Bukan Penyakit Menular

Dimulai dari kemarin, sahabat saya mengatakan dia mengalami “migren di pagi hari” dan saya sudah paham sekali dengan kode itu biasanya tidak ada hubungan dengan penyakit migren itu sendiri. Ternyata kelompok obrolan di ponselnya yang terdiri dari ibu-ibu murid sekolah anaknya sedang ribut karena e-flyer sebuah jaringan dukungan sesama teman dari organisasi LGBT dan mencantumkan juga organisasi dengan menggunakan nama universitas tertentu.

Kutipan tidak langsung kata-katanya adalah “Serem ya” dan “Memang benar homoseksualitas sudah menyebar di kampus- kampus”. Kami; saya dan sahabat saya lalu berdiskusi sejenak, membahas apakah ada gunanya kita melepas enerji untuk membantah di grup ini, sampai pada kesimpulan, nantinya akan jadi debat kusir dan sudahlah biarkan saja, dan kami pun pindah topik.

Pagi ini saya bangun, dan melihat e-flyer yang sama dikirim ke forum obrolan teman-teman sekolah saya yang isinya perempuan semua, dengan embel-embel kata “mengerikan”. Lalu karena saya merasa lebih tahu rekan-rekan saya dan salah satu sayang saya ke mereka sampai puluhan tahun ini, karena saya mengerti mereka tidak memiliki niat buruk terhadap apapun, saya memutuskan bertanya kembali, “mengerikan kenapa?  Mereka toh hanya menawarkan support?” Lalu sebagian dari mereka mengalihkan pembicaraan lebih ke soal organisasi yang lalu dibantah oleh insititusi pendidikan tersebut, dengan mengatakan kalau organisasi yang menggunakan nama itu tidak resmi dan tidak diakui. Mungkin buat sebagian besar orang tua hal ini melegakan, tetapi seperti saya ketahui beberapa teman saya dan saya sendiri berpikir kalau dikeluarkannya pernyataan seperti itu dari sebuah insitusi pendidikan yang harusnya tidak ada haknya turut campur dengan kehidupan pribadi siswanya, agama, dan di negara yang memiliki undang-undang memberi kebebasan warga negaranya untuk berorganisasi, adalah sikap pengecut.

Kemudian pembicaraan berlanjut kembali, dan setelah saya bagikan ke kelompok percakapan yang lain ternyata mereka mengalami hal yang sama. Saya bersyukur punya teman-teman yang berani menyuarakan pendapat mereka, walau tak populer, di kelompok-kelompok tersebut. Seperti saya duga, kelompok yang menghakimi menyebutkan kata “nanti tertular” atau “bukannya diobati kok malah didukung”. Saya berusaha jawab pendek kalau menjadi LGBT itu bukan infectious disease, dan tidak bisa ditularkan. Sementara teman saya melemparkan kalimat favorit hari ini, “Kalau homo bisa direkrut, gue udah punya harem dari dulu.”

Sampai tulisan ini diangkat, diskusi di berbagai kelompok masih jalan. Di grup tertentu saya sudah menyerah, merasa sudah menjelaskan maksud dan memberikan pengertian, kalau sebagian dari mereka ternyata tetap tidak sependapat, ya apa boleh buat. Oh ya, saya juga ingin memberikan link ini yang isinya adalah press release dari organisasi yang diperdebatkan.

Selamat hari Jumat, dan mari sebarkan kasih sayang!

Iklan

2 thoughts on “Bukan Penyakit Menular

  1. Saya suka dengan orang yang menyatakan posisinya meskipun tidak populer. Saya jadi ingat bahwa diamnya kelas menengah dan kelompok sekuler membuat seakan-akan kelompok ekstrem adalah kelompok dominan di Indonesia, di Timur Tengah, di Amerika, di Islam, di Kristen, dan di mana-mana…. dan akhirnya kelompok yang moderat dan lebih terbuka menjadi kehilangan “keanggotaannya” karena cenderung merasa sendirian

    Suka

    1. Setuju, sayang. Tetapi kadang suka malas ya, ikutan berisik di tengah keributan. Semoga kita bisa bersuara dengan cara yang lebih baik dan berarti.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s