Solar atau Solar?

Beberapa hari yang lalu melihat post seorang teman mengenai pikiran randomnya; mengapa untuk pulau-pulau terpencil tidak dibangun pembangkit listrik tenaga matahari, sehingga pulau ini jadi self-sufficient, tidak harus menarik jaringan dari luar pulau dan tidak pula tergantung fossil fuel seperti solar atau bensin. Untuk mencegah kebingungan, jika saya sebut solar, yang saya maksud adalah bahan bakar dari fosil, sementara tenaga matahari yang disebut juga dengan solar akan saya sebut sebagai tenaga matahari. Membaca tulisan ini, saya jadi lantas ingat, kalau pernah juga post hal yang sama di Twitter.

tweet

Yang agak kurang masuk logika saya adalah; mengapa di negara yang tidak pernah kekurangan cahaya matahari ini, malah sering jadi sumber keluhan para warganya karena terlalu panas, (sampai hampir semua bahasa daerah memiliki sebutan untuk hal ini; sumu’, hareudang, sampai bagaikan neraka bocor), kita tidak memanfaatkannya. Jadi seperti ayam bertelur di lumbung padi mati kelaparan. Sementara rakyat banyak yang mengeluh membayar listrik makin mahal, dan PLN seringnya masih defisit dalam suplai daya ke rumah-rumah penduduk. Sementara pengelola PLN juga mengeluh kalau bahan bakar yang semakin sulit didapat atau harganya mahal. Jadi kenapa?

Sadar sekali kalau negara tercinta kita ini memang akan bepikir berjuta kali untuk berinvestasi jangka panjang terutama kepada teknologi yang manfaatnya mungkin masih jauh di masa depan. Salahkan pejabat yang inginnya “balik modal” ketika masa jabatannya berakhir? Entahlah. Atau nasip teknologi tenaga alternatif sinar matahari ini juga sama seperti sustainable technology lain yang ingin mempersiapkan dunia terhadap fossil fuel scarcity; dimatikan atau dibeli dan dipetieskan? Saya jadi ingat film Who Killed the Electric Car. Mungkin kurang lebih teknologi ini ceritanya sama.

Bisa jadi orang berdalih bahwa teknologi tenaga sinar matahari ini masih kurang efisien karena membutuhkan permukaan yang sangat besar untuk menghasilkan tenaga yang tidak seberapa. Correct me if I’m wrong, saya kok yakin untuk sebuah teknologi yang muda, selalu timbul masalah efisiensi yang semakin berjalan dengan waktu dan kedewasaan teknologi ini akan diperbaiki terus menerus. Boleh diingat kalau harddisk drive IBM tahun 1956 sebesar satu ruangan? Juga thumb drive yang semakin lama kapasitasnya semakin tinggi?

slide_storage_6_new-100383590-orig
Sumber: Computerworld.com

Anyway…

Tadi mau kasih point apa ya? Jadi lupa. Oh ada update kalau beberapa panel tenaga surya sudah dijual secara komersil, tetapi dengan efisiensi sekitar 20% dan harga sekitar USD 300 untuk yield sekitar 325Watt. Mahal ya? Konon sudah ada yang efisiensi lebih tinggi tetapi belum dijual untuk umum. Mungkin karena belum ada demand yang terlalu banyak, maka perkembangan teknologinya juga agak lambat. Tetapi kabarnya seperti yang saya baca dari berbagai sumber kalau penggambaran penggunaan panel tenaga surya di buku dan film The Martian cukup akurat. Walau ada perdebatan sebenarnya warna emas pada panel yang sering disapu Mark Watney itu demi estetika atau panel tenaga surya di masa depan memang warnanya bukan hitam, seperti yang digunakan masa kini (sungguh perdebatan yang penting).

100115_reviews_martian
Cape ya bo, nyapu mulu… (Sumber: sciencenews.org)

Jadi, kira-kira kapan ya kita bisa berpikir sustainable? Mungkin saya keburu usia lanjut kemudian meninggal dunia.

Iklan

7 thoughts on “Solar atau Solar?

  1. Kak Lei,

    Gw kerja di development agency milik Jerman yang fokusnya di Renewable and Energy Efficiency. Counterpart kita adalah dirjen energi baru terbarukan dan konservasi energi. Saat ini kita membantu Dirjen EBTKE untuk melistriki pulau pulau terluar di Indonesia. Saat ini kita membantu di monitoring dan juga member ikan dukungan teknis untuk dirjen EBTKE. Kalo kakak minat, bisa cek di http://www.remap-indonesia.org

    Kalo ada pertanyaan, silakan ditanyakan yah.

    Motemo

    Suka

  2. nope saya yakin itu bs terwujud sebelum saya mati. itu menjadi mimpi saya soal jualan papan surya semudah jualan yakult dari kampung ke kampung. Mimpi tsb saya jadikan sbuah postingan di blog saya sendiri mgk org lain yg akhirnya mewujudkan yg penting terjadi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s