Kejahatan Menginspirasi Kejahatan

Tak lama setelah kejadian seorang perempuan diracuni lewat kopi sampai meninggal, meme-meme bertebaran. Berusaha untuk membuat kelucuan dan keseruan di media sosial dan chat group. Ada pula gurauan-gurauan dalam bentuk cerita pendek. Perbincangan yang tadinya berkisar pada motif pembunuhan, melebar menjadi gosip dan kajian ilmiah mengenai racun yang digunakan.

Berita di media Nasional pun terus memberikan update terkini. Rekaman interogasi dan reka ulang dengan mudah ditemukan di internet. Semua bisa melihat, semua bisa mendengar, semua bisa belajar dan semua bisa terinspirasi. Bukan hanya anak-anak. Tak peduli usia, kalangan, latar belakang keluarga dan pendidikan.

Seperti layaknya setiap aksi mengundang reaksi, “bercandaan” mengenai pembunuhan ini pun mulai mendapat perlawanan. Dengan satu alasan: kemanusiaan. Bayangkan kalau kejadian pada teman atau keluarga sendiri, masih tega kah bercanda atas sebuah tragedi? Perbuatan yang dianggap kurang sensitif.

Di sisi yang lain, banyak pula yang menganggap ini sebagai salah satu karakter orang Indonesia yang harus diterima bahkan dilestarikan. Bercanda untuk meredakan kesedihan. Kalau kita lihat di jalanan ada orang terjatuh dari sepeda, reaksi pertama biasanya tertawa. Kecuali memang kecelakaan besar. Pun kecelakaan atau musibah besar, biasanya disikapi dengan kalimat “untung”. Terkena banjir, untung bukan kebakaran. Kecopetan, untung gak dibunuh. Kelaparan, untung masih hidup.

Mungkin ini adalah bagian dari proses peradaban yang harus kita lalui bersama. Dan tak setiap tindakan bisa dinilai benar atau salah. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Akan tetapi ada satu kepastian, setiap tindakan akan mengundang inspirasi. Sama seperti kejadian pembunuhan ini. Di saat kehidupan kita berlangsung, ada orang-orang di sekitar kita yang belajar dan terinspirasi untuk melakukannya juga. Menyatakan kekhawatiran, tentunya akan dianggap angin lalu. Parno. “Enggak lah… kan manusia dianugerahi akal budi untuk berpikir sehingga bisa mengambil keputusan yang benar. Manusianya yang mesti dibenahi.” Ada benarnya. Sampai kemudian sebuah headline surat kabar. Tentu ada kekesalan dalam hati seraya berkata “tuh kaaan dibilangin juga apaaa?”

Belakangan ini banyak perdebatan di media sosial. Tetiba ada persoalan LGBT, hari Valentine, pemilihan cagub DKI tahun depan, dan tentunya perdebatan klasik Jokowi Haters & Lovers. Di satu sisi, ini bisa membangkitkan kemampuan untuk berdebat. Tapi sayangnya kita bukan bangsa yang diajarkan untuk berdebat. Kita diajarkan untuk menurut tanpa alasan. Padahal berdebat ada ilmu dan seninya.

Misalnya, tidak bisa menyerang “siapa yang berpendapat”. Murni pendapat vs pendapat. Apalagi kalau sampai melecehkan. Karena ini akan membawa perdebatan ke arah kekerasan. Atau, dalam berdebat selalu harus disertakan bukti-bukti pendukung. Kalau menggunakan “perasaan” harus diutarakan. Bukan mencari pembenaran data untuk mendukung perasaan dan kira-kira. Dan dalam perdebatan, tidak selalu bahkan hampir tidak pernah diakhiri dengan kesimpulan benar atau salah. Malah baik digunakan untuk menguji pendapat sehingga semakin tajam dan berbobot.

Bandingkan dengan di negara kita, dalam sebuah perdebatan bisa didengar sanggahan seperti “ah ya loe ngomong gitu karena loe cewek aja” atau “ya loe enak, anak orang kaya” atau “agama loe apa sih? jangan ngasal kalo ngomong”. Ketiganya mematikan karena kodrat. Dia perempuan (bukan pilihan dia), dia anak orang kaya (bukan maunya dia), dan agama (pilihan pribadi tak bisa diganggu gugat). Pendapatnya sendiri sering tak lagi didengar apalagi diperhitungkan.

Padahal, apakah benar seorang jomblo selamanya tak bisa berpendapat soal cinta? Apakah teori anak orang miskin mengenai kehidupan mewah menjadi tak valid? Apakah seorang Muslim tak boleh berpendapat soal ajaran agama Buddha? Apakah seorang Arsitek tak boleh menyampaikan pandangannya tentang Film? Bukankah malah akan memberi keragaman sudut pandang yang menarik?

Perdebatan yang sering dibumbui dengan kekerasan ini pun dilakukan secara terbuka di internet. Semua bisa melihat, semua bisa mendengar, semua bisa belajar dan semua bisa terinspirasi. Ibaratnya memperjuangkan perdamaian dunia dengan menggunakan senjata. Berteriak tentang kebaikan agamanya dengan merendahkan agama lain. Menonjolkan keunggulan rasnya dengan menjadi rasis. Sering kita temukan iklan-iklan anti kekerasan yang secara visual malah menampilkan adegan kekerasan. Atau anti narkotika, tapi visualnya malah menampilkan beragam jenis narkotikanya. Yang tadinya tidak tahu jadi tahu. Yang tadinya tidak ingin jadi ingin.

Kalau dianggap ini adalah proses pembelajaran bersama, sepertinya akan terlalu lama dan bisa menelan korban. Kalau dianggap sebagai kesalahan yang harus dibenarkan, entah dari mana kita harus memulainya. Kalau dianggap sebagai kebenaran, di situlah masalah muncul untuk kemudian mengakar.

47126_article_full

 

 

Iklan

One thought on “Kejahatan Menginspirasi Kejahatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s