serta menulis. Rasanya senang sekali sekaligus kecewa, kecewa kalau akan merusak ciri khas dari linimasa sendiri. Dan saya sebagai penikmat setia butuh alasan kuat dibalik inovasi yang dilakukan oleh kepala kokinya.

Demikianlah kiriman resep dari saya. Semisal dipakai tentu bahagia rasanya bisa berbagi, Apabila tidak ya paling meratapi nasib dan selamanya hanya menjadi pembaca setia saja.

[]

catatan:

Surat Pembaca Linimasa ini ditulis oleh Frisa Pangestiko, Keturunan logat jawa medok | Social Media Strategis Jogjastudent.com. | Lagi nongkrong di instagram @anaktirisideproject. Bisa dicolek melalui akun twitter/instagram : @Cowoberponi

Jika tertarik menjadi kontributor, dapat membacanya disini.

 

Posted in: @linimasa

Tagged as:

2 thoughts on “[Suara Pembaca] “Situs Web Sebagai Hidangan” Leave a comment

Leave a Reply