Baper Pada Tempatnya

PADA awalnya, tulisan ini ingin saya juduli “Jika Tidak Mengerti, Jangan Sok Bereaksi, Nanti Merasa Bego Sendiri” dengan maksud yang barangkali hanya berupa pengulangan topik-topik sebelumnya. Yaitu soal pentingnya menyimak untuk memahami, serta pentingnya memahami sebelum bertindak demi kebaikan bersama dan diri sendiri. Membosankan. Bisa jadi sama seperti Mas Agun yang bosan membaca komentar-komentar meledak-ledak di artikelnya soal EDM, dari para remaja yang kemampuan membacanya terhenti sampai judul dengan tulisan berukuran besar. Hahaha!

Tapi, setelah dipikir-pikir, terserah saja sih mau ngapain. Toh setiap orang memang berhak melakukan apa pun yang mereka inginkan, kok. Yang penting jangan sampai lupa, setiap tindakan selalu dibayangi oleh konsekuensinya masing-masing. Jadi, saat Anda berhasil membuat orang lain menangis karena sakit hati, pasti ada waktunya ketika Anda menghadapi situasi serupa. Beda suasana, beda penyebabnya, tapi dengan dampaknya yang kurang lebih sama. Sama-sama enggak menyenangkan.

Apakah itu yang disebut karma? Kayaknya enggak juga. Enggak akan pernah bisa sesederhana itu. Karena orang kita selama ini terlalu sering menyalahkaprahkan karma dengan balasan berupa keburukan saja.

Sebaliknya, sebagai penyeimbang ilustrasi di atas, ada waktu saat hati Anda dipenuhi rasa syukur setelah berhasil memberikan pertolongan, sesepele apa pun. Setelahnya akan ada masa ketika Anda merasa sangat berterima kasih kepada seseorang yang sudah memberikan bantuan di momen yang tepat. Impas, bahkan teramplifikasi.

Dalam beberapa tulisan yang lalu, berulang kali disampaikan untuk jangan melakukan sesuatu yang tidak ingin kita alami sendiri. Seruan yang sudah dikumandangkan sejak pertama kali manusia mengenal dan membakukan etika ini tidak pernah berubah sedikit pun. Inti pesannya sama. Lebih bersifat membendung, menahan, mengendalikan, meredam apa pun dorongan yang muncul dan membuat kita ingin melakukan sesuatu.

Namun bagaimanapun juga, pembendungan, penahanan, pengendalian, peredaman itu hanya akan memberikan hasil sementara. Mustahil dihilangkan, dan tak mungkin dipuaskan begitu saja. Hanya bisa menekan. Mengkondisikan terjadinya penumpukan, dan bisa meledak sewaktu-waktu dengan efek lebih besar.

Hadir sebagai legitimasi supremasi tertinggi biar makin tidak bisa ditawar-tawar lagi, seruan-seruan tersebut dipatenkan sebagai salah satu fondasi agama. Beragam nama kodenya, tapi tema utamanya tetap sama. Tidak boleh begini begitu, karena tidak boleh dan terlarang. Titik! Yang diperlukan adalah kepatuhan dan rasa tunduk, serta ketaatan. Tanpa ada ruang untuk kompromi, tanpa ada kesempatan untuk berdiskusi. Munculnya niat untuk berkompromi dan diskusi saja bahkan sudah bisa dikategorikan sebagai bibit-bibit kebejatan, pembangkangan. Padahal memang begitulah cara pikiran bekerja. Diamati untuk dipahami, bukan diborgol dengan rasa takut.

Pada akhirnya, segala bentuk pembendungan, penahanan, pengendalian, peredaman, pembatasan, dan pengekangan yang sedemikian rupa itu pun, tetap saja tidak mampu memadamkan kegelisahan atau menyelesaikan pikiran buram yang menanti untuk ditenangkan, dibuat klir, dijernihkan.

Ditangani dengan akal sehat, bukan semata-mata diberangus macam membasmi rumput ilalang gulma dengan menyemprot racun herbisida.

Jangan heran jika tindak tanduk mereka yang disebut “anak zaman sekarang” kerap dikeluhkan generasi orang tuanya. Dikeluhkan karena kebebalan mereka. Padahal memang metode dan kerangka pikir generasi seniornya saja yang tak lagi tepat dijlentrehke bulat-bulat.

Parahnya lagi, masih banyak sekali “anak zaman sekarang” yang dibesarkan dalam lingkungan terpasung. Ketika mengemukakan pendapat adalah tindakan yang tidak valid, tak bisa diterima, pelecehan terhadap hierarki struktural.

Kalaupun ada ruang untuk menyampaikan pendapat, melulu hanya seremonial, sekadar untuk memperjelas siapa yang bisa mendominasi dan yang harus patuh tanpa “tapi… tapi…”, meriah diwarnai “pokoknya…

Tetapi, lagi-lagi ya, boro-boro bisa memberi dasar alasan dan argumentasi yang tepat, masih banyak anak-anak zaman sekarang yang dibesarkan untuk manut saja. Orang tuanya pun begitu, lantaran merupakan produk dengan metode serupa. Hasil akhirnya, sama-sama enggak bisa berlapang akal dan dada.

Tidak bakalan bisa terjadi, atau mungkin langka, ketika ada orang tua yang bisa menanggapi argumentasi dan alasan-alasan logis anaknya dengan komentar: “bener juga ya kamu.” Ketika sang buah hati memang benar-benar benar dan tepat. Lewat penerimaan argumentatif itu pula, tak menutup kemungkinan sang anak akan tumbuh dengan batin yang kondusif, yang enggak doyan gedebuk-gedebukan demi mencari kepuasaan misterius, yang terbiasa bertingkah laku waras di tengah belantara kegilaan.

Tak hanya dalam lingkungan keluarga, begitupun juga dalam sekat-sekat kantor dan lingkup sosial lainnya. Setiap orang seolah diwajibkan untuk mengobarkan ego sebesar-besarnya. Entah apa tujuan sebenarnya.

Sesungguhnya, saya ndak ngerti sedang bicara (menulis) apa. Mbuh!

Boleh jadi saya hanya lelah. Lelah dengan kelakuan manusia-manusia Indonesia lainnya, yang diekspose beragam media, kemarin.

Para sopir taksi membabi buta di Jakarta, bahkan kepada sesama rekannya sendiri atas nama solidaritas. Kampret! Padahal saya di Samarinda yang adem ayem ndak ada apa-apa. Baper tidak pada tempatnya kali. Entahlah.

Baca tweets aksi sosial galang dana operasi tulang patah untuk seorang bayi yang gagal diaborsi. Bajingan! Kalau yang ini jelas baper, soalnya baru punya keponakan kandung usia setengah tahun. Lagi lucu-lucunya.

Serangan bom di Brussels sana (dan sebelum sebagian dari Anda protes, simpati saya juga untuk serangan yang terjadi di Turki beberapa hari sebelumnya). Keduanya, ya okelah secara proximity agak kurang terasa menggetarkan ketimbang dua kejadian sebelumnya, tapi ya tetap mbunuh-mbunuhin orang. Nyawa kayak enggak ada banderol harganya.

Pasti ada aja yang bisa nyeletuk: “ya udah, gak usah nonton TV, buka Internet, atau mainan media sosial. Repot amat!” Jalan keluar yang egois dan menipu diri sendiri. Sebab, memutus kontak informasi dengan dunia luar begitu saja ibaratnya sama seperti sengaja mencungkil mata karena benci dengan teriknya sinar matahari, di musim kekeringan yang mematikan. Ndak ngefek!

Sedangkan di sisi yang berseberangan, makin bingung membedakan mana anarchist benaran dan activist yang sekadar poser, baik dari alur pemikiran kiri maupun kanan.

Setan saja barangkali takut berhadapan dengan manusia.

Ah… Lebih baik bergeming, duduk tenang di dipan bernama “saat ini”. Membiarkan semua kekalutan yang tidak nyaman itu muncul, dihadapi dengan cara diamati, sesusah apa pun itu, dan… ya sudah, begitu doang.

Maaf ya, sudah membuat Anda menyia-nyiakan beberapa belas menit dari Rabu pagi yang indah ini. 🙂

[]

Iklan

18 thoughts on “Baper Pada Tempatnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s