Siap adalah Ilusi

Manusia kekinian memiliki sebuah obsesi, mempersiapkan diri untuk masa depan. Bersiap agar saat anak memasuki sekolah, dana sudah tersedia. Mempersiapkan tubuh agar selalu sehat, bahkan saat masa tua tetap bisa menikmati hidup. Menabung untuk berlibur setiap akhir tahun nanti. Mencari pekerjaan yang sesuai keinginan dan bakat, agar tetap bisa aktif saat pensiun. Intinya, kebahagiaan hari nanti menjadi motor penggerak hari ini.

“Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan” pun sebenarnya sudah terlalu sering didengar dan diamini. Di saat yang bersamaan, perkatan itu memiliki saudara kembar “hidup kita di tangan kita, kita yang menentukan nasib kita”. Antara bekerja keras demi nasib dan kepasrahan pada Yang Maha Kuasa. Terus menerus tarik ulur.

Di saat yang bersamaan, semesta hampir setiap hari memberikan “tanda-tanda” bahwa mempersiapkan diri untuk masa depan adalah ilusi. Entah kejadian di diri kita sendiri, orang-orang terdekat atau berita yang kita baca di media sosial. Uang dan kesehatan, dua hal yang secara umum dianggap sebagai modal utama menyambut masa depan seperti yang kita inginkan. Kejadian yang kemudian membuyarkan harapan masa depan itu, diikhlaskan sebagai “namanya juga takdir” atau “ya mau gimana lagi?”

Saat bergelut ini pun, kita dihadapkan pula pada “yang penting seimbang: tetap nikmati hari ini sambil mempersiapkan hari esok”. Benarkah manusia bisa seimbang pada hidupnya? Banyak sudah orang tua yang mengakui, hampir tak bisa seimbang sayang pada anak-anaknya. Tetap ada anak emas walau tak ditunjukkan. Anak pun demikian, lebih sayang ke ayah atau ke ibu. Demikian pula bos dan anak buahnya. Begitu pula sebaliknya. Benarkah kita bisa membagi waktu untuk bekerja dan pribadi? Menyeimbangkan antara makan enak dan olahraga. Berbagi perhatian dan kasih sayang secara seimbang kepada pasangan resmi dan simpanan. Jangan-jangan konsep “seimbang” pun ilusi saja.

Pertanyaan yang membuatnya semakin rumit, keseimbangan itu apa? 50-50, atau sesuai kebutuhan masing-masing. Benarkah ini bisa terjadi? Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, manusia sulit untuk memahami apalagi menerapkan makna “seimbang”.

Dalam pengaturan teks misalnya, seimbang dilabeli “justify”. Padahal survei membuktikan, teks paling sulit dibaca justru saat diatur “seimbang”. Agar tampak “hidup” wajah manusia ternyata diciptakan tidak simetris, tidak justify.  Majalah Time pernah mencoba bereksperimen menggunakan photoshop membuat wajah orang simetris. Hasilnya? Seperti wajah orang tak berkehidupan. Sepasang payudara yang simetris, tak pernah ada. Sama seperti buah zakar yang tak jatuh sama rata.

Lalu, mungkinkah kita bisa secara alami dan manusiawi membagi secara seimbang, hari ini dan hari esok? Menikmati hari ini secara maksimal tanpa memikirkan atau tak menikmati hari ini demi hari esok, sama-sama disebut kesalahan. Pertanyaannya, mengapa salah? Apa salahnya dengan menikmati hari ini sepenuhnya tanpa memikirkan hari esok. Begitu juga apa salahnya dengan mengorbankan hari ini demi hari esok? Karena tak ada salahnya, maka kedua pilihan bisa jadi kebenaran. Atau mungkin ini bukan urusan benar dan salah.

Atau mungkin juga, misteri inilah yang memberikan gairah pada kehidupan. Yang membuat kita tetap bergerak. Bayangkan kalau hari esok sudah kita ketahui dari sekarang, apa yang akan kita lakukan hari ini? Mencegah yang tak dikehendaki untuk terjadi, adalah kemustahilan. Mengetahui kebahagiaan hari esok pun bisa membuat kita salah langkah di hari ini dan kebahagiaan tak jadi datang.

Misteri ini menjadi pikiran seorang anak remaja yang sedang berjalan di pantai. Saat sedang merenung mencari jawabannya, seorang nabi mendatanginya. Remaja itu pun menceritakan apa yang ada di pikirannya. Nabi kemudian berkata “coba kau keruk lobang di pasir, kemudian masukkan air samudera ke dalamnya”. Tentunya sebuah kemustahilan. Tapi itu dulu, saat cerita ini disampaikan. Sekarang, saat tulisan ini ditulis sepertinya tidak lagi. Jadi mungkin. Kok?

Bukankah sekarang “perencana masa depan” bertebaran di hadapan kita. Kalau kita ke toko buku, buku-buku yang berisikan perencaan kebahagiaan dan kemapanan masa depan, pasti banyak dalam jajaran best seller. Masing-masing dengan teorinya sendiri-sendiri. Dengan lantang penulis-penulis itu berkata “masa depan bisa kita ramal dan taklukan”. Masa depan bisa diatur dan ditentukan. Kejatuhan masa depan bisa diselamatkan. Kebahagiaan masa depan bisa ditambah dari sekarang.

Penulisnya pun beragam usia, dari remaja sampai sesepuh. Dari dalam dan luar negeri. Dari yang bernampilan alim sampai yang urakan. Dengan gaya penulisan yang santun sampai yang cihuy.

dsc000291

Kalau best seller, artinya banyak pembelinya. Kalau banyak pembelinya, artinya banyak yang percaya tulisannya. Kalau banyak yang percaya tulisannya artinya banyak yang tak nyaman dengan misteri masa depan. Kalau banyak yang tak nyaman dengan misteri masa depan, artinya banyak yang hidup dalam kegelisahan hari ini. Kalau banyak yang hidup dalam kegelisahan hari ini, artinya banyak yang enggan bergerak ke depan.

“You realize that our mistrust of the future make is hard to give up the past” – Chuck Palahniuk (bukan perencana dan penakluk masa depan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s