Cuma Angka

PERCAYA atau tidak, manusia adalah makhluk yang selalu di-bully atau dirisak oleh lingkungan sosialnya sendiri. Salah satunya lewat jebakan ego yang disebut “senioritas”.

Apabila kamu sedang kesal atau bermasalah dengan senior di kantor, di kampus atau sekolah, maupun dalam organisasi, artinya kamu tengah merasakan dampak emosional dari perisakan tersebut.

Hal ini terjadi ketika sang senior merasa boleh-boleh saja bertindak begini-begitu kepada junior, sementara si junior merasa terusik tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena terhalang sejumlah batasan. Beberapa di antaranya seperti sopan santun dan tata krama, struktur organisasi, jalur komando, status kekerabatan dan keluarga, serta lain sebagainya.

Pada umumnya, masalah yang timbul dari senioritas ialah ilusi eksistensial dan ketidakadilan.

Ilusi eksistensial; merasa memiliki kualitas dan telah memenuhi sejumlah ketentuan agar bisa disebut senior. Ataupun sebaliknya, merasa lebih unggul dan harus dihormati karena merupakan seorang senior.

Contoh dalam kalimat: “aku senior di sini! Anak kemarin sore enggak usah banyak ngomong deh.

Ilusi-ilusi di atas akhirnya mendorong senior untuk melakukan sesuatu yang mengganggu kepada junior, atau orang-orang yang dianggapnya lebih cupu. Namun tidak adilnya, mereka malah tersinggung bila mendapat perlakuan yang sama.

Contoh dalam perbuatan: senior menghina dan mengolok junior sambil tertawa-tawa, bercanda yang kelewatan. Saat kondisinya terbalik, senior malah menuduh junior bersikap kurang ajar.

Kebanyakan dari kita selama ini menganggap wajar saja bila senior bersikap arogan terhadap junior, tetapi bukan sebaliknya. Padahal siapa pun pelakunya, arogansi enggak membuatnya lebih keren.

Ironisnya lagi, situasi tidak imbang ini juga kerap terjadi dalam keluarga, serta di lingkungan sekolah dan kampus. Sampai-sampai perpeloncoan dianggap sebagai latihan mental, membangun karakter individu agar sanggup dan kuat menghadapi tekanan-tekanan kehidupan di masa depan.

Kalau dimarahi itu kepalanya nunduk, Dek! Kamu nantang, nih?

Sejauh ini, ada beberapa faktor umum yang bisa membuat seseorang merasa senior di lingkungannya masing-masing. Beberapa di antaranya,

  1. Usia
  2. Pangkat/Jabatan/Kedudukan
  3. Kemampuan
  4. Pencapaian Prestasi

Keempat faktor di atas sama-sama bisa bikin sungkan, hanya saja orang Indonesia cenderung lebih berat pada usia dan pangkat/jabatan/kedudukan. Lantaran dua faktor pertama di atas, seseorang bisa dipanggil “Pak” atau “Ibu” dalam lingkup formal. Sedangkan dua faktor berikutnya seringkali kalah kuat bila disandingkan dengan usia dan pangkat/jabatan.

Usia, kata banyak orang, cuma perkara angka. Sekadar penanda siapa yang lahir lebih dulu dari siapa; pembeda antara yang tua dan yang muda, terutama jika sulit menebak dari tampilan fisiknya.

Lumrah kita berpikir, makin tua usia seseorang, makin banyak pengalaman hidupnya. Kemudian, makin banyak pengalaman hidup seseorang, makin bijaksana pula caranya dalam memandang kehidupan serta pernik-perniknya. Pengalaman dan kebijaksanaan itulah yang perlu dipelajari dan mendapat respek, bukan semata-mata seberapa besar digit usia pemiliknya.

Akan tetapi, tidak ada yang mustahil terjadi. Apalagi di era telekomunikasi seperti saat ini; panggungnya para millennial dan Gen Z, ketika banyak anak muda jauh lebih unggul ketimbang para seniornya. Termasuk orang tuanya sendiri.

Di sisi lain, usia boleh jauh lebih tua, tapi ada banyak bidang yang tidak dikuasai. Jadi, sebaiknya menghindari bersikap sok-sokan dan bersedia belajar dari junior. Begitupun sebaliknya, para anak muda kekinian hendaknya jangan terjebak egonya sendiri dengan bersikap songong, apalagi memandang rendah orang-orang yang lebih tua namun tak punya kemampuan seperti dirinya.

Sama-sama dipahami saja bahwa tidak semua orang yang lebih tua itu gila hormat, dan tidak semua anak muda belum mengerti apa-apa. Sehingga urusan senior dan junior berdasarkan usia tidak disikapi dengan bias gengsi serta harga diri.

Patokannya sederhana saja kok: “memperlakukan orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakuan oleh orang lain,” dan “tidak memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang tak ingin kita dapatkan dari orang lain.

Ada kalanya, yang senior tidak selalu lebih benar, dan yang junior tidak selalu lebih pintar. Terkadang, memang dibutuhkan anak kemarin sore untuk menghadapi hari ini.

Pertanyaannya sekarang,

  • Lebih banyak mana, senior yang arogan atau junior yang urakan?
  • Lalu mau pilih yang mana, jadi senior yang kampungan atau junior yang minderan?

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s