Malam Mingguku

11

Halaman kosong di depan matanya sudah 3 jam lebih memandang dengan tatapan kosong. Besok adalah deadline. Tanggal jatuh tempo tulisan ini harus dimuat. Belum ada satu kata pun yang berhasil dituliskannya. Setiap detik berlalu, jantungnya berdegup semakin kencang. Kepanikan mulai datang. Bagaimana kalau tak berhasil menuliskan apa pun? Tak ada satu pun benda atau makhluk hidup di depan matanya yang berhasil mendatangkan ide untuknya. Dia pun merebahkan kepalanya ke meja.

Dia lalu mengingat ingat pesan dari beragam guru kehidupannya. Yang semuanya seragam memberikan satu nasehat: ide terletak di ketiakmu. Dia berada tak jauh darimu. Bukan di puncak gunung tertinggi. Atau di bawah pohon besar dan tua. Bukan pula bersemayam di lembah-lembah duka atau langit-langit keceriaan. Di ketiakmu ide menanti untuk diketemukan.

Diangkatnya ketiaknya. Ditemukan rambut-rambut halus. Dia mendekatkan hidungnya ke ketiaknya. Seketika angin halus dari hidungnya bertiup tanpa rencana. Memberikan sensasi geli yang mambuatnya tersenyum. “Kamu di situ?” Katanya kepada ketiaknya. Ketiaknya diam saja. Tak bersuara sama sekali. “Bokis itu guru-guru!” Umpatnya dalam hati. Tak ada ide di ketiak. Dirapatkan lagi lengannya. Ketiaknya pun menutup kembali.

Dari mana orang-orang besar di dunia ini bisa menemukan ide. Ide besar yang menggema di hati orang lain. Yang membawa fantasi langit biru tertinggi. Membuka wawasan dan cakrawala baru. Membuat orang melihat dunia dengan cara yang berbeda. Dengan sudut pandang yang mencerahkan. Inspiring, kata anak-anak #kekinian. Mengundang decak kagum saat pertama kali orang melihatnya. Apakah benar Ide memiliki nyawa dan kehendaknya sendiri? Datang hanya kepada orang-orang yang diinginkannya? Orang-orang terpilih yang beruntung. Yang hanya dengan melihat sebuah benda apa pun bisa menghasilkan banyak ide-ide. Berkembang. Beranak pinak.

Kalau benar Ide memilih, mengapa bukan aku? Katanya dalam hati. Sambil terus memandang halaman kosong di depannya. Mereka beradu pandang. Cukup lama. Sampai seekor kutu kecil, merayap di mejanya. Ingin hatinya untuk segera mematikan kutu itu. Tapi terngiang pesan seorang gurunya berkebangsaan India beragama Hindhu yang bilang setiap makhluk di dunia ini berhak untuk hidup. Bahkan semut terkecil sekali pun. Jangan pernah kau cabut nyawanya. Dengan halus ia pun menepak kutu itu supaya pindah ke tempat lain.

Ada pula yang bilang, Ide bisa datang dari kisah orang-orang di sekitar kita. Sialnya, malam ini tak ada satu pun orang di sekitarnya. Ah! Sekarang ini era media sosial. Kita bisa membaca beragam pikiran orang melalui Twitter, Facebook, dan Path. Gambar-gambar hasil jepretan orang-orang pun tersebar di Instagram. Mana tau dari situlah Ide berasal.

Jantungnya berdebar penuh harap saat membuka Twitter. Media sosial yang sempat hit pada masanya dan konon kini telah memasuki usia senja. Setelah sekian lama tak dibuka, akhirnya dia pun membuka linimasa Twitternya lagi. Satu persatu dibacanya.

Pro Kontra LGBT

Pro Kontra Kabel Listrik

Pertandingan sepak bola yang tak pernah dipahaminya.

Jomblo mencari jodoh.

Keluarga menikmati malam Minggu.

Pedagang tas bermerk.

Orang NGO berorasi.

Pakar politik berpendapat.

Motivator memberikan motivasi.

Pelawak mentertawakan dirinya sendiri.

Peramal masa depan meramal.

Istri kesepian ditinggal suami bekerja.

Suami menggoda perempuan lain.

Penulis buku menjajakan buku terbarunya.

Anak SMP merengek tak diajak nonton Java Jazz Festival.

Sementara pencinta  musik Jazz memberikan laporan pandangan mata.

Foto perjalanan pengelana dunia.

Nike+ seorang pelari yang baru selesai.

Foto makan malam.

Komplenan Uber.

Komplenan Gojek.

No mention tweet yang mengundang tanda tanya.

Stasiun TV mempromosikan acara ulang Oscar.

Sepatu impian yang berhasil dibeli.

Sampai lambang amplop menyala. Eh, ada Direct Message. Dari siapa nih, tumben. Dibukanya amplop itu dengan tergesa tak sabar. Seperti surat yang dibawa Pak Pos pada masanya. Penuh tanda tanya. Pengirimnya selama ini belum pernah dijumpainya. Hanya sering melihat tweet-tweetnya saja di linimasa.

Sambil tersenyum-senyum dia membaca dan kemudian membalasnya. Hatinya tertawa bahagia. Dia mendadak jadi orang paling bahagia di dunia ini.  Pesan singkat yang mengubah malam penuh deadline tak lagi masalah. Karena ada harapan besar menanti seketika. Jantungnya berdetak lebih kencang.

Dia pun menatap balik kepada halaman kosong yang telah menatapnya dari tadi. Didekatkan kepalanya. Sampai hidungnya hampir menyentuh layar. Dia menarik napas dalam-dalam. Kemudian menghebuskan nafas dengan kencang. Seketika layar komputernya itu terisi oleh rangkaian kata-kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang menjadi alinea. Sebuah artikel rampung seketika.

Tak dibacanya lagi isi artikel yang tercipta dari satu hembusan nafas. Sampai nafas terakhir berhembus. Dia pun berdiri sambil mematikan komputernya. Dan bergegas untuk mandi.

 

 

Iklan

2 thoughts on “Malam Mingguku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s