Kebenaran Ada di Dalam Akar

Korelasi ndak sama dengan kausalitas.

Rabu lalu whatsapp grup kantor rame dengan ucapan bela sungkawa meninggalnya salah satu pengantar dokumen di kantor. Serangan jantung dengan meninggalkan istri yang sedang hamil 7 bulan. Iya, bakal calon anak pertama. Pak Mino, selama ini selalu terlihat sehat dan ceria, tiba-tiba tersiar kabar sudah ndak ada. Sialnya pas lagi libur panjang gini. Sebagian melayat. Sebagian besar lainnya terus membahas soal almarhum cukup melalui gawai di genggaman. Lalu kami merembet membahas soal jam kerja, tunjangan kesehatan, hingga asuransi jiwa.

Semoga tak terhenti dalam kolom statistika. Bagaimana nasib keluarga dengan tulang punggung yang meninggal dunia? Tentunya walaupun berat diucapkan namun dapat dipastikan akan menambah angka kemiskinan baru.

Lalu saya teringat soal tulisan (Steven D.) Levitt yang baru, “Think Like a Freak”. Bahwasanya kita terbiasa untuk menghabiskan waktu membahas gejala tanpa memedulikan penyebab utama.  Bahwa kemiskinan itu adalah kurang uang dan ndak punya pekerjaan, itu adalah gejala. Namun bukan penyebab utama. Tapi pemerintah dan negara, dengan kemalasan berpikir akan melakukan “pengobatan gejala tersebut”. Berikan bantuan dana sosial, berikan lapangan pekerjaan secara padat karya, berikan jaminan asuransi, dan banyak program seketika lainnya. Ini fasih sekaligus dangkal. Membagikan uang dan makanan ke tempat-tempat yang miskin dan kelaparan.

Butuh pemikir sejati untuk melihat masalah yang sudah dilihat orang lain dan menemukan jalur pemecahan baru.

Jika yang dilakukan adalah sekadar memberikan uang, baik tunai, maupun secara subsidi banyak barang-jasa yang diperlukan, maka ini sudah dilakukan puluhan tahun oleh pemerintah dan kelompok-kelpompok tertentu. Namun hasilnya akan sama, di tempat yang sama dengan masalah yang sama.

Miskin itu gejala, dari ketiadaan perekonomian yang fleksibel dan dibangun di atas lembaga politik, sosial, dan hukum yang fleksibel. Miskin tidak hilang dengan diberikan uang. Kelaparan tidak musnah hanya dengan memberikan makanan. Di negara yang lembaga politik dan ekonominya dibangun untuk melayani selera sedikit orang yang korup daripada rakyat banyak, makanan seringkali ditahan dari orang yang paling membutuhkan. Tanpa sadar bahwa perilaku korup adalah akar dari kemiskinan dan kelaparan. Sayangnya, memberantas korupsi jauh lebih sulit daripada menyebarkan makanan.

Bahkan ketika kita dapatkan akar masalah, nyatanya hal tersebut tetap sulit diwujudkan. Memberantas kemiskinan dan kelaparan dengan cara menata rumah tangga negara menjadi rumah bagi semua orang tanpa memberikan peluang bagi korupsi.

Sama halnya ketika kita bicara kejahatan. Apakah berhubungan dengan taraf hidup masyarakat? Ataukah berkaitan dengan laju pertumbuhan ekonomi? Atau bicara dengan adanya peredaran senjata tajam dan senjata api yang bertebaran dimana-mana? Atau perdagangan narkoba? Kurangnya ketegasan penegakan hukum?

Ternyata aturan kepemilikan senjata secara lebih ketat, lonjakan ekonomi dan pengenaan hukuman mati masuk akal menjadi penyebab berkurangnya angka kejahatan. Namun faktanya tidak. Ketika krisis ekonomi tahun 2008-2010, tingkat kejahatan di amerika menurun, bahkan lebih rendah dibandingkan angka statistik ahun 1960-70.

Banyaknya petugas polisi, lebih banyak orang dijebloskan ke penjara dan semakin ketatnya perdagangan narkoba ternyata sangat berhubungan dengan menurunnya angka kejahatan, namun tak secara signifikan memengaruhi turunnya angka kejahatan ini.

Berdasarkan penelitian Levitt dan (Stephen J.) Dubner, percaya-ndak-percaya, dengan adanya aturan legalisasi aborsi di amerika tahun 1970-an, maka tingkat kejahatan menurun drastis di 30-tahunan setelahnya. Teori tersebut janggal namun sederhana. Lonjakan aborsi berarti lebih sedikit lahirnya anak-anak yang tidak diinginkan, yang berarti lebih sedikit anak-anak yang tumbuh dalam situasi sulit yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kriminalitas.

Tentu saja dalam sejarah aborsi AS- ada beberapa masalah yang secara bersamaan bersifat moral dan politis- dan teori ini tidak akan menyenangkan bagi penentang maupun pendukung aborsi. Apalagi jika ini diterjemahkan dan diterapkan di Indonesia.


Penurunan angka kejahatan hanya disebabkan oleh menurunnya jumlah anak-anak yang dibesarkan di lingkungan yang buruk sehingga menuntun mereka pada kejahatan. Ini meresahkan sekaligus menakutkan bahwa perdebatan akan bicara soal aborsi dan legalitasnya. Namun secara akademis, hal tersebut trebukti sebagai penyebab utama turunnya angka kejahatan secara jangka panjang di AS.

Cara berpikir seperti inilah seharusnya kita pelihara. Secara jernih menatap persoalan dengan memastikan mana yang berakibat jangka pendek dan panjang. Mana yang merupakan gejala dan mana yang memang akar masalah.

Soal kemiskinan, kelaparan, soal kejahatan, dan banyaknya problem sosial yang melanda kita. Di Indonesia, dengan cara ini kita bisa juga menyelesaikan banyak masalah genting kita. Soal kebaperan, meningkatnya angka jomblo, meningkatnya angka fanatisme, juga seiring melonjaknya angka kekerasan di ruang publik dan merangsek ruang private.

Akan saya tuliskan kapan-kapan soal ini. Jika liburan telah usai. Ternyata, ndak cuma soal hati, ternyata internet juga selalu butuh liburan. 😉

Salam anget,

Roy

 

 

+bonus

 

 

Posted in: @linimasa

9 thoughts on “Kebenaran Ada di Dalam Akar Leave a comment

Tinggalkan Balasan