Antara Agama dan Sastra

MAU percaya atau tidak, keberadaan dan perkembangan agama-agama di dunia tidak bisa dilepaskan dari mitologi. Tentu bukan untuk satu, dua, lima, atau sepuluh agama saja, melainkan semuanya. Baik yang sudah teramat kuno dan punah ribuan tahun silam, maupun ajaran-ajaran yang baru dideklarasikan pada abad-abad belakangan. Hal ini pun seakan terlampau mudah untuk disepakati.

Itu sebabnya, ilustrasi ini pertama kali saya lihat di grup Facebook pecinta mitologi, bukan di forum-forum diskusi keagamaan. Kendati tetap harus dicermati dengan beragam sudut pandang keilmuan, termasuk antropologi budaya, sosiologi, serta ketekunan untuk mengumpulkan semua informasi dari seluruh penjuru dunia.

Sumber: ultraculture.org

Ada dua hal yang bisa disimpulkan dari gambar di atas. Pertama, bentuk spiritualisme tertua umat manusia berasal dari Afrika. Kedua, dari pokok-pokok yang sama akhirnya berkembang dan tersebar ke seluruh dunia dengan segala ragamnya.

Boleh setuju, boleh juga tidak. Toh, saya cuma membaca.

Bukan sebagai kumpulan kisah fantastis yang menarik untuk dibukukan atau difilmkan secara dramatis saja, pada dasarnya mitologi mencakup hal paling dasar dalam urusan membuat manusia-manusia lain takjub kala mengindra: bahasa dan sastra.

Ada apa dengan bahasa dan sastra? Bahasa adalah media komunikasi paling mutakhir dan kompleks, sebagai salah satu pencapaian tertinggi dalam kebudayaan manusia. Hingga kemudian dikerdilkan atau diefisiensi menjadi media berkegiatan dalam kehidupan manusia sehari-hari. “Aku bosan sendirian.” Sederhana dan langsung menyasar tujuan.

Lalu, bagaimana dengan sastra? Tidak semua insan berkesempatan merasakan pengalaman-pengalaman batiniah yang menakjubkan, yang disebut transendental dalam istilah buku-buku teologi, yang tidak fana, dan seterusnya. Kalaupun bisa mengalami hal-hal demikian, lazimnya, ada orang yang menyimpan semua pengalaman tersebut dalam hati untuk kemudian tergambarkan dari sikap dan perilakunya sehari-hari. Ada pula yang menjadi bersemangat, merasa terpanggil untuk membagi dan menyebarkan pesan-pesan yang ia terima.

Di antara keduanya, ada sang penutur kisah, atau storyteller. Mereka terlampau gelisah untuk menyimpan pengalaman-pengalaman tersebut hanya dalam hati, di sisi lain mereka juga punya pertimbangan khusus untuk tidak bersikap seperti peluit cerek berisi air mendidih: berbunyi nyaring menarik perhatian seisi rumah (dunia). Dalam bayangan kita selama ini, mereka lebih suka menggunakan cerita-cerita, penuh metafora dan alegori, disampaikan dalam kelompok-kelompok kecil. Para penutur memercikkan kebijaksanaan ke sekeliling, bukan langsung menghadirkan badai.

Jangan heran, dulunya, banyak agamawan yang sastrawan. Tanpa sastra, penjelasan-penjelasan agama terasa liat, kalis macam adonan yang kedap tak menyerap air. Dengan sastra, semuanya mengalir begitu saja.

Barangkali gara-gara ini, mohon koreksi bila keliru, makanya disebutkan dalam Alquran bahwa hanya ada 25 rasul yang silsilahnya tercatat. Selain itu, ada ratusan atau lebih nabi yang tersebar di seluruh permukaan bumi dengan identitas samar.

Lantaran alasan yang sama pula, ada lebih banyak jumlah Savaka Buddha, dan Pacceka Buddha, dibanding Samma Sambuddha. Seperti yang lahir di utara India pada hampir 3 ribu tahun lalu, dan sempat ragu tentang cara terbaik untuk berbagi dan menyampaikan pengetahuan semesta yang ia peroleh kepada makhluk-makhluk fana, sampai akhirnya ia mengiyakan permohonan dari seorang Dewa Brahma bernama Sahampati.

“Di alam semesta ini, ada makhluk-makhluk yang memiliki sedikit debu di mata mereka.
Ajarkanlah Dhamma demi kasih sayang kepada mereka.”

~ syair permohonan Dewa Brahma Sahampati

Apakah ini kisah mitologis? Tidak menutup kemungkinan. 🙂

Begitupun juga dengan kaburnya kisah hidup tiga pionir kebudayaan Tionghoa; Fuxi, Shennong, dan Suiren, yang dituturkan kembali dalam ajaran rintisan Tai Shang Lao Jun atau Laozi.

Serta masih banyak contoh lainnya, yang bakal sama-sama menakjubkannya.

Pernyataan ini tentu akan dihujat para kaum agamawan. Premisnya, bagaimana mungkin ajaran agama yang merupakan kebenaran-kebenaran ilahiah dari atas (pun intended), disamakan dengan konsepsi abstrak yang disusun oleh pikiran orang-orang sekuler? Kalau sudah begini, diskusi dan pembicaraan pun harus dilakukan secara hati-hati. Sebab lebih berpeluang jadi perdebatan tiada henti.

Terlepas dari perdebatan itu, tetap ada satu hal yang pasti; agama memerlukan ketakjuban untuk diterima sebagai sesuatu yang mencengangkan dan memesona. Dan itu berlangsung secara universal. Tanpa itu semua, menurut saya, agama tidak ada bedanya dengan kuliah astrofisika bila dibandingkan dengan narasi dan penuturan dalam serial “Cosmos”.

Kitab suci sekalipun, penuh dengan bahasa puitis dan enigma sedemikian rupa sebagai pitutur sing mbaurekso, yang mahamisterius. Bukan sekadar buku tutorial menjalani hidup dalam kaidah religius tertentu.

RBL.

[]

Iklan

2 thoughts on “Antara Agama dan Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s