KUKURUYUUUK!!!

image

Sejak mulai bisnis rumahan berjualan nasi ayam 4 tahunan yang lalu, lumayan banyak kejadian yang mengiringinya. Ada yang lucu, menegangkan, mengharukan dan banyak pula yang mengesalkan. Sempat terpikir untuk menerbitkannya dalam sebuah buku waktu mendapat tawaran dari penerbit. Kemungkinan itu belum tertutup, tapi pembaca linimasa.com yang setia dan ketje bisa membacanya lebih dahulu. Selain bisa kasih review juga. Supaya waktu beneran diterbitkan jadi buku, ada yang mau beli lah hehehehe.

Cerita-cerita ini akan berkelanjutan. Semoga sebulan sekali. Karena sebagian besar adalah kisah nyata, dan demi melindungi pelakunya, maka nama asli diganti. Tentunya dengan sedikit menutupi bagian yang kurang pantas dan anonoh, dan sedikit dempulan supaya ceritanya mulus.

  1. Istri Ngidam

Namanya bisnis rumahan, kapasitas pun terbatas. Sehingga kami menganut pre order, sehari-duahari sebelumnya. Suatu malam saat sedang jogging, seorang suami nelpon mau pesan untuk saat ini juga. Waduh, gak bisa dong. Kapan masaknya. Tapi suami itu kekeuh pokoknya harus sekarang karena ini keinginan istrinya yang sedang ngidam. Bayinya bisa ileran sampai dewasa, katanya kalau permintaan istrinya tidak dikabulkan.

Saya menyerah dan kami membuat kesepakatan. Sang suami saya minta untuk datang ke tempat saya membawa ayam kampung yang sudah dipotong 8. Yang akan saya gunakan untuk mengganti ayam pesanan buat besoknya. Suami menyanggupi. Sekitar jam 12:30 tengah malam, sang suami pun datang. Saya persilakan saja menunggu di ruang tamu.

“Waktu memasak kurang lebih 1,5 sampai 2 jam ya Pak, jadi Bapak santai-santai saja… Silakan menonton tv, atau tidur juga boleh” kata saya sambil memulai menyalakan kompor.

Karena jarak ruang tamu dan dapur hanya 10 langkah saja, Suami tersebut memilih untuk berbincang dengan saya daripada nonton tv. Dari perbincangan itu, ada dua fakta yang membuat malam itu tak terlupakan. Suami itu… demi membelikan nasi ayam saya… rela nyetir dari Bandung ke Jakarta.

“Bapak ini dari Bandung? Nyetir ke Jakarta? Buat beli nasi ayam aja”?

Suami mengiyakan. Ok…. Luar biasa…

“Kapan istrinya makan nasi ayam ini”?

“Belum pernah”.

Egimana-gimana… Belum pernah nyicipin tapi bisa ngidam? Karena ini anak kedua, Suami dengan fasih menjelaskan bahwa hal itu mungkin-mungkin saja. Waktu istrinya mengandung anak pertama, sang istri ngidam makan telor bebek yang belum pernah diicip sebelumnya. Saya hanya mengangguk-angguk sambil terus masak sampai selesai.

“Langsung balik ke Bandung, Pak?” tanya saya sambil menyerahkan nasi ayam yang sudah matang.

“Iya nih, paling mampir ke Sevel sebentar dekat rumah. Istri minta dibelikan kapas. Gak tau juga buat apa…”

Saya menutup pintu rumah sambil senyum-senyum… “ada untungnya jadi lajang”.

2. NO SALT NO SUGAR

Suatu ketika saya mendapat pesanan dengan pesan “no salt no sugar”, tidak boleh menggunakan garam atau pun gula. Sama sekali. Setelah memutar otak agar rasa tetap lumayan nikmat, pesanan saya sanggupi. Setelah dikirim pertama saya mendapatkan pesan dari pemesan “terima kasih, anak saya suka sekali nasi ayamnya. Lahap makannya. Boleh pesan rutin dua hari sekali?” Wow! Mau pesan rutin? Boleh pake banget lah! “Antarnya ke RS NNV ya, kamar 4567, nama pasiennya Bimo Aryadi”.

Karena kebetulan lokasi rumah sakit tersebut dekat sekali, hampir setiap dua hari saya pun jalan kaki mengantarkan nasi ayam pesanan. Awalnya diterima oleh Asisten Rumah Tangganya, kemudian Tantenya, kemudian Ayahnya… Dari merekalah saya baru tau kalau Bimo Aryadi adalah anak berusia 11 tahun. Sampai terakhir diterima oleh Ibunya sendiri. Seperti sudah berkenalan lama, Ibu itu langsung memeluk saya. Akrab sekali. Di ruang tunggu kami berbincang sebentar.

Ibu itu bercerita mengenai anaknya yang mengidap kanker darah, atau leukemia. Dan sebenarnya, banyak dokter yang sudah memperingatkan akan harapan umurnya yang tak lama lagi. Mendengar pesan dokter itu, Ibunya mengambil keputusan untuk memberikan semua yang disukai oleh anaknya. Supaya kalau sautu saat anaknya pergi, bisa dengan bahagia. Salah satunya ya nasi ayam yang dimakannya saat pesta ulang tahun di rumah temannya. “Padahal mungkin juga udah gak bisa merasa ya, mulutnya penuh sariawan. Tapi setiap disuapin pelan-pelan dia menggangguk. Jadi saya semangat. Ya sisanya kami yang abisin”. Pulang dari RS, saya limbung.

Siang saat sedang meeting saya mendapatkan pesan WA yang diawali dengan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un dan ditutup dengan ucapan terima kasih serta undangan untuk menghadiri tahlilan. “Kali ini gak usah bawa nasi ayam ya, makan di tempat kami”. Sampai sekarang kami masih berhubungan dan sesekali Ibu tersebut masih memesan nasi ayam tetap dengan pesan “no salt no sugar”.

3. Rezeki Pak Sardi

Menjelang Hari Raya, banyak pesanan yang dikirim sebagai bingkisan. Satu pemesan memberikan daftar penerima dan alamat penerima. Dan kurir andalan, Pak Sardi, emang paling megang soal jalanan Jakarta. Kami pun mengatur rute agar semua diantar dengan rute paling efisien.

Dua hari menjelang Lebaran, Pak Sardi berangkat lebih pagi. Kiriman hari itu lumayan banyak. Tak biasanya, Pak Sardi menelepon dari jalan.

“Pak, kiriman yang Kebon Sirih, rumahnya kosong. Kata satpam udah pulang kampung. Gimana nih Pak?” 

“Sebentar saya tanyakan pengirimnya dulu ya Pak” jawab saya sambil menghubungi pengirim. Karena pengirim tak bisa dihubungi, saya mengambil keputusan agar Pak Sardi melanjutkan saja antaran ke alamat lainnya dulu. Nanti perihal Kebon Sirih kita selesaikan setelah saya berhasil menghubungi pengirim.

Menjelang sore, rupanya ada 3 alamat yang penerimanya sudah tak lagi di rumah tersebut. Kemungkinan besar sudah pulkam. Pak Sardi mengaso sambil menunggu instruksi sementara saya terus berusaha menghubungi pengirim.

Akhirnya sukses juga! Pengirim itu membalas WA “owh tidak apa-apa, kalau rumahnya sudah kosong nasi ayam pesanan saya buat kurirnya aja. Atau kalau mau diantar ke mesjid terdekat situ juga boleh. Atau apa saja terserah. Maaf baru balas, saya lagi di kampung susah sinyal hehehe”.

Keesokan harinya Pak Sardi datang lagi dengan senyum luar biasa lebarnya.

(Bersambung bulan depan…)

Posted in: @linimasa

29 thoughts on “KUKURUYUUUK!!! Leave a comment

      1. istri memang sedang hamil, dan saya juga tinggal di bandung. tapi kalo disuruh nyetir bandung jakarta bandung.. mending cheffnya aja saya bawa ke bandung huahahahahhaha

  1. Ceritanya seru….
    Pengen coba nasi ayam nya…. hehehe
    Klo pesan kaos dan tas gambar ayam apa bisa???

Tinggalkan Balasan