Iqra

Untuk menjadi sebuah dogma atau suatu doktrin, sebuah pemikiran filosofis harus ditransformasikan oleh teori. Kurang lebih begitu.

Teori menjadi sebuah tangga penghubung antara langit filosofis menjadi sebuah doktrin yang ‘agak’ membumi. Dengan demikian, ndak semua yang jatuh dari langit, dapat dipergunakan langsung oleh kehidupan yang menjejak tanah. Ada piranti yang mengubahnya agar mudah dikunyah.

Sama halnya dengan berbagai fenomena alam yang terjadi selama ini. Bagi sebagian orang hal tersebut adalah nyata-nyata. Bagi sebagian lain itu hanyalah pertanda. Ada hal yang harus ditelaah sebelum dikonsumsi.

Daging sapi mentah perlu dimasak. Beras perlu dikukus. Sayur perlu ditumis. Juga perkataan orang-orang mulia. Banyak yang tak bisa ditelan begitu saja. Seperti kearifan zen. Petuah Nabi Khaidir, Guru atau bahkan perkataan orang tua kita.

Ketika ada sebuah peristiwa, orang tua kita sering berkata: “hati-hati”.

Apakah arti hati-hati disini? Apakah sekadar kita untuk mawas diri? Sejatinya mawas diri ndak cukup. Hati-hati berarti kita harus secara intens untuk membaca banyak gejala. Jika menyeberang lihat kendaraan yang melintas. Jika akan ujian, perhatikan pelajaran dan perkataan guru. Jika ingin mencari jodoh lihat semua aspek dari calon pasangan yang kita taksir.

Hati-hati disini juga berarti kita siap melangkah maju, mundur sejenak, sedikit melipir ke ke samping, dan gerakan apapun saat menghadapi segala. Hati-hati adalah sikap prudent. Melaksanakan sesuatu dengan dilengkapi rambu-rambu. Penuh syarat. Jika tak terpenuhi maka sebaiknya tidak usah saja. Ada syarat yang dilanggar, maka lebih baik mundur teratur.

Begitu juga ketika kita mendengar kalimat ojo dumeh tansah eling lan waspodo. Semacam jangan mentang-mentang dan kita harus senantiasa ingat dan mawas diri. Karena hidup tidak akan lepas dari “berputarnya roda kehidupan”, yang selalu berubah. Mentang–mentang kaya, kemudian merasa bahwa apa saja dapat dibeli dengan uang. Mentang-mentang berkuasa, kemudian sok berkuasa, apa saja bisa dikuasai sendiri, bertindak seenaknya sendiri. Mentang-mentang cantik dan indah tubuhnya, kemudian mengumbar cinta seenaknya sendiri, melanggar sana melanggar sini. Mentang-mentang miskin, kemudian merasa minder dan bersembunyi di dalam tempurung.

Ketika selalu ingat dan waspada diterapkan maka akan lahir bijaksana, juga bersahaja dan sederhana, pun sabar dan menerima, serta yang terpenting bisa “merasa”. Tidak hanya simpati namun juga empati.

Hidup keseharian sepertinya adalah hal yang rutin, dan berulang karena ada ilusi imajiner bernama mingguan. Seolah-olah kita hidup berulang dari senin menuju senin berikutnya. Dari rumah ke tempat kerja dan begitu terus. Padahal nyatanya tidak. Karena walaupun loka dan rasa yang sama saja, sejatinya dimensi waktu hingga saat ini tak dapat diulang. Usia kita semakin bertambah. Mental kita pun seharusnya berubah. Tidak hanya keriput yang bertambah. Sikap batin kita makin matang seharusnya.

Hidup rutin bisa berubah menjadi hidup yang keras. Bos yang galak, rekan yang kerja yang sering memfitnah, sahabat yang sulit menyediakan waktu luang, pasangan yang juga malah kadang merongrong, tekanan orang tua yang mengatur sana-sini, menjadikan hidup yang keras dijalani dengan ‘tidak kerasan’ (ndak betah dan nyaman).

Lalu apalagi yang dapat kita lakukan selain berdoa? Perlukah kita juga melakukan sesuatu yang nyata secara fisik dan pikiran? Ya itu tadi. Iqra. Membaca kehidupan perlahan-lahan. Tidak bergegas. Tidak perlu merasa kalah atas pencapaian gemilang sahabat kita. Tidak perlu susah saat melihat derai tawa orang lain di saat kita sedang gundah gulana. Karena hidup memang demikian adanya. Selalu bersikap baik dan rendah hati, jalan paling aman untuk hidup yang nyaman.

Ada lebih, ada yang melebihi. Yang penuh, ada yang lebih penuh. Yang kosong, ada yang lebih kosong. Yang pandai, ada yang lebih pandai. Yang kaya, ada yang lebih kaya. Di atas langit masih ada langit.

Maka siapakah dari kita yang melaksanakan kehidupan dengan hati-hati dan akan selalu bahagia?

Yaitu orang-orang yang berserah. Orang-orang yang menjalani hidup sekuat tenaga tanpa pernah berpikir apa nanti jadinya. Karena setiap manusia telah diciptakan lintasan hidupnya.

Maka maha benar Pidi Baiq dengan kesantunan petuahnya:

“Kerja mah apa ajalah. Yang penting capek”.

 

Salam anget,

Roy

Iklan

4 thoughts on “Iqra

  1. Ketika jiwa -bisa saja- hampir pingsan oleh kejadian yang tidak mampu kita pahami maksud dan arahnya, mendapati tulisan ini seperti dibawa duduk sejenak dan ditawari segelas air putih. Kemudian yang bisa saya pikirkan, saat ini adalah waktunya untuk istirahat. Menerima…

    Suka

  2. “Yaitu orang-orang yang berserah. Orang-orang yang menjalani hidup sekuat tenaga tanpa pernah berpikir apa nanti jadinya. Karena setiap manusia telah diciptakan lintasan hidupnya.”

    suka! karena usaha keras itu perlu, tapi ga usah ngeyel ya, om Roy?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s