The Art (or Lack Thereof) of Saying No

Sejak pindah industri (yang sebenarnya enggak pindah pindah amat), demi tidak kelihatan terlalu bodoh, saya jadi (lebih) rajin membaca, mengikuti workshop atau apapun yang memungkinkan saya belajar lebih banyak tentang dunia ini. Walaupun prakteknya ketika sedang di dalam situasi belajar tersebut pun saya lebih banyak tidak mengerti jargon dan istilah, kemudian mulai membiasakan mencatat dan Googling di lain waktu agar jadi tahu.

Anyway, bukan pengin cerita itu sih sebenarnya.

Suatu hari yang cerah, saya sedang bengong mengikuti acara yang membahas UI/UX dari Google. Kemudian facilitator-nya tiba tiba melemparkan pertanyaan, yang sepertinya saya bisa menjawabnya. Terus terang saya lupa pertanyaannya. Kalau tidak salah, bagaimana untuk mencapai produk dengan UI dan UX yang sederhana? Lalu saya mengangkat tangan dan menjawab, “by saying no, to a lot!” dan jawaban saya diamini oleh dia. Hore.

06f

Sebenarnya sontekan saya adalah buku Inside Apple, yang menyebutkan kalau salah satu yang dilakukan Steve Jobs yang memberi dampak merek Apple yang begitu populer adalah menolak banyak usulan fitur yang bisa dimasukkan ke dalam sebuah produk. Just because we can do it, doesn’t mean we have to. Like everything else, of course it’s easier said than done. Sekarang saja, kalau stakeholder “mengusulkan” fitur ini iu yang menurut saya tak perlu dimasukkan ke produk, saya masih belum berani langsung bilang tidak. Paling banter saya nyengir dan berdalih akan mempertimbangkannya untuk development berikutnya (dalam hati berbisik: “kalau enggak lupa ya”)

Selain dalam soal produk yang baru mulai dipelajari, saya mulai pro dalam pengaplikasian hal ini ke kehidupan pribadi. Kalau dulu saya dengan mudahnya mengiyakan ajakan hangout bersama teman yang tidak dekat-dekat amat, setelah merasa kok, tidak ada waktu untuk diri sendiri, waktu untuk bekerja pun terpangkas dan sering merasa terjebak di situasi yang tidak terlalu menyenangkan tetapi tidak tahu cara keluarnya. Setelah beranjak dewasa, (ehm) sekarang saya sudah siap dengan banyak pilihan alasan untuk menolak dengan halus, maupun kurang halus. Jika sebuah produk akan menjadi lebih simpel dan mudah digunakan dengan rajin berkata tidak, saya merasa hidup saya juga menjadi lebih sederhana dengan sering berkata tidak.

Ajakan seperti; reuni besar-besaran, nongkrong tanpa tujuan beramai-ramai, dari teman yang sudah lama tidak muncul lalu mendadak ajak “catch up”, mantan gebetan yang mendadak muncul lagi dan dengan sok asik mengajak “dinner” di apartemennya (padahal aslinya orangnya enggak asik), nonton film yang kemungkinan besar saya tidak suka, makan di restoran yang banyak di menu saya tidak bisa makan, pergi ke mall tanpa ada yang dicari, atau berkumpul bersama teman yang menurut saya unik sehingga tidak selalu saya bisa merasa senang ketika bertemu dia atau mereka, mudah untuk saya tolak.

i-love-the-feeling-you-get

Semakin tua saya juga semakin mudah untuk tidak menyelesaikan buku, kalau  ternyata tidak menarik buat saya, atau apa yang dibicarakan ternyata menurut saya sudah terbantah dengan teori yang lebih meyakinkan, tidak menyelesaikan nonton film yang menurut saya kurang menarik, tidak membuka dan membaca media sosial hingga berhari-hari, dan memotong pendek obrolan dengan seseorang yang menurut saya kurang seru dan tidak dekat di hati (orangnya). Dalam hal bertemu orang baru, sebisa mungkin saya kombinasikan dengan hal yang memang saya akan lakukan juga, seperti kalau ingin makan di restoran tertentu (sekalian kopdar), atau kalau orangnya cukup sporty, saya ajak untuk lari bersama atau spot each other at the gym (belum pernah kejadian, kasihan yah).

8d8fffbadaca6c928b9dc1fd505ea5ed

Dari waktu yang saya dapatkan lebih baik saya habiskan dengan anak tersayang, apapun kegiatannya, membaca, menonton, atau sekadar tidur siang, bertemu dan mengobrol dengan sahabat, atau dengan kelompok kecil teman yang benar-benar saya sukai, mencari resep lalu memasak makanan yang saya sukai, pergi ke gym dan berolahraga sampai mau mati, atau seharian berdiam di kamar hanya karena saya sedang ingin. Dikatakan egois? Anti sosial? Tak apa lah. Sebenarnya saya cuma pemalas. Tapi tapi, siapa lagi yang peduli sama prioritas kita kalau bukan diri sendiri? Walaupun prioritas kita hanya bermalas-malasan?

159195-you-become-brutally-honest-abo-sk8o
Tanda tanda Anda sudah mulai tua dewasa
Iklan

4 thoughts on “The Art (or Lack Thereof) of Saying No

  1. Persis kaya kata temen saya. Dia bilang, “Gue udah mulai ngekick temen-temen ‘sampah’ dari hidup gue. Dulu jaman masih kuliah masih oke lah, ngebir bareng, clubbing, nongkrong, dll dsb. Sekarang? Mending gue fokus ngurusin laki gue.”

    Dan kata dia, menjauhkan diri dari temen-temen ‘sampah’-nya bikin hidup dia lebih tenang & jauh dari negative vibes. Sepertinya saya jg harus mulai 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s