Merajut Benang Kusut

Menurut survey terbaru terhadap millennials–yang pertanyaannya adalah apa sih yang tujuan dari hidup ini. Lebih dari 80% responden menjawab untuk menjadi kaya. Sementara 50% lainnya ada yang menjawab adalah untuk menjadi terkenal. Dua jawaban yang sangat wajar. Dan kita selalu dihadapkan pada kenyataan untuk selalu bekerja dan bekerja untuk mencapai tujuan yang kita raih. Keduanya bisa menjadi batu loncatan untuk ke tahap selanjutnya: bahagia. Betulkah begitu?

happy

Dr. Robert Waldinger, seorang psikiatris dan psikoanalis dari Harvard University, melakukan survey mengenai permasalahan yang tak kunjung usai ini. Survey ini sudah berjalan sejak tahun 30an. Respondennya masih sama. Rata-rata mereka sudah mencapai umur 90an sekarang. Survey ini dilakukan terus menerus secara berkesinambungan. Hingga ke anak-anak dari responden tersebut.

But what if we could watch entire lives as they unfold through time? What if we could study people from the time that they were teenagers all the way into old age to see what really keeps people happy and healthy?

Mereka melakukannya. Ini bukan survey abal-abal. Survey ini langsung dari Harvard Study of Adult Development, salah satu studi paling komprehensif dan paling berkesinambungan sepanjang sejarah. Sangat jarang ada studi seperti ini. Biasanya terhenti di tengah jalan. Dengan berbagai alasan. Bob adalah direktur keempat yang menggawangi survey ini. Studi ini di langsungkan di kota Boston dan sudah berjalan selama lebih dari tujuh puluh lima tahun dan masih berlangsung hingga hari ini. Kita tidak usah mempertanyakan keabsahan studi ini. Lalu apa hasilnya?

Good relationships keep us happier and healthier

  1. Mereka yang terhubung secara sosial bersama keluarga, teman, pasangan, atau komunitas cenderung hidup lebih sehat dan lebih positif.
  2. Kualitas dari suatu hubungan bersama pasangan adalah hal yang sangat penting daripada kuantitas. Mereka yang mempunyai “high conflict marriages” cenderung hidupnya tidak sehat. Bukan dilihat dari banyaknya teman. Kualitas. Bukan kuantitas.
  3. Mereka yang menikah/berpasangan, tidak berpisah, dan tidak mempunyai masalah serius dalam hubungannya hinggal usia 50 cenderung memiliki memori yang lebih kuat dibanding dengan yang tidak. Ini menunjukan bahwa mereka yang mempunyai hubungan yang erat dan stabil cenderung hidup lebih lama dan lebih sehat.

happy3

Tentunya tidak semua hubungan lancar jaya. Tanpa konflik. Gesekan itu pasti ada. Intrik selalu melirik. Tapi bukankah di situ sensasinya? Di sebuah suratnya teruntuk Lara Spauldin–Mark Twain pernah berujar:

“There isn’t time, so brief is life, for bickerings, apologies, heartburnings, callings to account. There is only time for loving, and but an instant, so to speak, for that.”

 

Iklan

One thought on “Merajut Benang Kusut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s