Pola Asuh Bagian 2

Waktu SMA dulu, sebentar… 17 tahun lalu! Seorang kawan selalu khawatir kalau nilai matematika-nya jelek. Dia bilang, orangtuanya ndak peduli berapa nilai pelajaran yang lain, asal matematika tetap bagus. Beranjak kuliah, seorang teman menghapal mata kuliah dengan mebentur-benturkan kepala ke tembok–sumpah! Ndak sampai mati sih, tapi lumayan mengerikan untuk anak gendut yang bahkan orangtuanya ndak tau anaknya pilih jurusan apa. Aku juga kenal satu laki-laki yang menikah dengan perempuan demi orangtuanya. Punya anak. Lalu bercerai dan pacaran sama lali-laki lagi setelah orangtuanya meninggal dunia.

Bicara mengenai tipe asuhan orangtua , belakangan banyak tipe negarif baru diluar kategori resmi yang diakui ilmu psikologi. Coba perhatikan, siapatau kita kenal salah satunya. Atau, kita sendiri?

SOCCER MOM
Awalnya, istilah ini diperuntukkan bagi orangtua yang rajin sekali mendaftarkan anaknya ikut aneka kegiatan olahraga di Amerika. Lalu, artinya merambat jadi orangtua yang memaksakan anaknya ikut kompetisi (baca: obsesi) olahraga. Si anak mesti punya prestasi olahraga yang cemerlang. Kekalahan bisa bikin satu keluarga berkabung selama beberapa minggu.

STAGE PARENTS
Sama dengan Soccer Mom di atas. Tapi bidang obsesinya adalah performa panggung. Bisa seni musik, tari, drama, atau modelling. Kalau Anda pernah memperhatikan kegiatan pertunjukkan anak-anak, lalu ada orangtua yang bergerak-gerak heboh kasih arahan di depan panggung atau di balik kamera pada anaknya; begitulah Stage Parents.

MANAGER PARENTS
Tingkat selanjutnya dari Stage Parents. Masa kecil seorang anak sering hilang karena tipe orangtua macam ini. Mereka jadikan anaknya sumber keuangan keluarga. Entah karena memang berbakat atau cuma mukanya lucu aja di depan TV. Tapi, kasih sayang itu sah dipertanyakan saat mereka membuat satu daftar harga dan mengatur jadwal pertunjukkan bagi anakknya. Dalam beberapa kasus ekstrem, orangtua jenis ini ndak peduli jika anak mereka sakit atau sedang menghadapi ujian sekolah.

HELICOPTER PARENTS
Biasanya terjadi pada orangtua dengan waktu luang yang cukup lebar. Mereka selalu berada di sekitar si anak. Mengudara dan terus mengawasi apa yang dialami si anak. Persis kayak helicopter patroli. Ruang improvisasi dan penyelesaian masalah secara mandiri tertutup. Anak dimanjakan bahkan untuk sekedar urusan pilih baju tidur. Orangtua mudah panik jika sesuatu terjadi diluar kendali.

image
Sumber: Google

TIGER MOM
Istilah ini mencuat saat sebuah buku sindiran berjudul “Battle Hymn of the Tiger Mother” karya Amy Chua terbit. Buku itu mengungkap pola didik orangtua Asia yang berkarakter keras pada anak agar berhasil mencapai prestasi teratas; apapun bidang yang ia geluti. Amy terutama mengambil cuplikan orangtua berdarah Tiongkok di Amerika dan negeri asalnya. Karyanya kemudian jadi serial TV. Orangtua jenis ini memberikan tekanan begitu dramatis, sampai level stress si anak melebihi pialang saham menghadapi krisis moneter.

KYOIKU MAMA
Dari bahasa Jepang yang berarti “education mother.” Istilah ini dikenal di Jepang untuk orangtua yang tanpa henti mendorong pendidikan anaknya. Terdengar baik-baik saja memang. Tapi, mereka mengesampingkan aspek sosial dan pertumbuhan emosional si anak. Pendidikan nomor satu. Lainnya bisa menyesuaikan. Saking kerasnya, media dan sekolahan sering menyalahkan orangtua jenis ini atas tingginya tingkat bunuh diri anak usia sekolah di Jepang.

GOOGLE MOM
Mencari informasi di Google boleh saja. Tapi bukan menentukan obat untuk anak yang tampaknya terkena cacar air. Orangtua jenis ini memanfaatkan informasi ndak pada tempatnya. Cenderung khawatir berlebihan pada banyak hal. Lebih buruk lagi, sering salah diagnosa karena dokter diganti Google. Ngeyel lagi!

PEER PRESSURE PARENTS
Tekanan datang dari mana saja. Yang paling sukar dihindari adalah dari lingkungan sekitar. Orangtua jenis ini membentuk satu komunitas terturup dan bersaing di dalamnya. Komunitas ini bisa antar ibu-ibu arisan, mama-mama satu sekolahan anak, atau kelompok PKK. Seorang anak beli boneka Elsa, orangtua lain akan membelikan boneka Elsa lengkap dengan istananya. Disusul yang lain dengan membeli gaun Elsa dan wig pirang untuk anaknya. Begitu seterusnya, tanpa diminta oleh si anak.

DIGITAL PARENTS
Kalau kita kenal dodot bisa membuat anak lebih tenang. Orangtua jenis ini menggantikannya dengan iPad. Menyodorkan YouTube ketimbang dongeng sebelum tidur. Melakukan video chatting lewat Skype dengan anak mereka, karena terpisah ribuan kilometer. Juga, menganggap kehadiran dan interaksi fisik bisa tergantikan oleh aplikasi-aplikasi digital yang memudahkan.

IMAGE-CENTERED PARENTING
Orangtua jenis ini membeli apapun yang dijual dengan kesan yang baik. Kesan yang belum tentu baik. Bahkan kesan yang pura-pura baik. Bisnis menjadikan mereka bulan-bulanan target dagang. Marketing tau sekali cara memancing mereka. Cukup beri satu premis mengerikan, tawarkan solusinya, beri label harga selangit. Beres! Dari sekolahan bertaraf internasional, sekolahan religius yang menjamin lulusannya masuk surga, USG 4 dimensi, pemutar musik untuk janin dalam perut, sampai les lima bahasa!

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Pola Asuh Bagian 2 Leave a comment

  1. Bang, Bang. Mau komeng.
    Nyokap gw dulu juga stage momma, daftarin gw ikut children choir buat panggung agustusan sampe Bina Vokalia. Tapi tujuan dia cuma satu: biar gw ada kegiatan & dia bisa rehat bentar jadi nyokap, punya me time. Dia juga ga hebohan depan panggung kek deskripsi lo itu. Wong gw berangkat latihan–sampe pentas pun–sendiri kok. Emak gw begitu karena gw minder mampus. Cara dia ngajarin PD ya gitu. Untuk emak2 yg melahirkan umur 17 & cuma lulusan SMA, she did one helluva job raising a premature daughter.

    Terus soal Skype call, temen gw yg harus kuliah di Jepang & ninggalin anaknya umur 2 tahun sama bapaknya di Jakarta did that. Skype-nya ga pernah mati di 2 ujung dunia itu. Dia juga bela2in pulang tiap jadwal tidur anaknya, buat dongengin cerita.

    It’s not always bad, dontcha think?

Tinggalkan Balasan