Madonna adalah Disiplin

Baru saja beberapa jam, belum sampai hitungan hari, konser Madonna selesai digelar di Bangkok. Kebetulan saya ikut menonton, bersama ribuan orang lain. Banyak celotehan bahasa Indonesia terdengar sebelum, selama dan sesudah konser. Terdengar seliweran ucapan kalau jangan-jangan, sepertiga warga kelas menengah usia 20-an akhir keatas, ada di Bangkok dua hari ini. Banyak yang memang khusus datang menonton Madonna, sampai dibela-belain. Alasan utama, tentu saja, kapan lagi? Apalagi di usianya yang 57 tahun, usia renta untuk seorang seniman berkarya. Terlebih untuk seni pertunjukan atau performing art.

Dan Madonna tampil di Asia Tenggara?
Baru pertama kali dalam perjalanan karirnya selama 33 tahun terakhir.
Makanya, banyak yang datang menonton dengan nostalgia.

Tidak ada yang tidak kenal Madonna. Kalau belum pernah mendengar lagunya, paling tidak tahu namanya. Nama Madonna, yang identik dengan image yang berubah-ubah setiap beberapa tahun. Tergantung dari jenis karya yang dia buat, dan eksplorasi artistik apa yang dia mau tunjukkan.

Tapi tidak ada satu manusia di dunia ini yang tidak tahu Madonna. Selama lebih dari 4 dekade, Madonna bertransformasi di depan mata kita. Secara rutin, dia menciptakan persona tertentu. Sinner, saint, mother, thinker, girl, attention seeker, rebel. She’s done it all.

Lepas dari satu image, dia menciptakan image lain. Lamanya tidak tentu. Satu tahun, atau satu setengah tahun tiap persona.

  
Tak heran, tiap orang punya kedekatan dengan Madonna berbeda-beda. Generasi di atas saya, pasti dekat sekali dengan “La Isla Bonita” atau “True Blue”. Generasi saya menganggap lagu “Take a Bow” itu ya milik Madonna, bukan Rihanna. Generasi berikut, mungkin tidak terlalu dekat dengan Madonna, kecuali sangat menyukai “Hung Up” atau “Sorry”.
Lagu-lagu tersebut tampil dengan gaya yang berbeda-beda. Tidak ada yang mirip. Madonna selalu berubah, bukan mengikuti jaman, tapi menentukan jaman.

Madonna sadar, namanya adalah merek dagang. Madonna is a brand. A brand can survive if it keeps on evolving. Bukan stagnan. Madonna punya kemampuan vokal biasa. Makanya dia tidak hanya mau sekedar jadi penyanyi, tapi dia seniman visual modern.
Dan semua itu perlu disiplin yang luar biasa.
Melihat Madonna semalam, mata saya masih terbelalak melihat kakinya. Badannya. Staminanya. Idenya.

Di usia 57 tahun, dia masih berjalan dengan hak sepatu sekitar 14 sentimeter di atas panggung. Dia masih menari. Dia masih berakrobat di tiang. Tidak terdengar ngos-ngosan. Badannya masih kencang. Balutan kostum matador terlihat seksi di tubuh rampingnya.

  
You can see her entire body of works just by looking at her body.


How many times we can say this about other artists? Greatness is what distinguishes them.
Melihat Madonna bergerak adalah bukti bahwa disiplin membawa kita hidup lama, dan berlari jauh.

Disiplin menjaga tubuh.

Disiplin menciptakan kreasi.

Disiplin mengikuti aturan hidup yang ditentukan sendiri.

Disiplin untuk terus berubah dalam berkarya.
Dan melihat hasil disiplin selama puluhan tahun dengan mata kepala sendiri, that’s a single great experience.
The experience is Madonna.

Iklan

One thought on “Madonna adalah Disiplin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s