Saving All My Love For You

Ada satu kegiatan rutin yang selalu saya tunggu menjelang akhir tahun.
Kegiatan rutin itu adalah menutup buku.
Ini bukan sekedar “buku” biasa. Tapi ini adalah catatan keuangan pribadi yang dijalani setiap hari selama setahun penuh. Dan catatannya pun bukan berupa aplikasi atau catatan buku nota. Cukup sekedar celengan.

Iya.
Celengan.
Mau bentuknya apapun. Kalau saya bentuknya adalah tube atau kaleng bekas bungkus kaos yang pernah saya beli di Bangkok belasan tahun lalu. Di situlah tempat saya meletakkan sebagian uang setiap harinya. Jumlahnya tidak boleh bulat seperti 10 ribu, atau 20 ribu. Harus aneh, misalnya 19 ribu, atau 18 ribu, atau 23 ribu. Alasannya? Biar ada uang kecil saat diperlukan. Menaruh uang di celengan ini pun tidak harus setiap hari. Kalau saya mau bepergian selama seminggu, misalnya, maka saya akan menaruh uang untuk seminggu itu. Misalnya sudah saya tetapkan hari itu ingin menabung 21 ribu, berarti 21 ribu kali 7 hari. Yang penting ada jejak rekamnya.

Jejak rekamnya ini berupa coretan di kalender meja. Kalender ini ditaruh persis di sebelah celengan, lengkap dengan spidol. Berhubung posisi kalender dan celengan letaknya di sebelah lemari pakaian, mau tidak mau saya melihat mereka setiap hari.

Untuk apa uang ini saya sisihkan? Dulu, ketika memulai kegiatan ini sekitar 10 tahun silam, pikiran saya sederhana. Mau jalan-jalan di akhir tahun dengan uang yang terkumpul setahun.
Sempat terlaksana di tahun-tahun pertama.
Lalu mulailah kepraktisan hidup sehari-hari menggantikan segala rencana. Punya celengan di rumah berarti punya persediaan uang kas. Maka uang di celengan menjadi dompet saat membayar hantaran jasa cucian, makanan, kurir dokumen, dan lain-lain yang membutuhkan bayar di tempat.
Lama-lama isi celengan terkikis karena ini.
Saya pun memaksa untuk meletakkan kertas kecil di dalam celengan. Kertas ini bertuliskan angka jumlah uang yang diambil. Misalnya perlu bayar hantaran makanan sebesar 75 ribu, ya saya tulis 75 ribu di kertas itu. Nanti kertas itu saya masukkan ke dalam celengan.
Saat menjelang akhir tahun, saya akan buka celengan itu. Lalu saya akan lihat isi celengan dan tumpukan-tumpukan kertas.
Satu per satu, saya bayar kembali jumlah uang di tumpukan kertas. Setiap selesai membayar satu jumlah, saya coret angka di kertas itu. Lalu kertasnya dibuang. Begitu terus, sampai tak ada kertas lagi di dalam celengan.

Dan akhirnya, setiap tanggal 25 Desember, saya mempunyai celengan yang utuh lagi dengan uang tabungan harian selama setahun. Lengkap dengan kalender yang tercoret setiap hari selama setahun penuh.

Apa rasanya? Puas tak terkira!

Meskipun jumlahnya tak seberapa, tapi ada sense of completion, ada rasa puas karena telah menyelesaikan sesuatu. There is no greater satisfaction than finishing what we start.

Saya tidak ingin mengajak Anda melakukan hal yang sama. Bagaimanapun juga, setiap orang punya cara tersendiri dalam mengelola keuangan mereka. Kebetulan saja, meskipun ada tabungan, asuransi, reksadana dan investasi, saya masih ingin punya tradisi menyisihkan uang, literally, seperti yang diajarkan ke kita waktu kecil dulu.
Penghasilan saya tidak seberapa. Cukup buat saya hidup sendiri. Tapi saya percaya, bahwa pada akhirnya, it’s not about how much we make.
It’s always about how much we can save.

Piggy Bank (Courtesy of: homekeepingadventure.wordpress.com)
Piggy Bank (Courtesy of: homekeepingadventure.wordpress.com)

Perihal finansial dan keuangan selalu menjadi topik sensitif buat siapa saja. Tapi paling tidak, jika kita bisa jujur dengan diri sendiri tentang apa yang bisa kita lakukan untuk mengontrol apa yang kita punya, that’s a good start.

Saya sering cheating beberapa kali dalam mengisi celengan ini. Sering saya mengambil uang celengan dalam jumlah banyak untuk hal-hal yang kurang perlu, misalnya, bayar junk food delivery malam-malam. Atau tidak mengisi tabungan dalam beberapa hari. Namun pada akhirnya, saya tidak bisa menipu diri sendiri. Kalender itu menatap saya setiap hari setiap saya berganti pakaian.
Akhirnya, old habit dies hard. Tak kuasa untuk tidak tunduk pada aturan yang dibuat sendiri, celengan pun terisi kembali.
Yang menjadi pemicu salah satunya, tentu saja, kepuasan pada akhir tahun melihat kalender tercoret penuh.

Sense of completion. Mungkin itu yang ingin kita lihat bersama di setiap akhir tahun, dalam bentuk apapun. Finish what we start.

Dan saya ingin mengucapkan terima kasih buat semua pembaca Linimasa yang sudah setia membaca blog ini selama tahun 2015 ini. Kebetulan saya yang mengawali tahun 2015 dengan tulisan tentang kerja, dan yang menutup tahun 2015 dengan tulisan yang sedang Anda baca ini.

Selamat tahun baru. Semoga kita bisa selalu bisa menyisihkan sebagian hati untuk hal yang kita cintai.

Dan supaya judul artikel pas dengan isi, maka berikut lagu dari Whitney Houston.

13 thoughts on “Saving All My Love For You Leave a comment

  1. saya juga punya celengan koin..dari kain, setiap diisi, ga pernah dilihat atau dihitung, cuma kerasa beratnya aja dan itu menyenangkannnnnn..:)

  2. instagram.com/linimasainsta

    dear linimasa, mohon izin.
    baru dari januari sampai awal maret 2015. Belum sempat ngelanjutin.
    Semoga bisa sampai hari ini dan seterusnya.

  3. Saya juga punya celengan mas, dari bekas toples kacang. Setiap ada kembalian, uang 10 atau 20 saya masukin situ. Karna toplesnya kecil, tiap bulan saya panen. Duitnya sebagian ditabung ke bank, sisanya buat hura-hura 🙂

Leave a Reply