Keberhasilan dan Kegagalan

Kurang lebih enam bulan yang lalu, saya menemukan sebuah pola makan; ketogenic diet. Seperti biasa, saya selalu terobsesi dengan pola makan yang menurut saya masuk akal dan bisa mendukung gaya hidup sehat, langsung saya melakukan riset, seperti membeli beberapa buku yang membahasnya, lalu membuka situs dan blog dari orang yang menjalankan, sekaligus mengumpulkan referensi dan resep yang kira-kira mudah saya praktekkan. Beberapa hari kemudian saya pun mulai eksperimen N=1 saya terhadap diri, untuk ketogenic diet ini.

Sekilas tentang ketogenic diet (untuk yang sudah paham lewatkan saja paragraf ini); adalah pola makan dengan memerhatikan komposisi makro nutrisi; lemak tinggi, protein sedang dan karbohidrat (sangat) rendah. Umumnya jumlah asupan karbohidrat harian ditekan hingga 20 gram saja. Berbeda dengan paleo yang fokusnya lebih ke jenis makanan yang ditengarai tidak pro inflamasi, jika keto, asal low carb, boleh dikonsumsi. Biasanya yang menjalani ketogenic diet ini meningkatkan satiety dengan mengonsumsi produk susu yang full fat, seperti krim, butter, dan keju yang full fat (bukan keju jadi-jadian ya).

Saat saya baru mulai satu atau dua minggu, adik lelaki saya yang obes montok, datang ke rumah untuk mengobrol, lalu saya bercerita singkat soal diet ini. Tanpa disangka, dia mengatakan kalau, “Sepertinya aku bisa tu, kak, aku coba deh!” Sungguh menggembirakan, karena sebelumnya saya selalu menjual gaya hidup Paleo ke dia dan beberapa kali juga ditolak mentah-mentah. Keesokan harinya dia pun mulai. Sejak minggu pertama secara stabil adik saya selalu kehilangan berat badan.

c993090e-b525-4462-9028-d02d2b621b11
My brother’s before picture

Dipercepat enam bulan kemudian, total turun berat badan adik saya hingga 30 kilogram lebih. Sedikit lagi dia berada di zona berat badan dua digit (alias below cepek), dan sudah berniat mulai olahraga.

5d8f7e24-893b-4e1f-930c-4dbe1fbd1a51
Yet another before picture.

 

Bagaimana dengan eksperimen saya?

Gagal total. Saya tidak berniat menurunkan berat badan, tetapi  lebih ke body fat percentage. Selama melakukan keto diet ini, saya melakukan semua yang disarankan. Mencatat semua asupan makanan, menakarnya sehingga makronutrisi mencapai target atau tidak lebih dari yang dianjurkan oleh kalkulator keto. Ketika sepertinya komposisi badan saya begitu-begitu saja, saya bahkan mencoba egg fast, yaitu selama seminggu atau lebih hanya mengonsumsi telur dan keju saja. Ketika itu berat badan saya sempat turun, tetapi begitu saya makan (keto) biasa lagi, kembali ke angka awal. Lalu mendengarkan saran dari adik saya, saya coba makan hanya satu kali sehari, karena toh, saya tidak merasa terlalu lapar. Intermittent fasting yang harusnya dilakukan secara intermittent saya lakukan setiap hari kecuali akhir pekan. Tentu semuanya saya lakukan sambil memerhatikan reaksi tubuh, tidak membabi buta.

WhatsApp-Image-20160420
Six months  later… (he’s the one in the middle)

Lalu apa reaksi tubuh saya terhadap ketone ini? Sepertinya tidak terlalu demen. Dalam rentang enam bulan, saya hanya haid satu kali saja, persendian saya sempat terasa ngilu (padahal sebelumnya belum pernah), beberapa kali mengalami heart burn (padahal sejak saya paleo, itu sudah jadi bagian masa lalu), energi berkurang drastis (saya jadi malas berolahraga), dan sebagai buah ceri di atas cake rendah karbohidrat, saya mengalami sembelit parah.

Lalu kenapa saya bertahan hingga enam bulan? Karena setiap kali saya mencari di internet soal gejala saya ini, hampir semua mengalaminya dan semua berkata kalau, “itu akan berlalu, hanya badan kita sedang menyesuaikan”. Saya sampai memeriksa ke dokter tentang haid saya dan ternyata memang efek dari pola makan yang berubah, dan saya belum menopause (thank cosmos for that). Tetapi akhirnya saya melempar handuk menyerah setelah mengalami sembelit parah untuk kedua kalinya. Ketika sedang dalam perjalanan dinas ke luar kota. Sungguh tidak ada kondisi yang menurunkan martabat lebih dari sembelit. Saya pun kembali ke paleo. Dalam beberapa hari saja, saya merasa jauh lebih baik. Energi kembali meningkat, perut tidak bermasalah, dan rasa ngilu dan sakit di persendian maupun bagian badan lain berangsur menghilang.

244b3c0ef7995388c39f2372279b0766

Ketika saya dan adik berdiskusi, kira-kira apa alasan keto diet ini begitu sukses di badan dia dan gagal spektakuler di saya, kami berkesimpulan, bisa jadi karena saya kurang cocok mengonsumsi dairy atau produk susu, atau mungkin juga karena empedu saya sudah diangkat. Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, empedu saya dipenuhi dengan kristal, sehingga tidak bisa diselamatkan lagi dan harus diangkat. Sementara, empedu fungsinya adalah menghasilkan bile yang membantu mencerna lemak. Masuk di akal sih, tetapi ya ini memang mendukung pendapat kalau memang tidak semua pola makan cocok dengan semua orang.

tumblr_inline_niin9jlyxq1seuoqh

Iklan

10 thoughts on “Keberhasilan dan Kegagalan

  1. keren artikelnya,, kebeneran mrmang sedang cari info trntang keto diet, tp kayanya berat kalau hidup tanpa mkm sayur dengan lemak tinggi ya, palagi aku punya mslh dengan srmbelit. oh ya mba ku mu tanya diet cm mkn telur dgn susu mksdny gmn ya ? makasi sblmnya..

    Suka

    1. Nay, kalau aku boleh usul, coba riset new Atkins deh. Dia sama low carb juga, tetapi encourage makan sayur. Google yah. Kalau yang egg fast jadi selama beberapa hari hanya boleh makan telur, dan keju dengan jumlah tertentu. Aku sih enggak rekomen, aslik ga enak banget. Terima kasih sudah membaca!

      Suka

  2. Dikasi link ini sama Mario saat ngomongin Keto Diet. Gue udah beberapa hari nyoba pola makan ini walaupun gak ketat amat. Iya, yang terasa paling pertama itu sembelitnya :)) Buat energi gue gak ngerasa lemas-lemas amat sih, masih bisa gue atasi.

    Suka

    1. Iya ya Nit? Sepertinya dairy-nya deh kalau gue. Sekarang lagi coba, tidak terlalu ketat, minus the dairy. So far so good sih, walau tetap slow ya progress. Namanya juga sudah umur ya boooo ga kayak waktu 20an.

      Suka

  3. Seneng banget baca artikel ini karena tidak semua orang bisa konsisten untuk menurunkan berat badan

    Tapi saya kok takut yaa dengan penurunan berat badan yang terlalu drastis dalam waktu singkat.. Semoga memang karena metabolisme badan yang sangat bagus..

    Kalau memungkinkan mungkin bisa di combine dengan olahraga jadinya kedepan berat badan tidak yoyo, stamina bagus, jantung dan badan sehat 💪💪💪💪

    Suka

    1. Hai Nunik, terima kasih sudah baca. Karena adik saya mulainya di berat 130an, saya baca baca di buku Dan artikel, turun kurang lebih 1kg per minggu itu wajar banget. Dan dia memang sudah niatkan kalau di bawah 100kg akan mulai workout. Karena dengan 100+ kg, gerakan olahraga takutnya malah membebani tulangnya. Semoga sakses ya dia mempertahankan gaya hidup (lebih) sehat!

      Suka

  4. Penasaran. Lei atau adiknya cek level ketone gimana, pakai keto stix atau yang sejenisnya? Ada di apotik jakarta? Ada masalah nggak di tingkat kolesterol? Pengen coba lagi, setelah sebelumnya mandek di jalan.

    Suka

    1. Gue niat banget ya, beli glucometer yang sekaligus bisa ukur ketone ini: http://www.bhinneka.com/mob_products/sku01114129/abbott_diabetes_care_freestyle_optium_monitor.aspx

      Ketone stick nya tapi mahal bgt jadi ga bisa sering cek. Sempat nemu seller di kaskus. Tapi karena adik gue steady bgt weightloss nya dia ga terlalu pusingin soal ketone si. Gue malah kebalik, ketone selalu tinggi, tapi badan ga berubah samsek.

      Gue lupa apakah adik sudah pernah cek lipid profile lagi, tapi dia yang tinggi trigliserida sebelum diet, kolesterol ok. I’ll ask and get back to you, yes?

      HTH!

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s