Renungan Jumat

Tadi pagi saya terlibat diskusi yang seru dan lucu di konferensi yang sedang saya datangi ini. Kurang paham tujuannya, karena umumnya diskusi yang terjadi ketika seseorang atau satu perusahaan ingin pick the audience’s brain, tetapi ini tampaknya tidak begitu. Judulnya adalah bagaimana proses berkencan setelah tinder dan untuk orang-orang yang tidak lagi berusia 20-an. 

dating-is-cool-meme

Seperti saya duga, ternyata akhirnya banyak cerita seru soal keberhasilan dan kegagalan Tinder, dan beberapa kisah sukses hingga yang akan menikah. Salah satunya adalah (ternyata) teman saya yang kurang lebih usianya sebaya.

Rata-rata yang bercerita menyebutkan berapa banyak kurang lebih mereka menemukan match, berapa date  (baik maupun buruk) yang mereka lalui, lalu hasil yaitu seperti teman saya yang menemui calon suami, atau seperti yang lain; dapat pacar saja tidak.

d8b488e9b630470272b1eb16536be931

Saya malah dalam hati berhitung dan tidak juga dapat angka kasarnya; berapa match yang saya pernah dapat dari awal saya on and off menggunakan Tinder. Entahlah. Kalau sampai date, ermmm… ternyata setelah saya hitung, masih di bawah sepuluh orang. Dan sebagian tidak ada second date. Dan belum pernah ada pacar sampai sekarang.

Dari diskusi tersebut juga akhirnya berkesimpulan, kalau ternyata Tinder itu hanya membantu kita bisa bertemu dan berbicara dengan lebih banyak orang yang, kalau dengan cara pra internet, mungkin tidak ada kesempatan bisa bertemu. Tetapi bukan berarti setelah kita bertemu yang tampaknya mungkin potensial, lalu semuanya jadi segampang menjentikkan jari (yang sebenarnya untuk sebagian orang tidak gampang juga, sih). We still have to do the messy stuff. Meeting them, talk to them, be real, not being a fake (isn’t that a same thing?), be nice to them, let them know (if not subtly) that we like them. Jadi sebenarnya Tinder tidak membuat berkencan lebih muda ya? Secara teknis, sama saja.

bca765424c7aa5dacd5a81469b49efcf

Lalu ketika kami tiba pada kesimpulan itu, terlintas di kepala saya adalah; saya lelah. Seperti juga yang terpikir oleh saya ketika beberapa kali menjalani proses tersebut. Tapi jika saya ingat kembali kisah sukses teman saya, jadi rasanya cukup optimis. Mungkin saya belum lelah, hanya belum bertemu dengan seseorang yang bisa membuat semua proses itu kembali tampak menyenangkan.

Iklan

5 thoughts on “Renungan Jumat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s