Tinggi Berkaos Biru

Untuk ketiga kalinya Sekar nonton Ip Man 3 di bioskop. Film yang lebih masuk nalarnya ketimbang Star Wars, The Force–ujug-ujug–Awaken. Alurnya cukup sederhana, bukan berarti klise lho ya, dengan bumbu seni bela diri yang pasti dia suka. Karena film yang aku tonton lebih dari 2 kali hanya film keluaran Sean Cody dengan aktor utama Brandon, maka aku putuskan ndak ikut. Biar Sekar nonton aja sendirian. Aku belanja kebutuhan rumah di Hypermart. Nanti, siapapun diantara kami yang selesai duluan, segera ambil tempat di Bakmi Gajah Mada. Dan tunggu.

Ndak terasa waktu belanjaku molor jadi 1 jam 20 menit. Padahal cuma beli gunting rumput, pembersih kaca, keran air, dan Original Source sabun mandi merangkap shampo. Proses mengingat dan liat-liat rupanya menyita waktu. Ditambah hari minggu antrian kasir Hypermat kayak antrian masuk surga. Panjang juga banyak yang harus dipindai.

Sekar sudah duduk di area dengan hembusan AC paling kencang. Dia tau aku akan datang terlambat, bawa belanjaan, ngos-ngosan sambil kringetan. Satu-satunya yang aku butuhkan setelah minum air putih, ya AC.

Sekar: “Om Gendut duduk di situ. Sini belanjaannya taro sini aja. Udah kakak pesenin Bakmi Bakso sama pangsit goreng. Minumnya ini dulu, sisa kakak di bioskop, sambil nunggu makanannya dateng.”
Aku: “iya…”

Sekar duduk persis di depanku. Rambutnya rapi lengkap dengan dandanan kakakku dari rumah, karena sore ini harus datang ke acara ulang tahun kawannya. Anakku udah remaja. Yang bilang 11 tahun itu lama, cuma orang di bui atau belum punya anak.

image
Sekar. 3 Januari 2016

Lima tahun belakangan tiap hari aku harus bergelut dengan pertanyaan “apa lagi nih?” Dijawab oleh banyak hal yang 80% diantaranya aku belum siap. Jadi orangtua sekarang ini butuh improvisasi. Apa yang kita pelajari dari ayah-ibu kita, hanya sedikit yang bisa diterapkan. Dulu, aku sekolah jalan kaki sekitar 6km. Pulang sehat. Sekarang, 100m aja ke jalan raya. Bisa ndak pulang lagi. Waktu SD dulu seringnya main diluar. Pulang maghrib, itupun setelah ditakut-takutin wewe gombel. Sekarang, youtube seharian di rumah. Kadang-kadang ndak tau udah maghrib.

Aku: “Berapa lama Kakak nunggu?”
Sekar: “Sebentar aja. Tapi kalo Om Gendut sampe duluan, pasti Kakak ndak kenalan sama Bian.”
Aku: Ha?
Sekar: “Jadi, tadi ada laki-laki ajak kenalan waktu kakak habis pesen sama mbaknya. Namanya Bian. Ini nomor teleponnya (menunjukkan layar ponsel).”
Aku: “Mana dia?”
Sekar: “Udah pergi. Orangnya tinggi, pake kaos biru.”
Aku: “Baik ndak?” Sambil mencoba untuk tenang. Tenang, gandrasta, Sekar masih utuh di depanmu.
Sekar: “Ih! Mana aku tau.”

Meski dipaksa tenang. Aku ndak tau lho, harus gimana? Aku diam sebentar. Tengok kanan-kiri, siapa tau ada anak laki-laki tinggi berkaos biru. Misalkan, mataku menangkap anak itu, aku juga ndak tau mau apa. Tapi, penasaran ini ndak gampang sembuh. Apa aku berdiri aja; lalu teriak MANA ANAK LAKI-LAKI KAOS BIRU?! Atau aku telpon aja nomor itu. Terus, ngomong apa?

Aneka skenario berlarian di kepala. Gimana kalau Bian ini penculik? Anggota PKS? Suka nonton Ganteng-Ganteng Srigala? Ada taik laler di idung? Tinggi berkaos biru, sama sekali bukan informasi yang membantu. Aku ndak akan bisa tenang tanpa meneruskan percakapan.

Aku: “Jadi, Kakak kasih nomor telpon ke Bian?”
Sekar: “Ndak. Aku kasih aja nomor Om…”

*cue music!

Don’t know what it’s all about
But every time I look around
All I see is how… we’re holdin’ on
Don’t ask me what’s wrong or right
I don’t even know the time
All I know is I’m holdin’ on

Posted in: @linimasa

12 thoughts on “Tinggi Berkaos Biru Leave a comment

  1. Pingback: LINIMASABrandon
  2. Sekar makin cantik <3

    Ngakak di part Sean Cody dan cowok berkaos biru :)) Dan seperti biasa ya, kalo udah cerita tentang Sekar, ending dari postingan-nya pasti twist 😀

  3. Yaampuuun Sekar uda gadis!! Trakhir liat klo ada postingan poto masih kecil rambutnya pendek ❤️❤️❤️

Leave a Reply