Justru Yang Tak Terlihat Jadi Terlihat

Beberapa tahun silam, salah satu dosen kuliah saya untuk mata pelajaran manajemen seni pernah berkata, “The good stage management is when you realize it’s not there.” Waktu itu konteksnya kami sedang belajar tentang manajemen pertunjukan seni. Ketika kita datang untuk menyaksikan sebuah pertunjukan, misalnya pertunjukan teater, maka kita akan duduk untuk melihat dan mungkin ‘masuk’ ke dalam cerita yang dipentaskan.

Kalau pertunjukan mengalir lancar, maka kita sebagai penonton akan puas. Kepuasan itu, yang mungkin kita tidak sadari, bersumber pada kelancaran stage management pertunjukan itu. Para runners bekerja dengan cepat mengganti props di atas panggung. Penata cahaya bekerja sesuai petunjuk. Penata musik tidak terlambat memainkan musik di setiap adegan. Aktor tidak lupa dialog mereka. Semua itu dibawah kendali stage manager yang menerjemahkan kemauan sutradara ke dalam catatan yang lebih detil untuk setiap kru dan pemain.

Kita tidak pernah sadari hal ini, karena pertunjukan berjalan lancar. Kita baru menyadari saat pertunjukannya terganggu.

Tiba-tiba ada lampu yang menggantung nyaris jatuh. Lalu ada barang yang tiba-tiba masuk ke tengah panggung. Musik yang terdengar lebih dulu dari semestinya. Di saat hal-hal seperti itu terjadi, mungkin kita akan tertawa kecil, sambil bertanya-bertanya, “Gimana sih ini? Mana sutradaranya? Kok nggak becus bikin pertunjukannya?”

Ada tangan-tangan tak terlihat yang membuat sebuah kegiatan berjalan lancar.

Seorang teman yang berprofesi sebagai humas pernah berkata bahwa “being a consultant or a PR person is always about behind the scene, not parading ourselves in front. That would only defeat our own work purpose.
Lantas saya bertanya, “berarti justru orang-orang yang nggak banci tampil dong yang harusnya kerja jadi PR ini?”
Dia tertawa kecil, “kalau mau “tampil”, silakan pakai media sosial masing-masing saja. But please separate your private socmed from work. Agak tricky memang, kerja ketemu orang, tapi nggak “tampil”. Because when we meet people, it’s all about the cause of work first, not us as a person. It’s always about work.

(Courtesy of ruralindiaonline.org)
(Courtesy of ruralindiaonline.org)

Pernyataan teman saya semakin memperkuat keyakinan bahwa dalam dunia pekerjaan profesional, kita adalah pekerjaan kita. Meskipun kita tidak tampil di depan, namun kontribusi tangan kita dalam membuat sebuah produk, jasa, atau apapun yang kita kerjakan bisa berjalan dengan lancar, maka hasil kerja keras kita pun bisa terlihat.

Saya mengamini apa yang pernah kami, sesama penulis linimasa, diskusikan dulu: bahwa tidak penting menjadi terkenal, tapi lebih penting kalau cukup dikenal.

Bagaimana cukup dikenal? Banyak caranya. Salah satunya dengan menekuni bidang yang kita kerjakan dengan baik, konsisten dalam waktu cukup lama.

After all, reputation matters.

(Courtesy of johnsteeper.com)
(Courtesy of johnsteeper.com)
Iklan

2 thoughts on “Justru Yang Tak Terlihat Jadi Terlihat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s