Lalu Mengalir Hingga Akhir

Wajar jika ketika remaja kita mendambakan kehidupan yang nihil aral melintang. Punya pacar, punya pekerjaan, lalu menikah, lalu punya anak, karir meningkat, punya mantu, jadi bos, punya cucu, lalu selesai.

Di sela tanda koma diatas boleh ditambahkan dengan mengarang buku, bikin album, bertamasya keliling dunia, jadi terkenal, punya banyak uang.

Lalu kita dihadapkan dengan kosa kata ditolak, patah hati, skripsi ndak jadi-jadi, pekerjaan membosankan, ternyata gay, dan menua gini-gini aja.

Di sela tanda koma juga boleh ditambahkan ndak punya hobi, duit pas-pasan, teman banyak tapi minim sahabat, dituntut keluarga segera menikah, dan PHK.

Jika hendak dirinci ke hal kecil, lebih dahsyat lagi. Mau nonton ndak punya pacar, mau berangkat kerja umpel-umpelan, macet, dimusuhi bos, bangun subuh pulang larut malam, punya hape mampunya cina, menikah lalu bercerai, diselingkuhi, ditinggal kawin, punya pacar malah terkekang, sulit dapat pekerjaan, gaji kecil, sulit orgasme, impoten, ditusuk dari belakang, dan pekerjaan menumpuk ndak selesai-selesai.

Memelihara harapan. Percaya semua akan selesai dengan indah. Menemukan jodoh yang “aku banget”, dan hal lainnya yang membuat kita terus bertahan. Pertanyaannya bertahan atau menyerang. Berdiam diri atau merebut. Terus berjuang, bergerilya, atau terus bersembunyi?

Semakin hari, kenyataan hidup yang dihadapi memang harus diakali. Belajar agama biar tentram hati. Berbuat baik tanpa pamrih. Tapi belajar agama saat ini ndak seksi. Begitu konon berkata.

Apa yang kita lakukan saat ini apakah karena tak ada pilihan lain, atau karena menghindari sesuatu, atau benar-benar karena kita begitu mencintai?

Waktu terus berjalan. Sahabat terdekat kita bernama diri sendiri sering memberikan petuah yang susah dihadapi. Obrolan pagi dalam hati selalu membuahkan kesepakatan baru. Tapi saat dijalani, ada pilihan mudah untuk menyerah. Dengan banyak alasan yang gampang dicari-cari.

Masa depan kita adalah milik kita sendiri. Semacam permainan adu kuat. Hidup kita untuk siapa? Demi harapan orang lain atau diri sendiri. Memaknai jatidiri.

Untuk menjadi makna, sesuatu harus diuji. Agar kita tahu pasti, dimana posisi sesuatu itu berada. Pengujian yang dilakukan jagat raya celakanya selalu berbeda pola. Lewat cibiran sosial, anjuran orang tua, nasihat teman, rayuan pasangan atau hasutan hati sendiri. Juga lewat senyuman, pujian, penghargaan dan kecupan.

Karena yang hakiki justru yang tak berwujud. Perasaan sayang yang harus tahan banting, rasa percaya yang tak perlu bukti, peduli tanpa pamrih, memberi sepenuh hati, dan menerima amanah tanpa syarat.

Yang tak berwujud sejatinya jauh lebih kekal karena sifatnya yang hanya dapat dirasakan tanpa perlu kita genggam dan kita pandang. Mudah berubah namun kita terus bertahan. Mudah beralih tapi tetap bertahan. Mudah rapuh tapi tetap bertahan.

Mudah memilih marah namun justru berikan senyuman.

Ketika kita telah mengakui lemah, terbit kekuatan baru. Ketika kita sadar bahwa kita sementara, maka kita menghargai apapun yang mampir dalam hidup ini. Dengan harapan bisa sedikit lebih abadi. Ketika kita mengakui akan kesepian kita, maka kita dengan segenap kerendahan hati akan mampu menghargai kebersamaan.

Ketika gerimis turun pagi hari. Mari kita nikmati. Bisa jadi setelahnya kemarau panjang sedang kita jelang. Ketika ada teman mengajak bicara, mari kita dengarkan. Bisa jadi ini adalah caranya untuk selesaikan ujian.

Dan ketika ada yang menulis ini, bacalah dengan tenang. Bisa jadi ini adalah satu-satunya cara yang membuatnya senang.

Salam hangat,

Roy


Iklan

4 thoughts on “Lalu Mengalir Hingga Akhir

  1. “Mudah memilih marah namun justru berikan senyuman”

    Suka. Aku jadikan quote kalimat yang ini. Terima kasih untuk tulisan yang membuahkan senyuman di Senin pagi, om Roy.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s