M7: It’s a Goodbye

Dia selalu datang saat hujan. Kali ini, alam ndak lagi ikut aturan musim. Cuaca bisa berganti seketika. Siang panas. Sore hujan. Malam banjir. Pagi kembali kerja. Donnie memutuskan Obsession pagi ini. Dengan asumsi, siang nanti mulai mendung, lalu hujan turun sampai malam. Kalaupun ia salah, Obsession biasanya cuma meninggalkan jejak hangat yang ndak terlalu melukai orang sekitarnya. Kehangatan buah pala dan nilam yang lekat di kulit.

image

Pukul 09.12 lewat pesan WhatsApp.

Haryo: “aku mau cerai.”
Donnie: “kita belum menikah.”
Haryo: “I mean from Mia.”
Donnie: “Ok.”
Haryo: “why ok?
Donnie: “why not ok?
Haryo: “I’m expecting more from you. A little empathy maybe?
Donnie: “M7, kamu berharap terlalu banyak dari orang asing.”
Haryo: “you’re no stranger to me. You know me.
Donnie: “You’re not like that. Itu yang aku tau. And you survived. Udah.”
Haryo: “kamu. Keras banget ya Don?”
Donnie: “I have no choice.
Haryo: “kita punya pilihan kok…”

Seketika Obsession hilang kehangatannya. Buntu. Ada yang ndak seimbang. Ini bukan cinta, apalagi persahabatan. Di satu pihak, pembicaraan ini buang-buang waktu. Di lain pihak, butuh sekedar pembenaran. Jika dipaksakan, akan saling melukai. Jika diteruskan, bisa saling menyakiti.

Haryo: “so, it’s a goodbye Donnie?
Donnie: “it’s a goodbye M7.

Donnie menurunkan kaca mobilnya. Membiarkan angin menerbangkan Obsession melintasi jalan Tb. Simatupang. Mungkin ia segera bercampur dengan aneka uap Senin pagi. Bisa jadi hinggap di hidung seseorang yang termenung di halte Cilandak dan membuatnya berfikir: siapa yang mengorbankan kehangatan hari ini?

Posted in: @linimasa

3 thoughts on “M7: It’s a Goodbye Leave a comment

Leave a Reply