Surat Penuh Cinta Untuk Oom Woody

Dear oom Woody Allen,

Apa kabar, oom? Sehat? Aku jarang denger kabar oom sakit soalnya. Semoga oom dalam keadaan sehat selalu. Masih bisa main trombone dan klarinet ‘kan, oom? Syukurlah kalau masih bisa.

Oh iya, hampir lupa. Happy belated birthday ke-80 tanggal 1 Desember kemarin ya, oom. Lupa mau kirim kartu ucapan. Abis oom nggak pakai e-mail, sih. Kalo oom pakai e-mail ‘kan cepet. Apalagi kalau pakai WhatsApp.

Eh, oom. Gini. Aku nulis surat ini pas lagi inget oom. Soalnya beberapa hari yang lalu, aku nonton film oom yang terakhir, Irrational Man. Nontonnya di rumah. Maaf, oom. Film oom jarang yang masuk di bioskop sini. Terakhir ya Magic in the Moonlight. Itu juga telat lebih dari enam bulan diputernya, oom.

Oke, balik lagi ke Irrational Man. Bosen aku nontonnya, oom. Dari menit-menit awal, aku sudah bisa nebak ceritanya kayak gimana. Nanti karakternya ngapain, jadi kayak gimana, udah bisa ketebak banget, oom. Itu Joaquin Phoenix, Emma Stone, Parker Posey, mereka kan kayak ngulang karakter-karakter di film-film oom dulu. Yang kalo gak oom sendiri yang main, pasti ada tante Mia Farrow atau tante Diane Keaton.
Aku betah-betahin nonton, karena kan aku gak pernah kelewatan nonton film-film oom satu pun. Tapi ya itu. Kayak udah pernah nonton sebelumnya.

Kenapa ya, oom? Kenapa sih, oom?
Apa mungkin karena ini film ke-46 oom dari tahun 1965? Wow. Dalam 50 tahun, oom sudah bikin 46 film. Hampir setahun sekali ya.
Iya sih, mbak Cate Blanchett pas terima Golden Globe buat film oom, Blue Jasmine, juga bilang gini:

“Woody Allen writes and directs these things with such alarming regularity that we almost take him for granted.”

Tapi apa jadinya gitu, oom? Sekarang-sekarang ini, oom tinggal ngulang tema-tema yang sudah oom kerjakan selama ini, terus dimodifikasi dikit-dikit?

Annie Hall
Annie Hall

Nih ya, oom. Ini cuma menurut pendapatku yang sotoy lho.
Di Irrational Man, karakternya pada terinspirasi dari Dostoyevsky. Ya ampun, oom. Masih belum move on dari Crimes and Misdemeanors, yang oom ulang juga di Match Point?
Terus Magic in the Moonlight juga ada resemblance dari Scoop. Terus To Rome with Love cuma ngelanjutin petualangan oom Woody di Eropa dari jaman Everyone Says I Love You, yang tentunya jauh lebih bagus.

Padahal nih ya, oom, tak kasih tahu deh. Oom tahu dong, dulu aku pernah cerita, kalau aku mulai nonton film-film oom dari jaman SMA. Dan itu sudah bikin aku ternganga-nganga waktu nonton film-film lama oom. Annie Hall. Mikirnya, ih bisa ya, film komedi romantis dibuat jadi fantasi yang pintar. Terus Manhattan. Abis itu Broadway Danny Rose. Ya ampun, oom, itu aku ngakak sepanjang film! Terus Zelig. Kayak niat banget oom bikin film dengan detil dokumenter seperti itu. Terus personal favoritku, Radio Days. Gak sekedar nostalgia, tapi heartfelt juga. Lalu The Purple Rose of Cairo, yang menurutku salah satu film komedi fantasi terbaik sepanjang masa.

The Purple Rose of Cairo
The Purple Rose of Cairo

Eh terus pas awal 2000-an gitu, aku mulai khawatir. Kok film The Curse of Jade Scorpion kayak gitu? Terus Hollywood Ending. Terus Anything Else. Ya ampun, oom, ini sih pengulangan dari film-film lama oom sendiri.
Memang, ada film-film oom selama 15 tahun terakhir ini yang bikin aku pas nonton berasa “wow, he’s still got his wits in him!” Seperti Vicky Cristina Barcelona. Terus Midnight in Paris. Terakhir ya Blue Jasmine. Tapi ya udah. Itu aja. Sisanya? Been there done that banget, oom.

Aku salut sih sama, oom, tiap tahun bikin film. Mudah-mudahan bisa sampe kayak Manuel Oliviera, yang meninggal di umur 105 tahun dan masih bikin film sampe akhir hayatnya. Cuma, apa oom perlu keluar dari comfort zone? Ini aja bikin serial buat Amazon, katanya oom kesusahan, dan nyesel dari awal, kenapa diiyain.
Tapi kalau bikin film terus, nanti itu lagi, itu lagi, cerita dan karakternya.

Everyone Says I Love You
Everyone Says I Love You

Cuma, kalau oom Woody maunya kayak gitu, dan udah dipercaya ama studios yang mau biayain film-film oom karena nama oom udah jadi brand sendiri, ada ciri khas di setiap film, terus aktor-aktor pada ngantri main di film oom, ya udah lah ya. Satu surat cinta kayak gini ya ndak ada artinya apa-apa, tho?
Wong ya syukur kalo oom Woody bisa baca dan ngerti ini. Google Translate juga pasti acak adut nerjemahin surat ini. Aku gak mau aja, instead of being Irrational Man, you will also be an irrelevant man later.

Aku tetep sih akan nonton film-film oom. Practically, aku tumbuh dan berkembang sama film-film oom.
Jadi, mumpung oom masih hidup, masih aktif berkarya, aku cuma mau bilang, thank you for your films, oom Woody Allen.

Teriring salam manis,

Xoxo.

Magic in the Moonlight
Magic in the Moonlight
Iklan

3 thoughts on “Surat Penuh Cinta Untuk Oom Woody

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s