Sekali Lagi tentang Yang Manis

Sedang scrolling di Path untuk mencari ide tulisan hari ini, mendadak stop di foto koran yang @fxmario, rekan saya yang peduli isu kesehatan, post.

Screenshot_20160408-162532Screenshot_20160408-162538

Soal beritanya sih, bukan hal baru. Tanpa harus membaca angka-angka pun sudah bisa terlihat dengan mata telanjang, kalau tren jumlah pengidap diabetes meningkat. Justru yang membuat saya intrigued adalah komentar di bawahnya yang mengatakan, saudara mereka sudah diet, jaga makan, tetapi tetap terkena dan harus mengonsumsi obat untuk mengendalikan sehingga kena ginjal (ini sedih sekali). Ada juga yang menyebutkan tentang “diet gila gilaan”. Terus terang saya ingin tanya, diet gila gilaannya seperti apa ya?

Neneknya anak saya dari sisi ayah juga penderita diabetes. Beliau juga diminta untuk menjaga makan oleh dokter, walau setahu saya instruksi yang diberikan tidak spesifik. Saya juga melihat ketika masih satu rumah, kalau sang Nini (demikian panggilan anak saya ke beliau) masih makan nasi (walau lebih sedikit), kue-kue, pasta dan kopi atau teh dengan gula. Dengan sedih, saya katakan kalau sekarang beliau juga mengidap Alzheimer’s disease :(.

Saya juga lalu melihat artikel yang sama di surat kabar terkemuka itu. Selain dari artikel tersebut, ada tautan yang serupa, yang setelah saya baca-baca, agak mengagetkan, bagaimana informasi yang diberikan tidak lengkap atau malah agak membingungkan. Kurang paham apakah ini artikel advertorial atau bukan, tetapi ada tulisan yang menyatakan kalau gastric bypass adalah cara jitu untuk mengatasi diabetes dan obesitas. Saya kutip salah satu kalimat dalam tulisannya:

Operasi pemotongan lambung membuat tubuh lebih efisien dalam memproses gula darah sehingga ketergantungan pasien pada insulin berkurang. Hal itu memperbaiki pankreas dan mengontrol diabetes.

Ini seolah memancing simplifikasi yang lebih parah lagi (kalau tau orang Indonesia, ini pasti terjadi) “Potonglah lambung, maka diabetes Anda akan sembuh!”

Tidak diceritakan (lagi) apa sebenarnya diabetes itu, mungkin dikira sudah pengetahuan umum. Jadi kalau kita mau menilik ke belakang, sebenarnya apa diabetes itu?

offensive-forrst-gump-meme

Ketika kita mengonsumsi gula, atau karbohidrat yang kemudian diolah tubuh menjadi gula, maka tubuh akan menghasilkan hormon insulin. Insulin ini yang kemudian mengikat gula dalam darah atau glukosa sehingga bisa diserap oleh sel-sel tubuh. Ini proses normal  yang terjadi. Tetapi ketika gula terus-terusan masuk ke dalam tubuh kita, kemudian insulin sudah mencapai kapasitas maksimum produksi, atau kehilangan sensitivitasnya. Jadi gula masuk ke dalam tubuh, tubuh cuek saja, tidak mengeluarkan insulin kembali, karena itu glukosa dengan bebasnya berenang-renang di darah tanpa bisa terserap ke dalam sel. Jika terjadi dalam jangka waktu yang lama, glukosa yang mondar mandir di darah ini akan menyebabkan berbagai peradangan dalam tubuh, sampai pengerasan pembuluh darah  dan rusaknya organ-organ lain. Saat itulah terjadi diabetes. Jika mendengar ini semua, sebenarnya jadi jelas, bagaimana caranya mengendalikan diabetes. Bukan dengan minum obat (walau mungkin setelah tahap penyakit tertentu, perlu), tetapi dengan memberhentikan asupan gula ke dalam tubuh.

Saat ini di Indonesia diabetes adalah pembunuh ketiga, setelah stroke dan penyakit jantung. Tetapi patut diingat kalau dengan mengidap diabetes, risiko kita akan stroke dan penyakit jantung menjadi dua kali lipat. Jadi bisa jadi penyebab kematiannya berasal dari diabetes juga. Bahkan sekarang Alzheimer’s disease pun sudah disebut diabetes tipe 3 karena begitu eratnya hubungan kedua penyakit ini.

Tentunya siapapun inginnya memiliki bekal pengetahuan yang cukup atas diabetes, termasuk pencegahan dan pengendaliannya. Tetapi masih sering saya dengar kata-kata yang “tapi saya harus merasa manis di lidah, kalau tidak jadi lemas” atau, “mana mungkin tidak makan nasi setiap hari?” Ya itu kembali lagi jadi pilihan ya. Just make sure that you make an informed decision, because sometimes it’s the matter of life and death.

67eb777b5bcec0a02070ed6323a1190b
Udah ah, takut.
Iklan

6 thoughts on “Sekali Lagi tentang Yang Manis

  1. Tadi juga abis post artikel ini di Path. Lalu kembali teringat nasehat Dr. Tan tentang gaya hidup ga sehat yg mengakibatkan diabetes tipe 2 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s