Dari Terpikat Jadi Terikat

Selamat pagi.

Jarang sekali memang, dan rasanya hampir tidak pernah, saya atau teman-teman lain di sini menyapa Anda dan memulai tulisan dengan sapaan “selamat pagi”. Tidak ada maksud apa-apa dengan memulai ucapan ini. It’s just a greeting after all. Namun buat saya pribadi, sapaan ini sekaligus menjadi pemicu semangat untuk menulis hari ini.

Tadinya, saya berpikir untuk absen dulu. Terutama setelah apa yang terjadi kemarin.
Dimulai dengan bangun pagi dalam keadaan sakit perut melilit. Ini sudah membuat separuh hari pertama dihabiskan dalam keadaan lemas. Lalu separuh hari kedua saya habiskan dengan menerjang kemacetan, menghadapi krisis di salah satu project, dan memeras otak memikirkan ide untuk project yang lain.
Semalam sempat saya bilang ke grup WhatsApp teman-teman Linimasa kalau saya tidak ada ide untuk menulis keesokan harinya, karena sudah terlampau lelah berpikir.

Sampai pagi ini pun, ternyata keletihan itu masih berlanjut. Mungkin ada kaitannya dengan kondisi perut yang masih berlanjut juga rasa sakitnya.
Sudah hampir bulat tekad untuk absen dulu pagi ini, tapi ada pemikiran lain. Kok kayanya sayang kalau tidak menulis. Meskipun itu tulisan remeh temeh receh, tapi kok kayanya sayang kalau dilewatkan begitu saja.

Iya, sayang. Rasa menyayangkan yang tumbuh dari rasa sayang.

attachment-0001

Kalau tidak diajak Roy Sayur bergabung di Linimasa hampir dua tahun lalu, mungkin saya tidak punya rutinitas untuk menulis mingguan. Punya rutinitas untuk menulis berarti punya aturan waktu untuk berpikir secara sistematis. Hasilnya belum sempurna, memang. Tapi paling tidak diri menjadi terlatih untuk terus memperbaiki.
Dan tentu saja, dengan prinsip bahwa kegiatan baru akan menjadi kebiasaan setelah dilakukan 3 minggu berturut-turut, maka kebiasaan juga buat saya untuk berpikir bahwa Rabu malam atau Kamis pagi adalah saatnya menulis, apapun itu.

Buat saya, ini adalah sense of attachment. Rasa keterikatan yang dimulai dari ketertarikan. Tanpa paksaan, tanpa ikatan darah atau bawaan lahir, tanpa dorongan tertentu.

Dan rasanya kita mengalami banyak attachment seperti ini, yang di luar kewajiban. Kalau bela-belain ke kantor pajak buat bayar pajak, itu kan kewajiban. Tapi kalau bela-belain menemani pacar yang mengantri bayar pajak, itu kan dorongan dari diri sendiri.
Atau menyempatkan waktu untuk berolahraga di tengah kesibukan. Membuat kue. Menonton film. Menulis jurnal harian.

johnny_automatic_man_with_a_camera

Semua hal yang kita lakukan, yang tanpa kita sadari sudah ada rasa keterikatan untuk melakukannya, tanpa dorongan siapapun, atau apapun.
We’re just not complete without it.

Jadi, sambil menjalani hari ini, saya penasaran: apa saja kegiatan kesukaan Anda?

Iklan

10 thoughts on “Dari Terpikat Jadi Terikat

  1. Membaca linimasa walaupun secara marathon seminggu sekali kalau weeekend di rumah saja. Atau di sela sela waktu kerja untuk refresh otak dari tumpukan kertas kerjaan :))

    Suka

  2. Merajut, secapek apapun sepulang kerja kalau malamnya ndak merajut, rasanya ga bisa tidurr. Walaupun merajutnya hanya dapat sebaris karena saking lelahnya seharian bekerja. =D

    Suka

    1. Ini iya banget, otak secara otomatis meminta tangan mengetik “linimasa” sesampai di kantor, menyalakan komputer, buka browser (kalau hari kerja).
      Salah satu sarapan paginya jiwa.
      Malah jadi candu.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s