Kemanusiaan Yang Maha Esa

Sahabat saya ini sebetulnya ndak sahabat-sahabat amat. Belum lama kenal kecuali sejak November 2012. Kebetulan pernah satu kantor. Pernah satu bagian dan pernah satu pekerjaan. Ya, dipertemukan karena pekerjaan.

Kami sering ngobrol dan bersenda gurau. Namun jauh lebih sering memikirkan nasib masing-masing. Salah satu topik obrolan kami adalah soal Pancasila. Kami sepakat bahwa pancasila itu keren banget. Namun kadangkala berdebat soal apakah perlu dilakukan revisi dan bertukar tempat antara dua sila sehingga menjadi Kemanusiaan yang Maha Esa dan Ketuhanan yang Adil dan Beradab. Soal bagaimana bisa dan asal-usulnya, akan dibahas dalam kesempatan lain.

Sila kedua dengan Kemanusiaan Yang Adil Beradab konon berasal dari konsep  Henry Dunant, bapak palang merah, mengambil istilah rakyat bangsa Italia, Siamo Tutti Fratelli atau we are all brothers. Tapi itu sekadar obrolan omong kosong dua lelaki untuk melengkapi secangkir kopi dan sebats trz cabs.

Yang menjadi topik bahasan kami selalu berkutat soal hak manusia dengan kepentingannya masing-masing, dengan sikap politik masing-masing, dengan minat masing-masing, berhak untuk berbeda, terutama perbedaan dalam menentukan bagaimana dan apa yang membuatnya terus hidup dan menjalankan keseharian hingga membuatnya bahagia. Semacam pluralisme. Ndak aneh juga bicara ini karena sahabat saya ini skripsinya soal itu. Kira-kira topiknya dia begini: Liberalisme menuju pluralisme : sebuah pandangan yang menopang situasi plural. 

Pluralisme secara tepat dimaknai sebagai suatu pandangan yang menerima berbagai konsepsi mengenai tujuan-tujuan hidup. Pluralisme kemudian dipahami sebagai pemahaman bersama mengenai tradisi, identitas, dan moralitas. Keseluruhan aspek tersebut bermula dari pengertian manusia sebagai agen yang bebas. Seluruh pembicaraan mengenai bagaimana manusia hidup dalam situasi berbeda ditentukan pada tiga nilai dalam masyarakat modern:

Pertama, kondisi demokratis (pilihan sosial didasarkan pada prosedur yang bebas, tidak memaksa, dan menerima suatu diskusi terbuka pada isu yang akan diputuskan secara bersama).

Kedua, Liberalisme (suatu pandangan yang bertujuan untuk melindungi kebebasan seperti, kebebasan atas kepercayaan, kebebasan ekspresi, dan kebebasan untuk memilih).

Ketiga, Pluralisme (pandangan yang mengedepankan hak setiap individu untuk mendefinisikan dan menjalankan hidup menurut cara pandang masing-masing dalam keadaan damai).

Melihat ketiga aspek penting tersebut, maka dapat dimaknai bahwa masyarakat liberal adalah suatu kondisi minimum untuk mewujudkan suatu keadaan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan, Karena masyarakat liberal dibentuk dari individu-individu yang memegang komitmen dalam perbedaan, dan terkadang tidak saling cocok mengenai apa yang disebut sebagai hidup yang baik dan cara mewujudkannya. Dalam perwujudan masyarakat modern, sebagai sebuah masyarakat liberal, Pluralisme tumbuh sebagai implikasi clan keyakinan yang mendasar bahwa setiap individu memiliki hak untuk memilih sendiri bagi dirinya dalam memandang konsepsi mengenai kebaikan hidup. Pembelaan terhadap Pluralisme, mengemuka dengan disampaikannya ide mengenai Incommensurability nilai-nilai.

Beberapa sistem nilai secara bersamaaan sesungguhnya dapat secara sama divalidasi dalam status Incommensurable, karena menentukan satu nilai yang mengatasi nilai-nilai yang lain adalah suatu kemustahilan, jika kita mau berkomitmen pada kehidupan damai dalam perbedaan. Asumsi yang dibuat dalam melihat nilai-nilai Incommensurable satu sama lain adalah secara sederhana atas pemahaman bahwa tidak mungkin menentukan suatu ukuran rasional dalam menakar nilai-nilai tersebut dalam suatu skala hitung. Sampai pada titik ini dapat dimengerti bahwa dimungkinkan adanya suatu tarik-menarik di antara perbedaan-perbedaan nilai-nilai itu dalam suatu sistem moral.

Implikasi dari Liberalisme adalah: masyarakat liberal tidak hanya melindungi kebebasan setiap individu, namun juga memperbolehkan tumbuh berkembangnya perbedaan dan persaingan pandangan dalam melihat dunia secara konseptual. Berpikir untuk melewati batas ideologi pribadi dan kelompok atas nama kebebasan individu sebagai agen bebas adalah sesuatu yang menjadi cerminan masyarakat liberal yang pluralis.

Apa yang kemudian menjadi penting adalah usaha untuk mewujudkan suatu masyarakat liberal yang menyadari nilai-nilai Pluralisme dalam dirinya. Namun nilai yang ada dalam dirinya itu harus dibentuk dan dihadirkan. Incommensurability nilai-nilai memungkinkan hal tersebut, karena kesadaran untuk memahami yang lain akan muncul dan menyadari potensi sebagai agen yang bebas, individu tidak terkurung dalam eksklusivitas identitas dan nilainya, tetapi memiliki jiwa inklusif yang memungkinkan perkembangan pribadinya dalam mewujudkan cita-cita hidupnya. Principle of harm yang muncul kemudian lebih sebagai suatu resep untuk mengobati kemungkinan yang ditimbulkan suatu penguasaan mayoritas atas individu, karena adalah lebih baik mengembalikan suatu konsepsi kebaikan kepada individu daripada memberikannya pada kelompok atau budaya yang dianut mayoritas.

Hal ini dimungkinkan untuk mencegah terjadinya suatu intervensi ilegal atas individu.

Saya sebagai senior agak bingung dengan konsep abstraksi dia. Tapi saya gengsi. Seringkali menolak apa yang dikatakan sebelum benar-benar dipahami. Karena itulah memang tugas utama senior. Berusaha tampil lebih oke dan lebih tahu dari junior.  Tapi saya meyakini apa yang ditulisnya dengan segenap kesungguhan hati. Itu saja sudah lebih dari cukup. 🙂

Pun sebetulnya konsep ini pernah saya tulis dalam bentuk lain di beberapa tulisan, misalkan dalam format steller “dan sesungguhnya“.

Setelah saya amat-amati, tulisan dia cukup dirumuskan dalam beberapa kalimat pendek sebagai berikut:

bayangan masa kecil tentang hari esok. ada yang cerah. ada yang yang diharapkan. tentang kebaikan dan nurani yang terus berkembang.
ada tawa dalam setiap peristiwa.
jika nyatanya kita menanggung perih, itu adalah cara agar kita terus menjadi manusia. tak segalanya indah. juga tak selalu luka.
kita hanya bisa jalani segenap jiwa sepenuh hati. dari senja ke senja. dari luka menuju luka. antara tawa dan tawa.
dimana kita lahir. dimana kita meregang nyawa. dan kita mencintai apa yang bisa dan mungkin.

tak ada yang sempurna tanpa kecuali. karena manusia.
ada sebuah negeri yang berisi tawa dan gembira. tapi tentu saja dalam impian belaka. karena setiap negeri menyimpan banyak kisah. banyak keringat. juga perih. juga hingar bingar kemenangan atas kekalahan yang lain.
masa kecil kita tak semuanya indah.
masa tua kita, tak ada yang tahu.
bagaimana jika mati saja?

Oh ya, junior saya itu bernama Darma. Terinspirasi dari nama organisasi kewanitaan terbesar jaman Orba, Darma Wanita.

Salam hangat dan selamat bermalam minggu,

Roy

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s