Didik dan Ajar

HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini warnanya kelabu gelap. Nyaris hitam. Muram.

Tapi Monas warnanya jadi biru di malam hari.

image1
Comot foto dari Path teman.

Yogyakarta

Peringatan Hardiknas diisi dengan unjuk rasa ribuan mahasiswa salah satu kampus tertua di negeri ini.

Layaknya praktik demokrasi terapan, sejumlah aspirasi mereka suarakan. Baik yang memiliki dampak nasional, maupun lokal. Lengkap dengan tuntutan untuk bertemu dan berdialog langsung dengan pemimpin perguruan tinggi tersebut.

Pertemuan: nihil.

Proses pendidikan: ada

Medan

Konsultasi skripsi berujung cekcok.

Biasanya, para mahasiswa akan “menelan” situasi ini sebagai kekalahan mutlak. Tanpa bisa dilawan. Sebab mahasiswa ingin lulus. Kelulusan memerlukan skripsi. Penyusunan skripsi perlu bimbingan dan supervisi dosen. Sehingga menghasilkan peraturan tak tertulis tentang pelemahan struktural atas dasar yang subjektif.

Kalaupun ingin berontak, siap-siap saja menghadapi kemungkinan buruk lainnya: proses skripsi kian dipersulit. Pokoknya, one way ticket lah.

Di satu sisi, memang banyak mahasiswa yang buta etiket, tak sopan, urakan, dan serampangan. Tidak memiliki keterampilan sosial dalam pergaulan formal, termasuk dalam urusan akademik. Mereka berkecimpung sebagai mahasiswa, akan tetapi masih harus diajari cara bersikap seperti kepada anak-anak TK dan SD. Ada banyak juga yang tidak seperti itu, tetapi tetap ikut dipersulit arogansi.

Sayangnya di pengujung cerita, skripsi yang sudah disusun dengan susah payah hanya dijadikan isi perpustakaan. Topik penelitian yang biasa-biasa saja membuatnya cuma dijadikan pembuktian penyerapan ilmu jurusan setelah lebih dari empat tahun dan 141-an SKS.

Setelah cekcok, si mahasiswa membunuh dosennya.

Bengkulu

Insiden keji yang terjadi beberapa hari lalu memang tidak berhubungan langsung dengan bidang pendidikan. Hanya saja, korban dan banyak di antara pelaku yang masih berstatus pelajar tingkat menengah.

Semacam teramplifikasi.

Susah dibayangkan sebelumnya, remaja usia sekolah sanggup bertindak sedemikian kejam, biadab, tak manusiawi, serta di luar batas kewarasan. Seolah menunjukkan mereka tak pernah sedikit pun dibesarkan dengan pendidikan dan pengajaran, minimal tentang nilai-nilai kemanusiaan dasar yang universal; dibesarkan sampai menjadi manusia-manusia muda tanpa perasaan dan akal sehat; terlampau tolol dalam menetapkan persepsi terhadap alkohol dan tipuan pornografi sehingga berani melakukan sederetan kebuasan yang menjadikan mereka lebih bajingan daripada setan.

Akan tetapi, apakah mereka benar-benar tidak pernah mengenyam pendidikan?

Mereka sedikit banyaknya pasti pernah bersekolah atau mendapatkan pendidikan nonformal, setidaknya dalam lingkungan keluarga masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan masih aktif sebagai pelajar ketika peristiwa itu terjadi.

Mereka juga tentu diajarkan dan tahu tentang agama dan pentingnya beribadah. Namun, ke mana hilangnya semua nilai, ilmu, pengetahuan, wawasan, dorongan pertimbangan, dan hal-hal positif lainnya saat mereka seketika memutuskan bertindak lebih hina dari binatang?

Apakah karena mereka semata-mata mabuk alkohol, sesuatu yang bisa disalahkan?

Saat seseorang benar-benar mabuk alkohol, mereka akan kepayahan sampai tak sadarkan diri. Mereka muntah-muntah, mereka beserdawa parah, mereka pusing, mereka tidak sanggup mengendalikan gerak tubuh hingga siuman setelah beberapa jam.

Kemudian, bagaimana bisa sekelompok anak muda tersebut akhirnya melakukan perkosaan, penyiksaan, dan pembunuhan setelah minum tuak dibagi ber-14? Kembali ke kalimat “terlampau tolol dalam menetapkan persepsi terhadap alkohol dan tipuan pornografi” pada dasarnya mereka memang punya niatan untuk melakukan kejahatan-kejahatan tersebut. Sialnya, korban melintas dan langsung disergap, memunculkan semacam keberanian komunal untuk melakoninya bersama-sama. Mematikan kehidupan seseorang. Jangan lupa, hampir semua dari mereka belum berusia legal.

Apakah tindakan mereka semata-mata karena pengaruh pornografi, sesuatu yang bisa disalahkan?

Kita semua sepakat bahwa pornografi penuh dengan tipuan dan rekayasa, sekaligus memerlukan profesionalisme dan sabotase fisik sedemikian rupa yang relatif tidak terjangkau orang-orang biasa. Tujuannya pun hanya untuk memberikan stimulus syahwat, tidak lebih. Bukan sebagai patokan standar, bukan sebagai impian apalagi cita-cita, bukan juga sebagai gambaran ideal kehidupan seksual semua orang. Bisa dipastikan tidak ada satu pelaku pun yang tahu, mengerti, atau bahkan peduli dengan fakta tersebut. Yang mereka ketahui hanyalah kelamin, aktivitas persetubuhan, ingatan terhadap rasa atau sensasi yang muncul sebagai konsekuensi alamiah tubuh, ingatan terhadap media pornografi yang pernah mereka lihat sebelumnya serta beragam istilah populer terkait, dan sebagainya.

Kira-kira, apa tanggapan mereka setelah tahu bahwa tubuh yang disetubuhi kala itu sudah tidak bernyawa?

Masih mau?

Kalau iya, itu artinya mereka memang benar-benar binatang. Tak ada satu pun jejak pendidikan serta pengajaran hal-hal baik yang melekat dan berperan signifikan dalam hidup mereka. Entah nyungsep ke mana.

Di manakah posisi orang tua, sekolah, dan pendidikan agama. Gagal muncul.

Jadi dalam hal ini, apa/siapa yang pantas disalahkan sesalah-salahnya? Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, melainkan para pelakunya sendiri. Terutama para inisiator, mereka yang sok berani memulai kekejian ini. Tidak ada kompromi.

Peringatan Hardiknas pun terpaksa diisi dengan aksi solidaritas penyalaan lilin sore ini, dan/atau serentak membunyikan klakson sebanyak tiga kali di mana pun berada pada pukul 17.30 Wib.

Bagaimanapun juga, tidak boleh ada seorang pun, siapa saja, yang menjadi subjek ataupun objek dari peristiwa semacam ini. Apa pun bentuknya. Apalagi anak-anak di bawah umur, serta termasuk mereka yang belum mencapai usia 21 tahun ke atas, juga para orang dewasa rentan yang otak depannya belum rampung tumbuh dengan sempurna.

Jakarta

Seorang kenalan, cewek, melintas di salah satu lingkungan padat penduduk. Di Kemayoran. Gang Laler namanya, kalau enggak salah.

Dia tak sengaja menyenggol seorang bocah usia SD, yang langsung mengumpat: BEGO LU! dengan ketus dan sepenuh hati.

Di lokasi berbeda, tetap dengan sekumpulan bocah yang tengah bermain bersama.

Salah satu di antaranya berteriak: BURUAN (ke) MARIH! BABIK LU! ke arah temannya.

Orang tuanya pada ke mana yak?

[]

Bonus:

13112981_10153426571892461_8680659631960670088_o

Lebih lengkap, baca di sini.

3 thoughts on “Didik dan Ajar Leave a comment

  1. ketika ada anak kecil mengumpat, kesalahannya itu apa sih Gon?
    1. karena mengumpat ndak bagus?
    2. ndak sopan mengumpat pada orang dewasa?
    3. belum cukup umur untuk mengumpat?
    4. mengumpat tanda tanpa pengawasan ortu?
    5. atau apa?

  2. Untuk kasus di Bengkulu.

    Di mana Tuhan waktu kejadian tsb ?? Knapa Tuhan tak menolong anak kecil yg menjadi korban para binatang ?

    Pda akhirnya saya yakin selalu ada hikmah/nilai yg terkandung atas kejadian biadab tsb.

    Tpi tetep saja Tuhan yang benar” maha baik, maha melihat, dan maha penolong seharusnya menurunkan pertolongan-Nya ? Entah dengan cara apapun itu ??

Leave a Reply