Komentar Sedikit

Kurang lebih seminggu yang lalu, saya seperti biasa kembali ke rumah dari kantor dengan mengendarai bis Trans Jakarta. Ini termasuk jarang terjadi di koridor saya, tetapi hari itu saya  mendapat bis gandeng, dengan kondektur satu yang sangat vokal. Maksudnya vokal, sang kondektur dengan rajinnya memberi informasi dengan suara keras di setiap halte yang bis akan berhenti, lengkap dengan petunjuk dan peringatannya yang lain; “Cowo tidak boleh masuk dari pintu depan!” (ya, ini verbatim, dia memang tidak menyebut ‘pria’ atau ‘laki-laki’ tapi ‘cowo’), “langsung isi bagian yang masih kosong, dilarang berdiri di bagian pintu masuk-keluar”, dan yang paling sering adalah kalimat, “dilarang bersender di pintu, karena…” saya menahan napas untuk mendengarkan argumennya, “pintu bukan untuk disenderi.” oh baiklah. Kalimat ini diulang di setiap pemberhentian, dan semakin dekat ke rumah saya semakin terganggu.

Sampai di rumah, entah mengapa saya masih teringat kalimat itu, dan sebelum tidur saya ceritakan ke anak saya pengalaman itu, sambil bertanya, apa kira-kira yang agak aneh atas peringatan itu. Anak saya awalnya kurang paham, jadi saya buat contoh lainnya. Saya bilang, kalau ada lantai yang becek, lalu saya peringatkan dia, “Sayang, jangan lari ya, karena lari itu lebih cepat dari jalan.” Anak saya langsung tertawa keras-keras, “Kok gitu ngomongnya, Bu.” saya bertanya, menurut kamu yang lebih tepat Ibu ngomongnya bagaimana? Menurut dia yang lebih enak mungkin menyebutkan akibat dari hal yang saya beri dia peringatan, atau informasi tambahan seperti “Jangan lari, nanti terpeleset.” atau, “Jangan lari, lantainya licin karena basah.”

Sebenarnya bebas saja ya, buat seorang yang berbicara menggunakan hubungan apapun untuk dua kalimatnya. Tetapi ketika digunakan kata “karena” harusnya hubungannya adalah kausalitas, dan yang jelas “tidak boleh bersender di pintu” dan “pintu bukan untuk disenderi” itu bukan sebab akibat. Tapi ya, tentunya sulit mengharapkan logika sederhana seperti itu dimengerti oleh warga negara yang disuapi materi informasi dan pembelajaran oleh negara yang selalu memberikan alasan dan pengertian yang tidak menghargai, bahkan menghina nalar dan logika manusia.

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Komentar Sedikit Leave a comment

Leave a Reply