Main Hati

Momen ini terjadi sudah belasan tahun yang lalu. Tapi entah kenapa, masih membekas sampai sekarang.

Waktu itu, saya baru menjadi mahasiswa beberapa bulan. Meskipun begitu, saya sudah cukup aktif di kampus dengan mengikut berbagai kegiatan. Selain kegiatan ekstra kurikuler, ikut juga kegiatan lain: aktif membolos kalau ada mata kuliah yang dosennya kurang asyik.

Suatu hari, pada salah satu hari besar agama, ayah saya memutuskan untuk merayakan di kampus saya. Kebetulan memang kampus ini punya area yang cukup luas, yang sering dijadikan tempat perayaan keagamaan.
Selesai beribadah, masih di tempat parkir mobil menunggu antrian keluar, saya melihat sosok seorang pria paruh baya sedang berjalan. Entah kenapa, tiba-tiba spontan saya bilang, “Eh, pak X. Kok tumben ada.”

Ayah saya ikut menoleh sejenak ke arah orang yang saya maksud. Lalu ayah saya bertanya, “Itu dosenmu? Kamu kenal?”

Saya jawab, “Iya.”

“Kok nggak disapa?”

“Males ah. Lagian galak. Ngajarnya nggak enak.”

Ayah tertawa kecil. “Emang galaknya kenapa?”

“Ya sering marahin anak-anak aja. Malesin.”

Ayah masih tertawa kecil. Lalu dia berkata, “Bagaimanapun juga, dia gurumu. Suatu saat kamu pasti butuh dia.”

Lalu kami berhasil keluar dari tempat parkir. Saya terdiam.

Sekitar setahun setengah setelah kejadian itu, saya harus menemui dosen saya ini kembali. Saat itu dia baru saja dilantik menjadi dekan. Saya harus mendapatkan tanda tangannya, agar ijin cuti kuliah bisa keluar. Dari sekian tanda tangan yang harus saya dapatkan untuk mengurus surat ini, tanda tangan beliau ternyata yang paling susah untuk didapat. Perlu berhari-hari untuk sekedar mendapat tanda tangan beliau, sampai akhirnya saya bisa cuti panjang dari kampus lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak menamatkan kuliah saya di kampus ini.

Beberapa tahun kemudian, saya mulai menonton serial “Glee”. Agak terlambat mengikuti serial ini. Setelah jalan beberapa episode di season 1, baru saya mulai menonton. Ada satu adegan kecil yang membuat saya tertawa.

Di adegan ini, Kurt Hummel (yang diperankan Chris Colfer) sedang di-bully teman-temannya. Ceritanya Kurt selalu menjadi obyek perlakuan kasar teman-teman sekolahnya, yang menganggap Kurt adalah banci. Kurt tahu dia selalu diperlakukan tidak adil. Namun Kurt selalu cuek, meskipun sering sakit hati.
Pagi itu, Kurt akan dimasukkan ke dalam tong sampah. Kurt tahu dia akan dimasukkan ke dalam tong sampah oleh gerombolan “preman” sekolah.
Tetapi sebelum Kurt dilempar, Kurt berkata ke gerombolan ini:

“Don’t forget. Soon you will be working for me.”

Spontan saya tertawa melihat adegan ini.
Kebetulan adegan ini terjadi di beberapa teman saya. Mereka bercerita, bahwa mereka sering dijadikan bahan cemoohan waktu SMA, karena berpenampilan nerdy. Atau tidak mengikuti kegiatan populer di waktu SMA, seperti olahraga, cheerleading, dan lain-lain.
Tapi seiring waktu berjalan, ternyata mereka sukses di bidang yang mereka jalani.

Salah satu teman saya sampai heran.

“Waktu itu gue lagi nyari asisten. Pas sorting CV, ya ampun, masak gue nemuin surat lamaran dari temen SMA gue?”

Saya tanya, “Terus gimana. Elo hire?”

“Gak sih. Takut awkward. Mana itu temen SMA yang sering bully gue jaman dulu. Ntar dia shock lagi kerja dan harus report ke gue. Tapi itu udah membuktikan ya, kalo dunia itu berputar. Hahahaha!”

Mengutip kata-kata Cate Blanchett waktu menjadi Best Actress di Oscar tiga tahun lalu (mumpung masih demam Oscar), “The world is round people.”
Artinya, semua yang di atas, akan sampai juga di bawah. Semua orang pasti akan merasakan dua sisi hidup. Mau itu di atas dan di bawah, di kiri dan di kanan, di depan atau di belakang. Pasti akan ada gilirannya.

Demikian pula dengan urusan hati.

girl-with-cutout-hearts-clipart

Ketika kita membuat sakit hati orang lain dengan merampas hak hidupnya, baik dalam bentuk umpatan, cacian, larangan, atau penindasan, tentu saja ini meninggalkan luka. Bisa dalam bentuk trauma, atau kenangan buruk yang susah dilupakan.
Banyak yang lemah dan memilih untuk tidak melanjutkan hidup. Kalaupun tetap hidup, ada yang jadi merana.

Ada juga yang malah membentengi diri dengan berbagai ilmu. Kebanyakan teman saya yang mengalami abuse, dalam bentuk apapun, justru melawan perlakuan itu dengan memperkaya diri. Belajar berbagai bahasa. Menuntut berbagai ilmu. Bekerja dan berbisnis sampai kaya. Berolahraga membentuk tubuh. Mendalami spesialisasi ilmu pengetahuan.

Tujuannya macam-macam. Kalau dirunut bisa menjadi satu hal: untuk melupakan perlakuan tidak adil yang mereka terima. Intensitas untuk menjadi yang terbaik dan lepas dari trauma membuat mereka menjadi excellent.

Kemewahan berupa kekuatan diri ini memang tidak bisa dimiliki semua orang. Perlu waktu untuk membangun dan memupuk.

Namun sebelum kita mengatai orang lain, mencaci maki atau merampas hak hidup orang lain, mungkin kita patut bertanya: siapkah kita menjadi peminta-minta bantuan dari orang ini kelak nanti?

8 thoughts on “Main Hati Leave a comment

  1. Hari ini, saya baru saja di tikung teman kerja ( ceritanya projek gitu deh ) sampai bos besar telepon untuk membesarkan hati saya dan berjanji adil untuk hasil kerja nanti. Rasanya marah dan sakit hati sekali, lalu saya berniat membuka linimasa, dan membaca ini. Nangis sambil ngetik. Tapi terima kasih banyak ya, it means a lot for me.

  2. Mas Nauval gak lanjut di kampus lama, terus pindah ke mana?

    Berarti bisa dikatakan saat di pembukaan tulisan, kalo Mas terlalu “main hati” sama Dosen itu saat ngajar ya. Padahal mau-gak-mau suatu saat pasti butuh Beliau.

Leave a Reply