CINTAPI

Dia tidak punya hubungan darah dengan Cintami, atau bahkan kenal dengan Cintanya Rangga. Cintapi tak memiliki keluarga apalagi saudara. Dia tak punya teman apalagi kekasih. Cintapi bahkan tak pernah berusaha mencari tahu siapa dirinya. Ini bukan pertanyaan filosofis, karena Cintapi tak bisa menjawab pertanyaan semudah “apa warna favoritmu?”

Yang Cintapi tau sejak lahir sampai sekarang cuma satu. Dia inginkan Cinta. Keinginan sejak masa kecil, sebelum akil balik. Cinta yang seperti di dongeng dan film favorit yang pernah ditontonnya. Cinta dari manusia idola yang ditemuinya. Beberapa ada yang hanya pernah dia lihat di internet. Beranjak dewasa, impiannya semakin berkembang. Daftar syarat pun bertambah panjang. Belum juga diketemuinya cinta seperti yang dia inginkan.

Waktu berjalan tak peduli. Cintapi mulai was-was. Sekitarnya satu persatu mulai meresmikan cinta mereka. Kondisi yang memaksa Cintapi untuk merevisi ulang daftar syarat cintanya. Haluan mendasar yang berubah adalah dari cinta yang diinginkan, menjadi cinta yang dibutuhkan. “Kalau menuruti keinginan saja tidak pernah ada cukupnya”, pikirnya. Cintapi pun mulai membuat daftar perbandingan cinta yang dibutuhkan dan cinta yang di depan mata.

Yang itu, cinta sih tapi dia belum mandiri. Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan orang yang masih tergantung dengan orang tuanya.

Yang itu, cinta sih tapi fisiknya agak kurang sesuai. Tinggi badannya gak serasi. Di mana-mana pria harus lebih tinggi dari wanitanya dong.

Yang itu, cinta sih pinter lagi, tapi gak bisa bergaul. Sementara teman-temanku banyak banget. Dan buat aku teman lebih dekat daripada keluarga.

Yang itu, cinta sih anaknya juga baik, tapi gak suka olahraga. Kalau ngobrol jadi suka gak nyambung. Dan buat dia, rutinitasku berolahraga adalah buang-buang waktu.

Yang itu, cinta sih tapi kok posesif amat. Susah juga kalau aku harus melapor semua kegiatanku. Bagaimana mungkin aku bisa bergerak bebas. Kemerdekaanku terbelenggu.

Yang itu, cinta sih. Kayaknya cinta sesungguhnya. Tapi beda agama. Habis perkara. Tak perlu penjelasan lanjutan.

Yang itu, cinta sih tapi sudah menikah. Selamanya aku merasa jadi tambalan. Walau dia bilang lebih mencintai aku ketimbang pasangannya. Yang buruknya lagi, aku merasa jadi obyek seks semata. Cuma bisa ketemu kalau alat kelaminnya dahaga.

Yang itu, cinta pake banget. Tapi di ranjangnya gak enak. Aku gak bisa membayangkan berhubungan seks rutin dengan dirinya. Bisa jadi mimpi buruk. Karena pasti aku membayangkan pasangan seks lain yang pernah menggelorakanku.

Yang itu cinta, bahkan sudah berencana menikah. Tapi menurut ahli fengshui hubungan kami tidak akan bertahan lama. Dan kami sama-sama percaya alamlah yang mengatur manusia. Bukan sebaliknya.

Karena ada tapi di setiap Cintapi, sepertinya tak ada satu pun manusia yang bisa masuk ke dalam kriterianya. Kecuali pesan langsung dari Surga. Itu pun dengan catatan lahir langsung dalam kondisi seumuran. Dan dari keluarga yang seiman.

Pilihan lainnya adalah memiliki banyak pasangan. Masing-masing bisa memenuhi satu atau dua kriteria. Dari semua pasangan itu baru nanti ditentukan mana yang sekiranya paling mendingan untuk dijadikan seumur hidup. Dan kekurangannya paling bisa ditolerir.

Cintapi lupa, bahwa semua cinta yang pernah mendekatinya pun bernama Cintapi. Masing-masing punya tapinya sendiri-sendiri. Bedanya, ada yang sebenarnya bermaksud memperjuangkan Cintapi sehingga tak lagi bertapi. Sejujurnya tak ada satu pun yang memandang Cintapi persis seperti impian cinta yang mereka ingin dan butuhkan. Apa daya, niat mereka keburu ditampik.

Yang terakhir yang paling mustahil. Membereskan dulu semua tapi. Sebesar-besarnya cinta adalah cinta yang menyelesaikan semua tapi. Menemukannya adalah keberuntungan. Mengupayakannya adalah pilihan. Usaha yang sepertinya tidak akan berakhir. Dari satu tapi akan muncul tapi-tapi lainnya. Sampai akhirnya Cintapi menyerah dan menerima saja apa adanya. Cintapi tanpa tapi, agar ada api dalam Cintapi.

2015-11-25 09.53.04

 

 

 

Iklan

3 thoughts on “CINTAPI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s