Pejuang Apakah Kamu?

Setiap hari kita berjuang. Dan setiap hari adalah perjuangan. Perjuangan melawan malas, menerebos macet, menghadapi bos, dan perjuangan-perjuangan lainnya yang sering membuat kita merasa lelah. Ada yang bilang, kalau dijalani dengan ikhlas gak akan terasa lelah. Ada pula yang bilang kalau perjuangan kita sesuai dengan minat dan kemampuan kita, maka perjuangan akan menjadi keasyikan tersendiri yang membuat kita lupa lelah. Perjuangan adalah ibadah. Bagi yang meyakini perkatan itu, kalau perjuangan jadi melelahkan dan menjemukan adalah kesalahan.

Bisa diartikan perjuangan yang tidak iklhas. Tidak sesuai minat dan bakat. Ada yang salah dengan kita. Ada yang kurang. Yang bisa menggoyahkan langkah kita. Membuat kita berkaca, jangan-jangan selama ini saya keliru dalam menjalani hidup saya. Jangan-jangan saya kurang bersyukur. Kurang berterima kasih pada anugerah yang dilimpahkan. Karena saya merasa capek dan jenuh saat berjuang.

Ditambah lagi saat kita dibandingkan dengan pejuang di negara-negara yang kita anggap lebih superior. Di sana, pejuangnya berjuang tanpa kenal lelah dan pamrih. Perjuangan diyakini sebagai bentuk pengabdian pada semesta. Dan memberikan rasa bangga. Mereka ditampilkan bagai super human yang tak kenal kata lelah, capek apalagi bosan. Kita pun dibuat semakin inferior. Seolah perjuangan kita tidak ada berarti dan belum apa-apa.

Perjuangan yang kita lakukan semata untuk diri sendiri pun, kemudian ada salahnya. Apalah arti perjuangan kalau untuk kemenangan diri sendiri? Perjuangan seharusnya untuk kebahagiaan dan kemaslahatan bersama. Perjuangan untuk sendiri dinilai adalah bentuk keegoisan dan tidak peduli. Menjadi penyebab rasa lelah, capek dan bosan saat berjuang. Karena saat melihat orang lain bisa ikut merasakan hasil dari perjuangan kita, maka rasa lelah itu hilang seketika.

Kebenaran atau sekedar halusinasi belaka? Apa salahnya dengan rasa lelah? Jenuh dengan perjuangan bukankah itu manusiawi? Jangan-jangan para super human itu sebenarnya tidak nyata. Ciptaan belaka. Mereka sebenarnya juga lelah, tapi tak pernah diumbar. Mereka juga sebenarnya jenuh, tapi tak mengaduh aduh. Atau mereka mungkin mengaduh di tempat-tempat sepi dan gelap. Jauh dari sinaran lampu gedung perkantoran, lampu jalan, dan backlight internet.

Kalau benar tujuan kita dilahirkan di dunia ini adalah untuk berjuang, siapa yang mengatur strategi kita? Tuhan? Tau dari mana? Jadi ibarat pejuang di perang yang pokoknya berjuang saja tanpa tahu apa ujung akhir perjuangan ini. Tanpa boleh bertanya apa perjuangan hari ini. Berjuang ajalah terus, “komandan” sudah menentukan strategi terbaik untuk menang. Dan percayalah, setiap strategi adalah yang terbaik untuk kita. Karenanya, sebagai pejuang dilarang mengeluh apalagi protes. Karena itu bentuk keraguan pada “komandan”.

Kalau komandan berkata “tiarap” maka tiaraplah kita. Kalau komandan berkata “lari” maka berlarilah kita. Kalau komandan berkata “sembunyi” maka sembunyilah kita. Kalau komandan berkata “tembak” maka menembaklah kita. Kalau komandan berkata “habiskan” maka membunuhlah kita. Bahkan kalau komandan berkata bunuh diri. Karena komandan tau apa yang terbaik bagi kita. Komandan sudah merancang strategi untuk menang.

Pasrah dan mengikuti saja apa kata komandan, diyakini akan melepaskan kita dari rasa lelah, capek dan jenuh pada perjuangan kita. Mengurangi beban untuk berpikir dan merasa sendiri. Bagai robot-robot yang berjalan dengan remote control. Atau wayang dikendalikan dalang. Tapi sayangnya, manusia bukan robot atau wayang. Manusia dilengkapi dengan perasaan.

Perasaan yang kemudian tarik menarik antara kebutuhan dan keinginan. Antara kehendak dan impian. Antara cinta dan memiliki. Antara bekerja sendiri atau jadi karyawan. Antara mantan atau yang sekarang. Antara baju baru atau sepatu baru. Antara masak sendiri atau makan di resto. Jalan-jalan ke mall atau taman bermain. Sampai kemudian nalar mengambil alih atau ikut menentukan perasaan, kita pun mengambil keputusan.

Keputusan selamanya tidak ada yang sepenuhnya benar atau salah. Setiap keputusan ada risikonya masing-masing. Dan kalau waktu menjalani keputusan kita menyesalinya, kita pun bertanya apa ada yang salah dengan perasaan dan nalar kita? Kita mencoba untuk mengevaluasi agar tak lagi mengambil keputusan yang salah di masa depan. Terus menerus mengevaluasi sampai akhirnya akan keluar satu pemenang saja, perasaan atau nalar.

Hebatnya, pemenang itu pun bisa diganggu gugat. Oleh perjuangan-perjuangan di masa mendatang. Oleh orang-orang yang kita jumpai sepanjang perjuangan kita. Hanya sesaat sebelum perjuangan kita usai, baru kita menyadari apakah kita pejuang nalar atau perasaan. Tak pula berarti pilihan berganda, karena pejuang nalar belum tentu mengalahkan perasan. Demikan pula sebaliknya. Bisa jadi, nalar atau perasaan hanya disembunyikan di tempat-tempat sepi dan gelap. Jauh dari sinaran lampu gedung perkantoran, lampu jalan, dan backlight internet.

Di tempat-tempat tersembunyi itu, seringnya kita tidak sendiri. Dunia terlalu sempit untuk kita sendiri. Tempat-tempat gelap dan sunyi itu ideal bagi tanaman bernama cinta untuk bersemi.

Kepada para pejuang nalar dan perasaan, selamat berjuang.

mawar

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s