Poros Jakarta-Panama-Barcelona

Sandy tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Keringat bercucuran di sekujur badannya. Padahal AC di kamarnya yang luas masih menyala. Dia pun tidak bisa bangun. Terasa berat sekali badan untuk digerakkan. Jakarta terasa lebih panas. Biasanya inilah waktu ia melakukan solat malam. Seperti malam-malam sebelumnya. Sandy berusaha bangun kembali. Tapi malah terasa lebih berat. Seperti ada makhluk ghaib yang sedang menindihnya. Baru kali ini dia merasakan hal seperti ini. Dia hanya bisa melirik jam dinding yang masih menunjukan jam dua pagi lebih sedikit. Lampu kamarnya masih menyala. Sayup terdengar lagu Imitation of Life dari R.E.M dari pengeras suara Sonos keluaran terbaru. Sandy tertidur dan Michael Stipe seperti sedang memberi pesan. “Ah ini mungkin rupanya yang disebut Rapid Eye Movement.” Ujarnya dalam hati. Dia mencoba tenang dan menarik napas dalam-dalam. Ayat kursi coba dia lantunkan. Walau dalam hati. Berulang kali.

JD: “Hallo, John Doe di sini.. Tertarik dengan informasi rahasia?”

SZ: “Tentu saja kami tertarik.”

JD: “Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Hidup saya dalam bahaya. Kita hanya berbincang melalui files yang terenkripsi. Tidak akan pernah ada pertemuan.

SZ: “Kenapa anda melakukan ini?”

JD: “Saya ingin mengungkap kejahatan ini ke publik”

SZ: “Seberapa banyak data yang kita bicarakan”

JD: “Melebihi apa yang pernah anda bayangkan.”

Seperti biasa, Sandy selalu menyempatkan brunch di restoran salah satu hotel bintang lima di bilangan Jakarta Pusat. Dia sangat menyukai croissant dan espresso di restoran tersebut sambil membaca koran dan merokok. Ketika sedang menyulut sebatang pertama Dunhill, telpon genggam di meja bergetar. Teman dekatnya menyampaikan berita melalui pesan whatsapp bahwa namanya ada di daftar Panama Papers. Lututnya lemas seketika. Dia segera telpon asisten pribadinya untuk membatalkan semua janji hari ini. Hari ini sudah habis. Dia ingin segera pulang. Dia merogoh saku celananya dalam-dalam. Masih ada beberapa butir Zoloft. Segera dia bergegas menuju mobilnya. Supirnya yang sedang mengobrol dengan supir Blue Bird langsung berdiri dan berlari tergopoh-gopoh menuju mobil Alphard milik Sandy. “Lho kenapa, Pak? Koq buru-buru?” sahut Pak Supir sambil membukakan pintu mobil. “Gapapa. Saya gak enak badan. Ada yang yang harus saya kerjakan juga. Balik lagi ke rumah ya, Pak.” Pak Supir cuma mangut-mangut dan langsung tancap gas.

Hari Minggu kemarin adalah hari yang naas bagi kesebelasan FC. Barcelona. Walaupun bermain di kandang–Barcelona tidak bermain seperti biasanya. Padahal ini adalah pertandingan paling penting di Liga Spanyol. El Clasico! Kalah di tandang sudah lama sekali tidak dialami Barcelona oleh Real Madrid. Ini adalah prestasi Zinedine Zidane yang tertinggi sebagai pelatih sementara Real Madrid. Karena banyak pelatih sebelumnya yang gagal mengalahkan Barcelona di Camp Nou, kandang yang terkenal angker bagi tim pendatang. Pelatih sekelas Carlo Ancelotti, Jose Mourinho, ataupun Rafael Benitez takluk pada kedigdayaan tim asal Catalan ini. Ada satu hal yang pasti. Lionel Messi, pesepakbola terbaik saat ini, terlihat loyo. Padahal penampilannya sangat diharapkan untuk membobol gawang Real Madrid. Dia tidak berada pada puncak permainannya. Sepertinya ada beban berat di pundaknya. Pikirannya tidak tertuju pada sepakbola. Tapi Panama.

images

Sampai di rumah. Sandy langsung masuk kamar. Duduk termangu di depan komputer. Lalu dia liat berita seperti yang disampaikan temannya. Ternyata benar adanya. Dia kalut. Dia lihat di sebelah monitor ada sebotol Southern Comfort tinggal sisa setengah. Dia rogoh celana jinsnya. Dia tenggak Southern Comfort langsung dari botolnya dengan tiga butir Zoloft. Southern Comfort kini hanya tinggal seperempatnya saja. Lalu dia buka Apple Music dan setel lagu dari band kesayangannya, R.E.M. secara acak. Dia pun berbaring di kasur sambil menatap langit-langit. Punah sudah harapan menjadi orang satu di ibukota.

 

 

 

 

 

Iklan

3 thoughts on “Poros Jakarta-Panama-Barcelona

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s