Berani Patah Hati

 

HATI itu memang bukan batu prasasti, yang dipahat dan diukir sedemikian rupa untuk tetap tegak berdiri hingga beratus-ratus tahun lamanya. Tetapi hati ibarat lautan, yang saking luasnya mampu menampung begitu banyak kesan atas kenangan. Yang menyenangkan, yang menyakitkan. Terkumpul di satu ceruk yang sama, yang membesar, membesar, dan terus membesar seiring waktu.

Semuanya kekal, berayun, digiring angin emosi dan bergejolak, menjadi gemuruh ombak yang menyapu apa saja, terhempas, lalu pecah.

Lautan yang bisa dilihat saat bepergian jauh, yang sebaiknya hanya ditengok serta dinikmati panoramanya selewat dua lewat, kemudian bersiap diri dan kembali melanjutkan perjalanan. Kecuali kalau mau jadi nelayan, perenang, bajak laut, atau bersedia untuk tenggelam.

Hati manusia itu kuat, sekaligus rapuh. Fragile and vulnerable. Mirip es batu, yang sekeras-kerasnya mampu bikin kepala benjol, tapi tetap bisa meleleh juga ketika didekap kehangatan. Oh iya, hati manusia juga mirip Ting-ting Gepuk Kacang. Manis dan menyenangkan, tapi gampang ambyar, kemrotol berhamburan. Soalnya habis digepuk-gepuk, alias dipukul-pukuli sampai hancur.

Sumber: Pinterest

Hati tak pernah absen dilibatkan dalam kehidupan manusia barang sedetik pun. Selalu ada dan terasa keberadaannya saat mengasihi, saat mencintai, saat iba, saat bersimpati, bahkan juga saat bertindak kejam dan biasa disebut “sampai hati” sambil mengurut dada.

Termasuk saat patah.

Patah hati.

Hatinya patah.

Patah namun setidaknya masih ada, walaupun sudah enggak utuh lagi. Penuh gurat bekas luka. Penuh botel, seperti biji kelereng yang tidak lagi mulus setelah berulang kali ditembakkan dan bertubrukan. Atau seperti gelas-gelas kaca di Warteg yang cacat setelah berulang kali jatuh di pencucian. Bisa juga mirip mozaik kain perca hasta karya pelajaran seni rupa.

Hanya saja sayangnya, manusia seringkali bersikap tidak adil terhadap hatinya sendiri. Gembira ria dan begitu bersukacita dalam cinta dan suasana hati yang berbunga-bunga, tapi bermuram durja dan mengutuk suasana hati yang duka lara. Semua ditumpahkan pada hati yang sama, yang satu-satunya. Padahal, sang hati tak pernah meminta untuk dihiasi dengan kembang api asmara, yang terbakar indah sesaat lalu hilang menyisakan abu dan asap yang rada bau.

Keinginan itu mah mau-maunya si pemiliknya saja.

Mari bermain sejenak dengan dekonstruksi. Jatuh hati dan patah hati sama-sama menempatkan hati pada titik yang rentan dan rawan. Beda tipis, tergantung kesiapan dan ekspektasi.

Ketika jatuh hati, hati kita jatuh dengan harapan disambut oleh rengkuhan telapak tangan hangat yang tepat. Ketika tak tertangkap, atau namun malah dijatuhkan lagi dengan sengaja dan keras, si hati pun patah, pecah, berkeping-keping, berserakan.

Pada kenyataannya, diri kita sendiri, para pemilik hati yang memutuskan untuk menjatuhkan hati. Kita juga yang menentukan, siap atau tidak siap dengan rasa sakit yang bisa ditimbulkan. Ya sudah, dibuat biasa aja. Mau digimanain lagi? Telanjur jatuh, telanjur patah, mesti dipungut untuk direkatkan dan disimpan kembali.

Hati yang mulus, bukan hati penyintas. Hati yang mampu bertahan, dan selalu ada untuk terus diberikan.

Yasudadeh. Semua orang tentu tidak ingin patah hati (well, hampir semua sih. Karena pasti ada beberapa di antaranya yang enggak ambil peduli dengan perasaannya sendiri) karena rasanya yang tidak menyenangkan. Akan tetapi, cobalah sekali-kali bersahabat dengan rasa patah hati. Biar akrab dan tidak kaget saat berjumpa dengannya kembali. Supaya kuat, dan sanggup menyambut rasa patah hati dengan sapaan hangat: “we meet again, my old friend.

Mau percaya atau tidak, sakit hati terasa begitu berat saat kita tidak mau menerimanya. Sebaliknya, apabila kita bisa berdamai dengan sakit hati, tidak ada lagi rasa sakit yang tersisa. Paling ya cuma sedikit perasaan kurang menyenangkan, dari skala digigit buaya muara sampai tergigit lidah sendiri. Kemampuan bertahan yang terus tumbuh sesuai kedewasaan. Jangan sampai makan hati lah. Selain kanibal dan cuma satu-satunya, kayak enggak ada “makanan” lain aja.

Satu paket. Kalau berani jatuh hati, ya harus berani patah hati.

Sehabis patah hati, yuk jatuh cinta lagi.

[]

Iklan

20 thoughts on “Berani Patah Hati

  1. Iya, Om Gon, aku baru saja menyapa rasa patah hati “we meet again, my old friend”. Ternyata bila kita mau menerima dan mengakrabkan diri sama patah hati rasanya ga buruk buruk amat ya.

    Suka

  2. Pernah suatu masa jatuh cinta begitu dalamnya sama seseorang jadi ketika patah hati, hatinya hancur-hancuran. Dalam masa patah hati itu, saya nggak berusaha untuk sok tegar atau buru2 sembuh. Pasrah aja. Anehnya, dalam perjalanan patah hati itu saya jadi menemukan dan belajar banyak hal. Saya jadi lebih mengenal diri saya sendiri. Mungkin karena dalam masa berduka itu saya jadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan diri sendiri. Dari situ saya belajar untuk tidak kapok untuk jatuh cinta lagi sedalam2nya meski saya udah tahu resikonya kalau patah hati lagi.

    Tapi sungguh saya takjub bagaimana sebuah patah hati bisa mendewasakan diri saya seperti itu. Seperti yg pernah dibaca lupa di mana : you are what your last heartbreak done to you.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s