Oscar 2016 Bukan Buat Leo Tapi Ennio

Halo, selamat ya pendukung Mad Max: Fury Road. Film ini kemarin dapet penghargaan paling banyak. Walaupun untuk beberapa peran bergengsi lepas ke film lain. Tapi tidak apa-apa. Itu sudah biasa. Kue kan harus dibagi-bagi. Untuk lihat kumpulan pemenang komplitnya bisa dilihat di sini. Saya sekarang cuma mau melihat dari perhelatan kemarin dari sudut yang agak berbeda. Ada satu kategori yang saya perhatikan kemarin pagi. Best Original Score. Original score adalah musik latar yang hadir ketika film sedang diputar. Kategori ini biasanya dihuni oleh para komposer atau musisi yang tentu saja handal di bidangnya. Bukan pekerjaan yang mudah membuat komposisi musik untuk dimasukkan ke sebuah adegan film. Masih ingat film “Jaws” karya Steven Spielberg? Komposisi musiknya diisi oleh John Williams, salah satu maestro dan hampir selalu ada di film Spielberg. Bayangkan jika tidak ada musik di film tersebut. Tentu film Jaws tidak akan semenegangkan kalau tidak ada musiknya. Contoh lainnya film Star Wars. Masih dari John Williams. Semua penyuka film ini pasti langsung ingat adegan awal ketika film dimulai. Khas karya John Williams. Yakan? Kalo mau denger tinggal pencet play. Di “Indiana Jones” pun begitu. John Williams menancapkan standar baru dalam membuat komposisi musik di sebuah film. Bahwa komposisi musik pun adalah elemen yang penting dan tidak bisa dilupakan dalam sebuah film.

Ennio Morricone, composer

Ada satu “orang lama” dan sakti mandraguna di Oscar tahun ini. Dia adalah sang maestro, Ennio Morricone. Dia lahir tahun 1928. Usianya akan menginjak 88 di tahun ini. Tidak banyak orang yang mencapai usia ini dan masih tetap berkarya. Dan karyanya masih keren. Untuk penggemar spaghetti western pasti tau banget. Karyanya banyak dihasilkan di film genre ini. Masih ingat “Once Upon A Time In The West”? Atau “A Fistful of Dollars”? Bersama Sergio Leone dan Clint Eastwood, Ennio berhasil membuat karya adiluhung. Film koboi dengan bau Italia di mulai oleh mereka di tahun 60an. Ingat film koboi ingatlah selalu Ennio. Untuk penggemar Metallica, atau yang sudah melihat konser Metallica pasti ingat dengan “Ecstasy of Gold”. Musik yang diambil dari film “The Good The Bad And The Ugly” ini selalu dimainkan sebagai intro ketika mereka akan tampil di atas panggung. Anthemic. Mood-booster cenah kalo kata orang-orang mah. Sudah 500 karya musik Ennio hasilkan untuk film dan televisi. Salah satu karya dia yang terkenal di luar film koboi adalah film karya Giuseppe Tornatore, “Cinema Paradiso”. Film yang sungguh luar biasa dengan balutan komposisi musik yang bikin meleleh.

Untuk Hollywood karyanya bisa dinikmati di film-film John Carpenter, Brian De Palma, Oliver Stone, Barry Levinson, Don Siegel, dan tentu saja Quentin Tarantino. Quentin adalah penggemar berat film spaghetti western dan Ennio Morricone. Dia keukeuh ingin sekali filmnya diisi oleh Ennio Morricone. Dari era “Kill Bill” dia sudah menggunakan karyanya. Tapi bukan orisinil. Quentin ambil dari komposisi musik di film Ennio sebelumnya. Di “Inglorious Basterds” pun begitu. Di “Django Unchained” pun sami mawon. Inget ya “the d is silent“.

Di tahun 2007 dia menerima Honorary Academy Awards, yang diserahkan langsung oleh Clint Eastwood. Penghargaan ini diberikan untuk mereka yang sudah berkarya selama puluhan tahun untuk dunia film. Tapi biasanya penghargaan ini diberikan untuk mereka yang justru belum mendapatkan Oscar selama hidupnya. Padahal dia sudah enam kali dinominasikan. Tidak komplit. Ada yang kurang.

ennio8

Kesempatan itu datang ketika Ennio Morricone menyanggupi untuk mengisi komposisi musik untuk film “The Hateful Eight”. Mimpi Quentin menjadi kenyataan. Ini juga skoring pertama dia untuk film western setelah puluhan tahun. Di perhelatan Oscar kemarin–AMPAS–sebagai juri tidak lalai menjalankan tugasnya untuk memberikan Oscar pertamanya untuk Ennio Morricone di kategori Best Original Score. Ini adalah nominasi ke enam. Sama dengan Leo DiCaprio. Tapi beda kelas. Sebelumnya dia dinominasikan di film “Days of Heaven”, “The Mission”, “The Untouchables”, “Malena”, dan “Bugsy”. Ennio juga sekarang pemegang rekor sebagai pemenang Oscar tertua. Di usia 87! PM Italia pun sampai nge-tweet “Superb Maestro, finally!”. Dario Franceschini pun sama. Dia bilang “an all-time movie giant has triumphed.”. Tapi tidak ada komentar dari Silvio Berlusconi. Sedang sibuk dengan klubnya mungkin, AC Milan. Hubungannya apa tapi. Mengingat saya belum menemukan video penyerahan Oscar yang diberikan oleh Quincy Jones dan Pharrell di Youtube, maka untuk sementara saya sisipkan salah satu cuplikan video di salah satu filmnya.  

Dan kalo ada yang nanya kenapa sih suka Ennio? Jawabannya sih gampang. Kalo sedang kalut biasanya saya suka dengerin Ennio. Biar serasa jadi koboy yang mau duel sambil nyerutu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s