Wild Is The Wind (Bagian 1)

Mereka sering berpapasan. Tapi mereka tidak pernah bertegur sapa. Keduanya sibuk. Keduanya pun sudah mempunyai pasangan masing-masing. Walaupun Robert Jones masih sering serong kanan dan serong kiri. Maklum sebagai seorang rockstar yang sudah terkenal di dunia di medio tahun 1970an–tentunya banyak sekali yang ingin sekali tidur dengannya. Robert Jones sebetulnya mengidolakan Kathleen. Tapi dia agak sungkan. Dan juga segan. Kathleen sudah terkenal ketika Robert Jones masih merangkak menuju puncak ketenaran. Selain itu kesempatan untuk sekedar menyapa pun belum kunjung tiba. Begitu pula Kathleen. Dia melihat Robert Jones sebagai seorang yang unik. Dari musikalitas maupun penampilan di panggung. Robert Jones adalah musisi yang bintangnya sedang bersinar terang.

Ada satu waktu dimana Kathleen sengaja meluangkan waktunya untuk melihat konser Robert Jones. Itu terjadi di tahun 1974. Satu malam konser di Madison Square Garden, New York. Itu adalah kesempatan langka. Pada masa itu, Kathleen sedang mengalami depresi. Dia merasa sangat capek. Kegiatan turnya yang hampir setiap hari membuatnya lelah. Dia membutuhkan relaksasi. Banyak kasus yang menimpanya pada saat itu. IRS mengejarnya dengan tuduhan bahwa Kathleen tidak membayar pajak dengan semestinya. Melihat situasi yang menimpa kulit hitam di Amerika juga menyeretnya untuk menjadi aktivis hak asasi manusia. Malcolm X adalah tetangganya dan Martin Luther King Jr. adalah teman dekatnya. Hubungan dengan suami yang juga manajernya pun tidak harmonis. Dia merasa dieksploitasi dengan melakukan tur hampir setiap hari sepanjang tahun. Suaminya yang juga abusif hanya memperparah keadaan. Kathleen merasa kosong. Dia merasa dengan menghadiri konser Robert Jones bisa meringankan beban yang ada di pundaknya.

wildisthewind2

Seminggu setelah konser tersebut. Kathleen yang sedang makan siang di sebuah klub privat untuk kalangan jetset bernama The Hippopotamus. Tidak lama setelah dia menghabiskan makan siangnya. Lalu dia melihat Robert Jones masuk ke klub tersebut. Lalu dia memilih meja yang berada di sudut ruangan. Dia tidak ingin banyak dilihat orang. Tapi dia tahu keberadaan Kathleen di klub tersebut. Dan ketika Kathleen berjalan untuk menuju pintu keluar. Robert Jones memberanikan diri untuk memanggilnya dan memintanya untuk menemani dia di mejanya. Kathleen pun tidak keberatan. Mereka pun berbincang ringan. “Saya pengagum anda, Ms Kathleen. Saya punya semua album anda.” Kathleen tersenyum “Oya? Senang sekali mendengarnya. Saya juga pengagum anda. Saya datang ke konser anda minggu lalu di Madison Square Garden.” Robert Jones yang sedang minum tersedak dan hampir saja menyemburkan air ke makanan yang ada di depannya. “Koq tidak bilang? Saya bisa kasih tiket di front row padahal”. Kathleen hanya tersenyum sambil berkelakar “Hey kamu pikir saya tidak mampu bayar? Saya bisa beli sendiri tiketnya. Lagian saya tidak mempunyai satupun koleksi albummu.” Robert Jones tertawa. “Oh. Ok. That’s a good one. You don’t deserve a free ticket then”.  Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Jarang sekali mereka melakukan hal tersebut. Walau bersama teman-teman dekatnya.

(bersambung)

Posted in: @linimasa

7 thoughts on “Wild Is The Wind (Bagian 1) Leave a comment

Leave a Reply