Trust Your Gut

Salah satu dari sekian banyak tricky things in the world adalah pertanyaan ini:
“Kalau kamu tahu bahwa pasangan temanmu selingkuh, apakah kamu akan cerita atau memberi tahu temanmu?”

Buat mereka yang menjawab “ya”, kebanyakan beralasan bahwa mereka ingin melindungi teman mereka dari tragedi yang berkepanjangan.
Buat mereka yang menjawab “tidak”, kebanyakan beralasan bahwa mereka tidak ingin mengganggu kehidupan pribadi atau privasi teman mereka.
Tentu saja ini analisa asal-asalan, karena buat saya, tidak ada satu jawaban yang pas untuk semua keadaan.

Satu-satunya jawaban yang pas adalah to trust your gut. Percaya pada intuisi diri sendiri.
Bagaimana membangun intuisi? Hanya masing-masing diri kita yang mampu menjawabnya. Dalam konteks pertanyaan di atas, berarti intuisi terbangun dari kedekatan kita dengan teman.
Kalau kita dekat, malah sangat dekat dengan teman kita, maka kita tahu apa yang teman kita rasakan tanpa mengeluarkan banyak kata. Saya pernah membaca, biasanya pertemanan yang berlangsung dekat selama lebih dari 7 tahun berpeluang besar menjadi teman seumur hidup, karena jarak waktu selama itu sudah lebih dari cukup untuk membangun keintiman antar teman. Begitu katanya.
Dalam konteks di atas, tentu saja kalau sudah sangat dekat, kita bisa tanpa tedeng aling-aling bercerita.
Namun kalau tidak dekat, atau sudah tidak dekat lagi, maka kita pun biasanya sudah segan untuk bertanya langsung. Lebih merasa “aman” untuk bergunjing di belakang. Kita mendiamkan rasa penasaran, sampai rasa itu hilang menguap begitu saja, tergantikan oleh permasalahan lain.
Toh memang acap kali intuisi kita mengatakan untuk diam. Paling tidak, sampai kita mengetahui cukup informasi sebelum mengambil keputusan.

(Courtesy of viralnovelty.net)
(Courtesy of viralnovelty.net)

Beberapa minggu lalu, saya mendengar kabar kalau seorang teman harus putus dari pasangan hidupnya selama beberapa tahun terakhir. Saya kaget. Sangat kaget malah. Maklum, selain mengenal pasangan ini cukup lama, sebagai pengamat luar, saya menilai bahwa they were meant for each other the minute I saw them together. Tapi tentu saja, sebagai orang yang tidak tinggal sehari-hari dengan mereka, apa yang saya lihat ya cuma terbatas apa yang saya lihat dari luar.

Lalu cerita-cerita tentang mereka bermunculan. Mau tidak mau, saya mendengar cerita itu, karena tanpa diminta, banyak yang mulai menceritakan. Saya bingung. Sempat saya gamang mau ikut #TeamYangMana, karena jaman sekarang rasanya belum kekinian kalau belum memihak, dan posting di media sosial #TimA atau #TimB.
Lalu saya berpikir, mungkin sampai mendengar cerita dari masing-masing pihak. It always takes two to tango, ya tho? Dan selalu ada dua sisi dari setiap cerita.

Tapi bagaimana kalau kita tidak punya waktu untuk mendengar semua cerita? Bagaimana kalau tidak sempat? Dan buat saya, bagaimana kalau tidak mungkin untuk bisa mendengar dua sisi cerita?
Mau tidak mau, you’ve gotta trust your gut. Percaya dengan intuisi.
Mana yang lebih dekat dengan kita, A atau B. Mana yang lebih Anda percaya, A atau B. Mana yang lebih masuk akal menurut kita, A atau B.
Hidup itu penuh dengan pilihan, termasuk memilih untuk percaya atau tidak.
Dan seperti yang pernah saya tulis, akhirnya kita tidak bisa netral dalam hubungan dengan sesama manusia. Itu wajar. Subyektivitas tidak bisa dihindari dalam pertemanan.

Jadi, dalam menanggapi kabar itu, siapakah yang saya “pilih” untuk berpihak?
Biarkan itu jadi rahasia pribadi.
Yang jelas, setelah mendengar berita itu, saya langsung membatin untuk trusting my own gut.

(Courtesy of medicaldaily.com)
(Courtesy of medicaldaily.com)

Our guts can be right or wrong. Who knows?
Tapi percayalah, bahwa ketika kita dilanda dilema dalam bersikap, do what your gut tells you.

Trust your gut.

Iklan

5 thoughts on “Trust Your Gut

  1. I always trust my gut, but unfortunately it only talks to tell he’s hungry. 😔

    On a serious note, imho gut feeling entah kenapa terkonotasikan jadi dinomorduakan dari rasionalitas. Padahal menurut saya, itu semacam kemampuan untuk melihat pola-pola kehidupan yang sering luput dari pemikiran ketika kita sadar sedang berpikir. Jadi jika semakin dilatih dan digunakan, bisa semakin diandalkan untuk mengambil keputusan. Dan gak mungkin kan orang bertindak hanya berpihak pada sisi ekstrim polaritas intuisi atau rasional. Kalaupun ada pasti nyebelin banget.

    Kalau kasus di atas, mungkin saya cenderung bakal memposisikan diri berempati netral daripada berpihak totalitas. Apalagi kalau kenal dua-duanya.

    Suka

  2. kalo kejadian gini, aku malah bersikap untuk ndak terjebak “memenuhi rasa penasaran”, termasuk ndak akan mau dengerin curhatan salah-satunya. juga ndak bakalan kasih saran.

    karena sebuah keniscayaan, setiap orang selalu terdorong untuk mendapatkan dukungan dalam segala.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s