Dihargai

Singkat saja: apa yang membuat kita senang melakukan apa yang kita kerjakan?

Jawabannya adalah apresiasi.

Bukan berupa gaji bulanan, bonus, bayaran atau honor. Tapi apresiasi dalam bentuk lain, yang acap kali sifatnya adalah intangible, atau tidak terhitung secara kuantitatif. Bisa saja dalam bentuk benda, tapi apresiasi yang mengena di hati biasanya tidak berbentuk barang.

Kalau dalam line pekerjaan saya, apresiasi datang saat pembuat film bertemu penontonnya, yang menyampaikan pertanyaan, atau sekedar kesan terhadap film itu. Semuanya disampaikan langsung, sehingga pembuat film dan penonton sama-sama tahu reaksi mereka.
Ini berlaku juga untuk bidang lain, saat orang mendengar, tersenyum, memuji penampilan musisi yang mereka tonton. Penikmat seni menyampaikan pemahaman mereka atas patung, lukisan, foto, atau seni instalasi yang mereka lihat.
Atau sekedar hadir dari undangan peluncuran buku, pemutaran perdana film, pertunjukan tari, meskipun tontonan itu di luar area kenyamanan kita.

Semua bentuk apresiasi ini tidak perlu uang. Hanya perlu kesungguhan.

Dan buat Anda yang mengapresiasi, keberanian Anda untuk mengungkapkan pendapat, bertanya, atau sekedar datang menghadiri undangan patut dipuji. Perlu keberanian untuk berpendapat. Perlu kejujuran untuk bertanya. Perlu rasa legowo untuk memprioritaskan satu acara di atas acara lain.

Ucapan “congrats ya”, atau “selamat!”, rasanya kadang melebihi paycheck kita. Mereka tidak akan bisa mengganti kebutuhan kita akan bayaran. Tapi mereka akan melengkapi, dan membuat kita semakin semangat lagi untuk melakukan apa yang kita kerjakan.

Semua orang ingin dihargai. Semua orang patut menghargai.

Singkat saja.

vault_boy_dock_icon_by_oloff3

Iklan

6 thoughts on “Dihargai

  1. saya jadi ingat omongan orang tua saya, “pujian dan penghargaan itu seperti opium. kamu menikmatinya dan kamu teracuni.”

    in turn, we try doing things for the sake of appreciation. beramal untuk pahala, merendah untuk dipuji, memberi untuk diakui, update status untuk likes dan hearts, sampai akhirnya pekerjaan dan perbuatan kehilangan esensinya sebagai sumber penghidupan atau membawa kebaikan…

    btw, i appreciate your thought, and this was written nicely

    Suka

    1. Of course people want to be appreciated for what they do. And like what you said, it is addictive. However, I believe that eventually, what matters most is self satisfaction. If we like what we do, then hopefully we will have self fulfillment that what or how others perceive will be secondary.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s