Tidak secara jelas data statistika jumlah persentase buta huruf di negeri ini. Apakah seluruh warga telah melek baca tulis?

Ketika warga lebih menyukai tradisi lisan, maka yang terjadi adalah sulitnya menjaga kelestarian pencapaian yang telah diperoleh oleh orang-orang sebelum kita hidup. Kebijaksanaan yang hanya terbatas disampaikan melalui teladan langsung dan wejangan. Mudah lekang.

Seberapa pentingkah sebuah kemampuan baca tulis bagi perkembangan zaman? Terlebih lagi penguasaan bahasa di luar bahasa ibu?

Menurut hemat saya, mentalitas seseorang yang hidup di alam kekinian akan jauh lebih beradab jika ia pandai baca tulis dan berkomunikasi dengan bahasa lain.

Komunikasi tak lagi gunakan kepulan asap sebagai penanda. Atau kibaran bendera semapur. Penggunaan huruf sandi. Atau patahan ranting di tepi jalan setapak. Komunikasi telah melesat jauh dengan wahana dan bahasa yang beragam, dengan cara yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Namun masih ada yang tersisa. Pengaruh genetik purba kita masih ada. Ketika tak paham harus berbuat apa, bayi menangis. Ketika lapar juga menangis. Ketika perlak dan popok telah basah, maka terus-menerus bayi akan menangis. Satu cara untuk berkomunikasi: menangis.

Beranjak dewasa, kita diperkenalkan dengan cara lain. Tidak hanya menangis, ada juga rupanya yang disebut genit. Genitnya manaaa? Lalu si bocah akan tersenyum, mata dikedip-kedipkan. Baru selesai jika lawan bicara si bocah tertawa, memeluk atau menciumnya. Sebuah bahasa kasih sayang.

Semakin berumur kita diperkenalkan dengan beragam cara menunjukkan apa, siapa dan hendak apa kita. Bahasa sebagai sebuah pesan. Caranya makin beragam. Mengirim sms, ping, miskol yang disengaja, menulis sajak atau sekadar menyapa.

Ini adalah cara jantan. Komunikasi langsung dengan lawan bicara (dan lawan baca).

Banyak juga yang menggunakan perantara. Salam ya untuk dia. Eh mau kemana, titip oleh-oleh ya. Nanti kalau ketemu si itu, bilangin kapan mau bayar utangnya?

Komunikasi sudah selayaknya tak perlu dihambat. Apalagi disumbat dan dilarang. Banyak kanal yang dapat ditempuh. Semakin mudah berkomunikasi maka semakin jarang kita untuk baper. Dengan bicara secara dewasa, dengan menulis secara bertanggung jawab, maka kecenderungan yang timbul adalah peradaban yang memuliakan pri kehidupan.

Marah yang tersumbat, emosi yang disimpan rapi, unek-unek yang dipendam adalah cikal bakal dari sebuah energi yang tak terkendali. Bagai bendungan jebol.

Maka pada akhirnya bahasa kekerasan menjadi jalan. Dengan banyak alasan hal tersebut menjadi pembenaran. Sebabnya pun boleh apapun. Perbedaan pendapat, perbedaan iman, perbedaan pandangan, perbedaan sesembahan, dan yang paling jelas: perbedaan kepentingan.

Lantas apa yang dapat kita lakukan?


Mari kita kembali untuk saling bicara apa adanya. Berbeda itu bukan dosa. Saling memahami bahwa semua makhluk tuhan boleh bicara, boleh bergaya, boleh melakukan apa saja selama hal tersebut secara etika dan aturan diperkenankan.

Tidak melulu semua soal ekonomi. Tidak melulu semua soal agama dan keyakinan.

Sebagian besar dari kita memang hanya ingin didengar.


Salam anget,

Roy

Posted in: ringan

6 thoughts on “Dengar Leave a comment

  1. dan saya selalu senang jadi pendengar..
    menjadi pendengar yang baik, membuat kita bisa melihat dan mensyukuri banyak hal dalam hidup..:)

    salam sejahtera untuk kita semua.

    thanks utk tulisannya om..(y)

Leave a Reply