Akan Selalu Ada “Nabi-nabi” Baru

TULISAN kali ini sengaja telat naik, karena topiknya enggak penting-penting amat… ditambah lagi karena sayanya memang kurang fokus dan terlalu gampang terdistraksi. Maklum, gampang hanyut. Belum lagi buntu otak menulis tentang apa, perlu banyak-banyak masukan.

Bicara soal distraksi, selain playlist random film-film berbahasa Tionghoa di kanal Tian Ying Pindao, serta meninggalnya David Bowie dan komedian Budi Anduk pada awal pekan ini, salah satu topik yang lumayan bikin penasaran adalah soal Gafatar atau NKSA atau apa lah namanya. Ketiga hal ini benar-benar menjadi distraksi, sebab mampu membuat saya menghabiskan berpuluh-puluh menit demi menyimaknya.

Soal film, ternyata ada banyak judul yang menarik untuk dipantengin. Hanya sedikit dari film-film tersebut yang pernah tayang di bioskop, sehingga benar-benar menjadi kesan pertama. Seperti yang barusan banget ditonton sebelum menulis ini, dan akhirnya memperpanjang durasi makan siang sampai 90 menit: “無人區” (No Man’s Land). Selain itu, dengan film-film yang tidak disulihsuarakan ke dalam dialek Mandarin, bisa juga tipis-tipis mengetahui kosakata dalam dialek Kwongtung (film-film Hong Kong) dan dialek Hokkian (film-film Singapura/Malaysia/Taiwan).

Soal meninggalnya David Bowie, baru tahu kalau ada beberapa lagu yang menunjukkan ketertarikan khusus pada Indonesia. Bahkan salah satunya memuat lirik dalam bahasa Indonesia, dan berjudul “Jangan Susahkan Hatiku”. Ya lumayan, ada beberapa waktu ketika bekerja sambil memutar lagu-lagunya di YouTube.

Begitu juga soal Gafatar atau NKSA, dan konon dikabarkan merupakan sempalan dari ajaran Millah Abraham, yang bergerak dengan sistem gerilya dan klandestin setelah induk organisasinya dibubarkan lantaran pokok-pokok ajaran yang menyimpang dari agama resmi. Lengkap dengan alamat yang tidak jelas, dan nama yang berubah-ubah.

Berawal dari serangkaian pemberitaan tentang hilangnya seorang dokter muda bersama anaknya yang masih balita, yang tahu-tahu ditemukan di Kalimantan Tengah. Dari beberapa artikel, baru tahu kalau organisasi ini seakan ingin membangun komunitasnya sendiri di Kalimantan Barat, ditandai dengan kawasan pemukiman sampai pembangunan areal pemakaman khusus. Hanya saja, mekanisme perekrutannya memberi kesan misterius dan menyeramkan, sampai-sampai seolah membuat pengikutnya melepaskan akal sehat dalam bertindak. Saya membayangkan, apabila kawasan pemukiman ekslusif ini terbentuk dan mampu menghidupi diri sendiri, apakah kira-kira bakal seperti kelompok Amish di Amerika Serikat, atau seperti lingkungan-lingkungan Mormon konvensional. Entahlah.

Singkat cerita, setelah klik tautan ini dan itu, baru tahu kalau gerakan Millah Abraham tidak jauh berbeda dengan pandangan-pandangan serupa yang terjadi hampir di semua ajaran agama formal. Yakni ketika ada celah penafsiran praktis mengenai–sebut saja–nubuat, ramalan, atau janji ilahiah, yang kemudian dimaktubkan dalam kitab suci masing-masing, sehingga disakralkan. Mengapa hanya di ajaran agama formal? Karena hanya ajaran agama formal yang menegaskan semacam “susunan organisasi”, struktur kewenangan. Mulai dari sang Causa Prima, para pembawa pesan, para kerabat dan tokoh-tokoh penting, sampai umat biasa.

Konon, hingga saat ini umat Yahudi masih menanti kedatangan Messiah-nya. Itu merupakan salah satu sebab politis utama terjadi penyaliban Yesus. Pendiri Millah Abraham, yang disebut menyampuradukkan pokok-pokok ajaran tiga agama Timur Tengah, menyatakan diri sebagai Messiah yang dinantikan itu.

Umat Kristen secara umum, boleh dibilang siap dan menantikan berlangsungnya isi dan penjabaran dalam Kitab Wahyu, salah satu bagian dari Perjanjian Baru yang ditulis dengan begitu deskriptif. Lengkap dengan hewan mengerikan, simbol angka 666, keempat penunggang kuda, dan sebagainya.

Sedangkan para Muslim pun tengah bersiap dengan kehadiran Dajjal, beserta bangkitnya Ya’juj dan Ma’juj (dalam Alkitab disebut sebagai Gog dan Magog), yang nantinya bakal ditumpas oleh Imam Mahdi, dan seterusnya hingga kiamat dunia terjadi. Selebihnya, sebuah ketentuan yang tak terbantahkan bagi para Muslim bahwa Nabi Muhammad adalah rasul terakhir. Itu sebabnya, Mirza Ghulam Ahmad dengan Ahmadiyah-nya, maupun Syiah dengan kultus para imamnya, dan beragam ajaran-ajaran lainnya disebut sebagai deviasi dari keislaman. Konsekuensinya pun ada dua: ditobatkan, atau berdiri sendiri dengan tidak membawa nama Islam.

Dalam Hinduisme, masih ada satu figur Avatara yang akan muncul. Dari sepuluh sosok, sembilan di antaranya sudah muncul dalam berbagai era. Termasuk salah satunya yang–entah hanya bernama sama atau gimana-gimana–disebut Buddha Avatara. Figur terakhir adalah Kalki, yang bakal muncul pada periode Kaliyuga, era kehancuran dan kegelapan. Kalki digambarkan sebagai kesatria berpedang di atas kuda putih.

Selalu ada celah untuk merasa terpanggil, dan muncul sebagai orang-orang “penting”.

Sebagai ajaran yang berinstitusi, Buddhisme pun tak lepas dari hal-hal seperti ini. Masih berlangsung sampai sekarang.

Merupakan pencapaian, disebut bahwa kebuddhaan bisa dicapai siapa saja (yang belum mencapai kebuddhaan). Kemunculan Buddha pun bersifat siklus dan hanya terjadi dengan faktor-faktor pendukung. Sehingga secara sederhana, bisa dibilang Buddha akan muncul terus menerus dalam batasan ruang dan waktu tertentu (bumi, tata surya, galaksi, kumpulan galaksi-galaksi). Kapan muncul kembali? Mbuh. Namun salah satu syarat munculnya seorang Buddha yang mencapai kebuddhaan atas usahanya sendiri dan mampu mengajarkannya kepada orang lain, sampai yang bersangkutan merealisasi kebuddhaan yang serupa, adalah ketika sedikit pun Buddhisme tak lagi tersisa.

Buddha historis yang dikenal dalam peradaban manusia belakangan ini (baca: 5 milenium terakhir) adalah Siddhattha Gotama, juga kerap dikenal sebagai Sakyamuni. Dalam salah satu sesi ceramahnya, yang kemudian dicatat berjudul Cakkavatti-Sihanada Sutta dan termasuk dalam bagian Tipitaka, disebutkan bahwa Buddha masa depan setelahnya bernama Metteya atau Maitreya dalam bahasa Sanskrit. Maitreya menjadi salah satu figur penting dalam ajaran mazhab Mahayana (ya, non Aswaja gitu deh). Makanya terkenal di Tiongkok, Jepang, Korea, Vietnam.

(Lalu, bagaimana dengan Amitabha, dan nama-nama Buddha lainnya yang ada dalam penjelasan tentang Borobudur? Nah, itu lain cerita.)

Masih berupa ramalan, namun bisa ditebak sudah terjadi sejumlah kasus ketika ada beberapa orang mengaku sebagai Maitreya. Mulai yang berasal dari lingkungan penganut Buddhisme (klaim paling awal tercatat pada tahun 613), sampai yang bukan.

Tidak hanya itu. Kultus terhadap Maitreya bahkan sudah berinstitusi juga. Berawal dari Tiongkok, berkembang ke seluruh dunia, memiliki “tanah suci” di Taiwan, dan bahkan memiliki majelis pemuka agamanya sendiri di Indonesia. Terus hadir sampai sekarang. Selain itu, ada pula yang menggelari atau digelari sebagai Buddha hidup, pun memiliki cukup banyak penganut dan salah satunya menjadi sub sekte tersendiri. Berikut beberapa di antaranya.

  • Yi Guan Dao (一貫道)

Sekarang, tidak susah bagi Anda untuk membaca lebih jauh tentang Yi Guan Dao tanpa harus terlibat di dalam lingkupnya yang ekslusif, dan melibatkan inisiasi dan kerahasiaan khusus. Dalam Wikipedia misalnya, Yi Guan Dao masuk kategori Chinese Folk Religion. Namun Maitreya dihadirkan sebagai salah satu figur utama ajaran, ada kaitannya dengan posisi sebagai Buddha masa depan. Hanya saja, penggunaan tampilan Buddha Maitreya ala Tiongkok, atau yang lebih populer disebut The Laughing Buddha, agak tidak segencar aliran berikutnya;

Ruang utama lantai dasar Vihara Eka Dharma Manggala Samarinda, jadi lokasi hunting foto Instagram. Foto: YouTube.com
  • Jalan Besar Maitreya (彌勒大道)

Di Indonesia, ajaran Maitreya menjadi sub sekte yang diakui resmi oleh pemerintah melalui Walubi dan mempunyai majelis pemuka agamanya sendiri. Banyak yang beranggapan bahwa ajaran Maitreya merupakan bentuk yang lebih modern dan moderat daripada Yi Guan Dao. Itu sebabnya vihara mereka dan fokus kegiatan relatif berbeda. Tetap mempertahankan sejumlah pakem esoteris seperti serupa “pembaptisan”, saat ini mereka lebih intens mempromosikan gaya hidup vegan/vegetarian, dengan tagline “seluruh dunia satu keluarga”. Dari sisi kaum muda, ciri khas mereka adalah sajian tarian yang energik, beraura positif dan optimistis. Berbagai desain grafis pun menampilkan sosok Maitreya yang dibuat kartun.

Patung Maitreya raksasa di Taiwan. Foto: yungchu.com.tw
  • Falun Dafa (法輪大法)

Kelompok ini didirikan oleh Li Hongzhi, namun sebenarnya tidak jelas apakah Li pernah mendeklarasikan dirinya sebagai Buddha atau tidak, atau hanya bentuk kultus berlebihan dari para pengikutnya sehingga menyebabkan salah persepsi di dunia modern saat ini. Untuk hal ini, lebih baik praktisi meditasi Falun Gong saja yang meresponsnya.

Formasi manusia membentuk Li Hongzhi di Taiwan. Foto: telegraph.co.uk
  • True Buddha School (真佛宗)

Kelompok ajaran ini diinisasi oleh Lu Shengyen, seorang kelahiran Taiwan yang saat ini tinggal di Seattle, Amerika Serikat dan masih aktif berkeliling dunia untuk mengisi ceramah dan upacara akbar. Secara teknis, True Buddha School memiliki karakteristik mazhab Tantrayana/Vajrayana yang ada di Tibet, Bhutan, dan sebagian Nepal. Hanya saja ajaran True Buddha School juga semarak dengan Taoisme. Selain itu, secara terbuka Grand Master Lu menerima penyebutan dirinya sebagai Buddha hidup dari para muridnya, berdasarkan sistematika guru-murid Tulku Buddhisme Tibet. Ia digelari Buddha Hidup Lian Sheng/Padmakumara/Putra Teratai (蓮生活佛). Dan karena itu, setiap murid yang “dibaptis” dalam True Buddha School memiliki nama Tionghoa baru. Terdiri atas empat huruf, dan dua huruf pertama adalah 蓮生. Berbeda dengan “nama baptis” dalam Yi Guan Dao maupun Maitreya, yang hanya berupa nama Tionghoa baru tanpa ketentuan aksara khusus.

Menag SDA dengan Lu Shengyen, terkait… ah klik aja fotonya buat baca keterangannya…

Dari empat di atas, tiga di antaranya punya komunitas dan vihara masing-masing. Dalam kegiatan bernuansa keagamaan dan diselenggarakan Kemenag, juga selalu hadir. Vihara Yi Guan Dao punya ciri khas bernama “Eka Dharma” dan gaya arsitektur identik, sedangkan ajaran Maitreya punya beberapa Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat).

Ya, sejauh ini, keberadaan ketiganya masih menjadi penambah keragaman karakteristik orang-orang dalam lingkup Buddhisme. Asal orangnya bisa bersikap baik, ndak songong, ya babahno…

Ndak penting, kan? 😀

[]

Iklan

3 thoughts on “Akan Selalu Ada “Nabi-nabi” Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s