Aku Akan Selalu Ada Di Belakangmu

Media sosial dan internet ini adalah dua hal yang sangat erat kaitannya. Siapa sih yang tidak punya akun di Facebook, Twitter, Path, Instagram, Whatsapp atau Line? Saya kira hampir 75% mereka yang mempunyai telepon genggam pintar yang terkoneksi dengan internet pasti memiliki salah satu akun di atas. Yang membedakan adalah kadar pemakaiannya. Dari kadar pemakaian tersebut bisa dilihat tergolong ke bagian mana kamu sebetulnya. Apakah yang cuma scroll aja. Atau tidak henti-hentinya selfie. Atau kultwit setiap saat seakan dunia akan berakhir besok. Atau check-in di mana pun anda berada. Atau foto makanan lalu unggah ke media sosial favorit sebelum makanan tersebut dilahap. Hap.

psycho

Semua tipe itu akan berujung kepada dua golongan. Voyeur atau eksebisionis. Atau dua-duanya. Voyeurisme ini mungkin lebih dikenal dengan kata kepo kalo kata anak muda sekarang. Yang akan menuju pada tahap stalking atau menguntit. Sementara eksebisionis mungkin mereka yang suka memamerkan kegiatan apapun dan mengunggahnya ke media sosial favorit anda dengan sadar. Dunia harus tahu. Gila aja udah liburan jauh masa orang-orang gak tau. Dua tipe di atas mempunyai konsekuensi. Bisa bagus bisa jelek.

a ​person who gets ​sexual ​pleasure from ​secretly ​watching other ​peoplein ​sexual ​situations, or (more ​generally) a ​person who ​watches other people’s​private ​lives:

Voyeurisme, ngintip, kepo, atau nguntit. Itu bila kamu sekedar skroll di media sosial. Jarang sekali posting. Tapi selalu ada. Selalu mengamati. Suatu gejala yang saya kira cukup wajar di era millennium ini. Selama kadarnya masih wajar saja. Tapi voyeurisme ini bisa sangat menggoda iman. Dengan pepatah rumput tetangga terlihat lebih hijau maka ini akan menjadi berbahaya bagi sebagian orang. “Waduh si Badu jalan-jalan mulu ya ke luar negeri. Ke Tanzania pulak. Jadi pengen.” Ini salah satu ekses yang bisa terjadi. Dan apabila iman anda goyah maka akan mengikuti Badu untuk ikut jalan-jalan. Padahal kamu mungkin gak begitu membutuhkan itu. Tapi demi mengunggah foto dengan latar belakang citah, beruang, atau singa kan akan mengundang belasan mungkin puluhan “love”.  Walaupun resikonya bisa diterkam beruang. Yagapapa. Leo aja dapet Oscar kan karena menderita karena diterkam beruang? Padahal ngomongnya dikit. Cuma modal bewok ama mengerang dan melenguh “Aarrghh”, “Eurghhh”. Gitu doang.

Voyeurisme ini akan menjadi berbahaya ketika kamu menjadi Robin Williams di film “One Hour Photo”. Voyeurisme yang terjadi kepada Glenn Close di film “Fatal Attraction” pun tentunya sangat dihindari oleh Michael Douglas. Film pertama Chris Nolan pun yang berjudul “The Following” temanya mengenai voyeurisme yang mengundang bahaya. Film termurah dari Chris Nolan sebelum dia membuat “Memento”. Contoh lain dari voyeurisme adalah film dari David Lynch yang berjudul “Blue Velvet”, yang juga berbahaya. Seperti pepatah terkenal dari Botswana yang mengatakan “curiousity killed the cat”.

rear2

Tapi sebaliknya voyeurism bisa bermanfaat ketika kakimu cedera, digips, dan tidak bisa kemana-mana. Padahal tugas untuk memotret sudah terjadwal. Jari udah gatel pengen mencet tustel. Yang bisa dia lakukan hanya duduk di kursi roda dan melihat situasi dan kondisi terkini tetangga melalui jendela apartemennya seperti James Stewart di film “Rear Window”. Film besutan Hitchcock ini mungkin contoh paling afdol mengenai voyeurisme. Ketidakberdayaannya di kursi roda ini menimbulkan rasa ingin tahu yang besar. Karena apa yang bisa dilakukan? Apalagi jika anda seorang fotografer handal yang gemar bertualang? Pemandangan sekitar akan menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat. Dan rasa ingin tahu akan keadaan sekitarnya adalah hal yang sangat manusiawi. Di sini kita melihat psikologi seorang manusia yang pada dasarnya kepo. Apalagi jika melihat ada sesuatu yang janggal dengan salah satu dari banyak tetangganya. Dia bahkan menelantarkan kekasihnya yang cantik jelita yang diperankan oleh Grace Kelly. Meski ia sudah berupaya sedemikian rupa untuk menarik perhatian pasangannya tapi tidak berhasil yang membuat ia meragukan apakah betul James mencintainya dan akan menikahinya. Karena James Stewart tetap bergeming dan melanjutkan kegiatan ngintipnya. Kesel gak? Nyebelin kan? Grace Kelly gitu lho. Dia malah terobsesi menjadi detektif dadakan dan berusaha mengungkap misteri yang terjadi. Tapi percaya deh. Ini salah satu film terbaik yang pernah dibuat oleh Hollywood. Ini adalah film tentang film-film dalam sebuah film. Seperti kata “curcol”. Sudah singkatan disingkat lagi disingkat lagi. Jika belum menonton sempatkanlah. Jika sudah sempatkanlah menonton lagi. Buat yang anti film Hollywood, kamu kenapa? Siapa yang menyakitimu?

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raaf:31)

Dan akhirul kata, seperti ayat Qur’an di atas. Maka memang bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak banyak manfaatnya. Lebih banyak mudharatnya. Sewajarnya saja. Yang sedang-sedang saja. Tidak cantik dan tidak jelek. Yang penting setia. Seperti lagu dangdut. Jangan kayak Sting pas nyanyi lagu di bawah ini. Hih. Stalker.

 

 

 

 

 

Iklan

5 thoughts on “Aku Akan Selalu Ada Di Belakangmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s