Gula itu Tak Selalu Manis

Sesuai kebiasaan dan sangat tertebak, kali ini saya ingin membahas soal makan dan pola makan lagi. Mungkin disebabkan oleh pembahasan tadi malam, yang diakibatkan oleh post Glenn di socmed yang mengatakan kalau makanan instan sekarang berusaha semakin menyerupai makanan resto, sementara makanan restoran malah bangga mengadaptasi makanan instan. Ketika saya bertanya untuk meminta penjelasan, Glenn memberikan ini.

AsRa-SMnOzVHgOI-hqtaNh-zIF4D2QJt0atK_oTkrdlN

Tentu tidak ada yang salah dengan konsep ini, saya hanya mendadak berpikir, kalau banyak yang dari kita yang berdalih tidak ingin menyiapkan makanan from scratch atau dari awal, dan akhirnya memilih makanan dari dalam kemasan untuk dikonsumsi di rumah karena “tidak sempat”, “keburu lapar”, “keburu ngantuk”, “belum belanja” dan lain sebagainya, kira-kira alasan restoran ini apa ya? (Kurang lebih sudah tau sih jawabannya, apalagi selain…MSG). Di kala banyak orang mengucapkan hamdalah atas kehadiran GoFood karena ini berarti pilihan ketika mereka lapar, sementara di rumah tidak ada makanan jadi maupun makanan mentah, ataupun jika ada makanan mentah, tidak berinspirasi untuk mengolah. Tetapi jika yang di restoran jadi banyak menyajikan makanan dalam kemasan yang diolah lagi, kira-kira apa yang akan terjadi, ya?

Saya cukup yakin ini bukan hal yang baru; dan saya sudah menulis beberapa kali, bahwa seperti layaknya kepercayaan, pola makan adalah milik Anda dan Anda seorang. Setelah saya perbarui materi bacaan saya, juga tontonan dengan berbagai dokumenter, baik yang menarik atau yang membosankan, akhirnya saya menyimpulkan beberapa hal, dan salah satu atau salah dua diantaranya mungkin menyangkut apa yang saya tengarai di atas.

28918134

  1. Jangan percaya dengan apa yang dikatakan “penelitian” atau “riset” atau “studi”

Sebagai konsumen media, saya juga mengalami kebingungan kronis akan berita tentang diet dan nutrisi. Hari ini kita disuruh makan ini. Besok makanan yang sama disebutkan bisa menyebabkan kanker. Lusa makanan ini jadi super food. Beberapa minggu kemudian disebutkan jadi salah satu dalang obesitas. Jadi mana sih, yang benar? Tidak ada dan semuanya.

Saya tidak mengatakan kalau semua orang perlu mengubah pola makan, tidak juga kalau semua orang perlu menghilangkan lemak tubuh. Kalau Anda merasa nyaman dengan kondisi sekarang, good for you! Tetapi jika Anda termasuk yang masih ingin mencari keseimbangan, atau ingin lebih sehat dan bebas keluhan rutin sakit di tubuh, mungkin Anda mencari cara untuk menyaring berita-berita yang tidak konsisten. Jawaban sesungguhnya ada di diri. Tidak ada cara tahu lebih baik dari membuat eksperimen. I believe it all comes down to biology. Tidak semua fungsi tubuh kita sama persis dalam memroses makanan. Saya juga yakin bahkan flora usus masing-masing orang pun berbeda. Tidak seperti saya yang langsung merasa sebah dan ingin pingsan kalau minum susu, sepertinya sebagian besar orang terlihat baik-baik saja mengonsumsinya. Eksperimen yang saya maksud adalah mencoba clean eating (apapun itu definisi menurut Anda) selama dua minggu atau satu bulan (karena menurut saya satu minggu belum cukup untuk tubuh beradaptasi dan merasakan keuntungannya), lalu setelah itu satu per satu Anda coba mulai lagi konsumsi makanan yang dicurigai bisa bermasalah sambil mencatat apa yang Anda rasakan.

Tidak harus jadi ilmuwan kok, untuk bereksperimen. Contoh, beberapa minggu yang lalu saya merasa sulit tidur dan ketika tertidur, mudah terbangun dan gelisah. Kemudian saya lihat kalau konsumsi kopi saya akhir-akhir itu memang agak brutal (hingga 5 cangkir sehari). Saya buat eksperimen dengan mengurangi hingga dua cangkir saja. Ternyata saya tidur bisa lebih cepat, nyenyak dan keesokannya bangun jauh lebih segar. Setelah beberapa hari saya coba juga minum kopi hingga tiga cangkir, masih tidak apa-apa. Dengan begitu saya tahu kurang lebih ambang batas konsumsi kopi saya, dan sepertinya berubah semakin saya bertambah usia ataupun sesuai dengan perubahan gaya hidup saya. Tidak ada salahnya mencari informasi di media atau buku atau film, but take it with a grain of salt. Karena belum ada satu pun riset mengenai makanan pernah dilakukan dengan sempurna; di mana subyek dikurung di satu tempat yang bisa mengontrol semua asupan makanan mereka 24/7, sampling yang benar, periode waktu yang cukup, dilakukan double blind (bisa Google kalau kurang familier dengan istilah ini), baik pemberian asupan dan pengukurannya dan dilihat hasil dari semua segi, tidak dibingkai dengan kepentingan satu pihak saja.

11374672_891293937632290_1186270837_n

  1. Cari gaya hidup yang bisa dipertahankan sampai mati

Saya sering menguping percakapan orang di sekitar, contoh mengenai keinginan menurunkan berat badan. Lalu ada saja yang berkomentar seperti, “gue pernah setiap hari, lima hari seminggu olahraga di gym 3 jam, turun deh 5 kilo dalam dua minggu. Tapi ya begitu kerjaan sibuk, naik lagi deh.” atau, “temen gue ada yang berat badannya turun cepat cuma makan sup dua minggu”. Ya bener sih, cepat kurus, tapi apa itu sustainable, dan lebih penting lagi, sehat?

Satu poin yang cukup penting lagi dan baru saja disampaikan beberapa hari yang lalu oleh idola segala usia, FX Mario, you cannot out train a bad diet. Kalau tujuan Anda lebih sehat, atau mengurangi lemak tubuh, prosesnya adalah sebagian besar dari asupan makanan, dan ditambah olahraga jika Anda ingin menyempurnakan dan meningkatkan kebugaran. Bereksperimen dan dapatkan pola makan yang Anda paling nyaman dan menghasilkan kesehatan optimal, and stick to it. Okelah sesekali jika ingin sekali nikmati saja makanan yang menurut Anda kurang baik buat tubuh, tetapi lalu ingatkan untuk segera kembali ke rutin. Cari frekuensi olahraga yang paling bisa diakomodir oleh kesibukan, and stick to it. Sesekali ditambah jika sedang santai, atau dikurangi ketika sedang merasa kurang fit, tetapi tetap jaga rutin Anda. Sungguh menyenangkan loh, punya rutin itu!

08931550d26e29741ab849e40a9c7657932b8f554eccd520427361429229b72d_1

  1. Akhirnya dunia kesehatan sepakat memilih villain

Apapun itu aliran Anda; low carb, high fat maupun high carb, low fat, sepertinya mereka akhirnya sepakat bahwa; gula adalah musuh. Jika Anda membaca ada hasil “riset” yang mengatakan bahwa gula tidak ada akibat buruknya terhadap tubuh, coba dicek siapa yang membiayai “riset” ini. Karena akhir-akhir ini, Food Giants seperti Coca Cola, Kellogs’ dan sebagainya sudah cukup kerap mendanai riset tentang nutrisi dan kesehatan. Sungguh konsep sempurna conflict of interest.

Jika menurut Anda dengan meminum kopi atau teh Anda black tanpa gula saja cukup mengkategorikan hidup menjadi bebas gula, coba lihat dalam lemari Anda. Karena bisa dikatakan gula ada di semua makanan dalam kemasan. Kecap, jus, teh dalam botol, kopi dalam botol dan kaleng, saus tomat, mayones, roti, biskuit, kornet, bahkan mie instan, selai hazelnut (dimulai dengan N dan belakangnya utella), selai kacang, puding, es campur, es krim, semua mengandung gula yang bisa dibilang tinggi. Sereal untuk sarapan? Tinggi banget! Belum lagi jika Anda penyuka produk dengan label “low fat” atau “fat free”, bisa dijamin gulanya ditambah lebih banyak lagi. Untuk mengetahuinya tinggal baca label pada kemasan. Sementara jumlah yang direkomendasikan untuk dikonsumsi hanya 25 gram atau 6 sendok teh satu hari (untuk perempuan), rata-rata konsumsi manusia (saya tidak menemukan statistik khusus Indonesia) mengonsumsi hinggal 20 sendok teh setiap hari. Sebagian besar adalah konsumsi dari gula yang tersembunyi. Bukan hanya diabetes, gula kini dicurigai memberi makan berbagai penyakit lain, seperti penyakit jantung, trigliserida yang tinggi, kanker, hingga alzheimer’s (yang kini disebutkan sebagai diabetes tipe 3, karena begitu eratnya kaitannya dengan diabetes). Dokumenter yang membukakan mata terhadap isu ini adalah That Sugar Film. I suggest you see it.

Apakah Anda ingin menikmati pizza mie instan, Oreo goreng atau es krim Mars atau Snickers, kembali lagi pada pilihan. The best you can do is making an informed decision.

 

Iklan

4 thoughts on “Gula itu Tak Selalu Manis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s