Imlek Sebentar Lagi

TAHUN Baru Imlek sebentar lagi. Kurang dari 14 hari. Nuansanya bakal merah-merah, suasananya pun bakal meriah-meriah. Meskipun kian lama, banyak yang merasa hari raya utama dalam budaya Tionghoa ini makin terasa seremonial rutin belaka. Ketika sudah pantas malu sama umur untuk ngumpulin angpao serta menikmati euforianya seperti anak-anak, tapi merasa masih sangat muda untuk menikah (alasan doang sih, padahal memang jomblo) dan kebagian tanggung jawab sosial sebagai yang bagiin angpao.

Ya, pada dasarnya Tahun Baru Imlek adalah hari raya budaya bagi semua yang masih mengakui ketionghoaannya, atau yang terlibat dalam ketionghoaan. Kecuali bagi umat Khonghucu, agama resmi keenam yang diakui republik ini, yang benar-benar menempatkan tanggal 1 bulan pertama dalam penanggalan Imlek sebagai sebuah momen religius tertentu.

Kalau memang malas merayakan, sebenarnya enggak masalah, apalagi di kota-kota besar ketika bahkan sesama Tionghoa saja tidak saling kenal. Paling-paling jadi dosa sosial gara-gara dianggap Cina aneh. Lagipula enggak ada musim semi di Indonesia, jadi Tahun Baru Imlek tidak bisa disamakan dengan Festival Musim Semi seperti di Tiongkok sana. Rada jauh dari inti cikal bakal perayaannya.

Karena itu, Tahun Baru Imlek bisa dirayakan tanpa peduli apa pun agamanya. Tetap bisa saling memberi ucapan selamat, saling berkunjung, makan-makan, bagi angpao, cerita ngalor-ngidul soal gosip terkini orang-orang Tionghoa sekota, sampai gosip internal dalam lingkaran keluarga, minum-minum lintas generasi, karaokean, bahkan main mahyong yang biasanya dilakukan nenek-nenek.

Perayaan tanpa pola yang baku, bahkan tidak ada ritual tertentu. Paling-paling bagi orang Tionghoa mainstream yang bukan monoteis, atau Buddhis KTP alias yang enggak terlalu ambil pusing dengan hal-hal begituan, Tahun Baru Imlek akan diawali dengan sembahyang leluhur dengan Samseng sebagai sesajian, maupun kepada altar-altar lain yang ada di rumah. Bisa juga ke kelenteng pada malam Tahun Baru Imlek, atau di pagi harinya. Kan rame-rame sama orang-orang Tionghoa lainnya. Bagi anak muda, seru-seruan dengan geng sendiri, juga siapa tahun bisa ketemu calon gebetan. Lumayan, tes pertamanya adalah nyaman tidaknya saat diajak berkeliling silaturahmi Imlekan ke rumah teman.

Jika enggak paham makna saat bersembahyang, sembahyangnya pun jadi sekadar “cung-cung-cep”, ehm… itu loh, “acung-acung-tancep” sambil memanjatkan doa-doa standar: mendapatkan kesehatan, panjang usia, kesejahteraan, bisnis yang lancar, toko sebelah kalah saingan, jadi orang kaya, anak-anak yang pintar, selalu menang taruhan bola, dapat menantu atau cucu yang bisa dibanggakan dan dipamerkan, dapat besan yang asyik, dapat pacar baru yang ciamik, bisa kuliah ke Singapura/Australia/UK/Amerika Serikat/Eropa atau mana saja yang keren-keren, dan sebagainya.

Namun terlepas dari semua hal di atas, Tahun Baru Imlek tetap jadi momen yang dinanti. Utamanya, ketika para orang tua bisa kembali berkumpul dengan anak-anak dan cucunya. Berkumpul dalam arti sebenarnya. Tumpek blek dalam satu lokasi yang sama dengan kostum terbaiknya, lalu foto bareng, menandakan masa, membekukan cerita.

Selain itu, tidak berbeda dengan umumnya hari raya-hari raya lain yang “ditanggal-merahkan” di Indonesia, sejumlah persiapan dilakukan menjelang datangnya Tahun Baru Imlek. Persiapan-persiapan yang lebih bersifat fisik, yang kasarnya, bisa dikerjakan orang suruhan. Akan tetapi, jangan salah, justru saat dilakukan sendiri bersama keluarga tercinta, kesan yang didapatkan jauh berbeda.

Da sao chu (大掃除) namanya, yang secara harfiah bisa diartikan: bersih-bersih besar-besaran. Idealnya, bagian ini berlangsung di setiap rumah, sejak satu-dua bulan sebelum Tahun Baru Imlek sampai maksimal di malam tahun baru. Yang dilakukan pun mulai dari renovasi rumah, ganti warna dinding maupun karpet, sapu-sapu dan ngelap-ngelap, sampai atur ulang tata letak perabotan. Lazim lah, pekerjaan-pekerjaan rumah tangga jelang hari raya.

Dari beraneka ragam tugas dalam da sao chu, kini umumnya dilimpahkan kepada para pembantu dan tukang. Tapi beruntung bagi saya, da sao chu kali ini masih bisa dilakukan bareng keluarga. Layaknya satu tim, yang masing-masing anggotanya kebagian tanggung jawab khusus. Kebetulan juga sih, kami bukan termasuk keluarga Tionghoa Indonesia yang mulai dari orang tua sampai anak-anaknya dibuat terlalu sibuk dengan kehidupan sehari-hari masing-masing. Ada kelebihan dan kekurangannya.

Walau dalam diam, aktivitas saat da sao chu terasa sangat dialogis. Saat menyapu, saat mengepel, saat mengecat dinding ruang depan, saat mengumpulkan sampah dalam satu kantong plastik, saat menggeser-geser lemari, saat rehat sambil bermandi keringat, saat mencuci tangan yang berlepotan debu, saat mendengar “tolong, itu, angkat ke sana” dari si bapak, bahkan saat rada kesal ketika sepatu kecipratan cat.

Serangkaian perbincangan lewat gerak karya… yang bikin pinggang serasa mau patah saja.

Sederhana memang, tetapi justru yang begini-begini ini, rasanya nempel di hati. Soalnya, memang setahun sekali baru gotong royong besar-besaran semacam ini.

Belum Imlekan, tapi hati sudah berasa senang. 🙂

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s