Selingkuh

HAL ini sering terjadi; mudah ditemukan di sekitar kita lantaran dilakukan banyak orang. Sekilas terlihat menyenangkan sekaligus cendala, tapi bagi sebagian terasa menantang untuk dibuktikan keseruannya. Penuh drama, melibatkan taktik serta muslihat, sehingga membuatnya lumayan risi untuk diperbincangkan. Cukup disegel dengan kalimat sakti “tahu sama tahu sajalah, itu bukan urusan kita”, dan terus saja dilakukan sampai bosan.

Ya, begitu mengenggankannya pembicaraan soal selingkuh, wajar bila tulisan ini dianggap kurang kerjaan. Namun bagaimanapun juga, perselingkuhan adalah bentuk dari eksistensialisme praktis. Apalagi menjelang libur panjang mulai lusa, saat para peselingkuh wajib punya rencana untuk bisa membagi waktu bersama dua atau tiga kekasih agar semua tetap berjalan lancar, atau malah memutuskan lebih serius dengan salah satunya saja.

Dalam artikel Mas Gandrasta beberapa pekan lalu, hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya diperlukan waktu selama 34 menit untuk bisa merasakan bibit jatuh cinta. 30 menit saling berbicara, ditambah 4 menit saling berpandangan tanpa kata. Jangan-jangan, kondisi begini yang kemudian memicu seseorang untuk berselingkuh, dan seringkali ditambah kesediaan seseorang lainnya untuk jadi selingkuhan.

Terkesan gampang memang. Akan tetapi jangan lupa kalau manusia penuh dengan preferensi, apalagi untuk urusan naksir-naksiran. Tanpa preferensi, tentu tidak ada perasaan suka sebagai titik awalnya. Minimal secara visual.

Bila kembali ke 34 menit di atas, asumsinya pembicaraan selama 30 menit berlangsung lancar dan mengalir, tek-tok, dialogis dan berekspresi, bukan seperti interogasi. Setelah hati dibuat hangat lewat obrolan yang menyenangkan dan efek hormonal, tatapan mata bikin mental block makin luluh. Kesengsem deh. Soal preferensi, perbincangan itu tak sekonyong-konyong terjadi. Setidaknya ada wajah yang sanggup dilihat selama mengobrol, untuk selanjutnya ditatap lekat-lekat selama 4 menit. Proses naksir bakal gagal, kalau belum apa-apa sudah pengin ngakak lihat wajah si dia. Sayangnya, ada beberapa kasus yang tidak bisa dijawab teori ini. Kiwil dengan dua istri, misalnya.

Secara umum, selingkuh diartikan sebagai sikap tidak setia dan dilakukan sembunyi-sembunyi, lengkap dengan mekanisme pertahanan berupa kebohongan, serta bisa menyebabkan kekecewaan dan rasa sakit hati. Ketika seseorang yang sudah terikat komitmen perasaan terhadap orang lain, juga menjalin asmara dengan orang yang berbeda dan tidak saling tahu. Dengan demikian, perlu empat syarat untuk selingkuh:

  1. Sudah punya pasangan sebelumnya. Kalau belum punya pacar, siapa yang dibohongi?
  2. Tidak saling tahu. Kalau sama-sama tahu dan anteng-anteng saja, berarti itu bukan pacaran, tapi jadi selir atau poligami/poliandri.
  3. Mengerti kalau selingkuh itu tindakan yang tidak benar. Terdengar dungu memang. Tidak benar di sini karena bisa merugikan orang lain, namun itu kalau ketahuan. Jadi, para peselingkuh berusaha hati-hati dan cermat supaya tidak ketahuan.
  4. Ada emosi dan perhatian yang dicurahkan. Bila tidak pakai perasaan, tak ubahnya cuma hubungan transaksional.

Mengapa seseorang berselingkuh? Baik sebagai peselingkuh, maupun selingkuhan. Soalnya pasti tidak ada yang mau diselingkuhi, biasanya karena menyangkut harga diri.

Agak tricky menjawab pertanyaan ini, tapi berikut adalah beberapa alasan yang lazim kita dengar, atau kita gunakan (ngikik).

  1. Alasan naif: cinta,
  2. Alasan kausalitas: mencari seks (aktif), atau tak tahan godaan (pasif),
  3. Alasan egosentris: membuktikan keunggulan diri bisa menaklukkan banyak orang, bentuk ekspresi sosial dan gender,
  4. Alasan traumatis: membalas dendam, atau melampiaskan ke orang lain,
  5. Alasan bodoh: iseng, mumpung masih muda/masih bisa/masih belum menikah,
  6. Alasan evaluatif: bosan atau pelarian,
  7. Alasan kontemplatif: contentment.

Ketujuh alasan di atas memiliki spektrum masing-masing yang tampaknya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, tetapi kebanyakan orang Indonesia sudah kadung menyamaratakan semua alasan ke poin nomor 2 aktif. Apa pun latar belakangnya, perselingkuhan dianggap bermuara ke satu titik: selangkangan alias hubungan seksual. Padahal belum tentu itu yang dicari, walaupun pasti dicap mustahil.

Jamak kita dengar: “ngapain dia selingkuh sama Si Anu kalau enggak buat ditidurin? Potong kuping gua!

Jika demikian keadaannya, giliran para peselingkuh dan selingkuhan saja yang menanyai diri mereka sendiri. Apakah hubungan klandestin yang tengah mereka jalani harus selalu diwarnai pertukaran lendir? Di sisi lain, sikap terhadap ihwal seksual ini pula yang membedakan antara perselingkuhan dengan open relationship. Dalam perselingkuhan, hubungan asmara dan aktivitas seksual dilakukan secara diam-diam, otomatis tidak disetujui pasangan. Sedangkan dalam open relationship berlaku sebaliknya, meski dengan syarat dan ketentuan khusus, dan untuk bisa menjalaninya benar-benar membutuhkan kedewasaan emosional yang sangat tinggi.

Kesimpulannya, dari hampir semua alasan di atas (kecuali poin nomor 2 aktif), belum tentu berujung pada aktivitas seksual. Bisa jadi setelah tujuan utama tercapai, sebuah perselingkuhan akan ditinggalkan dan pupus dengan sendirinya. Begitupun untuk alasan nomor 1, saking cintanya sampai-sampai menjadi Platonic Love, enggan untuk mengubah apa pun. Ibarat melihat bunga cantik yang mekar di pinggir jalan, dan memutuskan untuk menikmati keindahannya tanpa memetik agar tidak lebih cepat layu.

Untuk alasan nomor 2 pasif, silakan nilai sendiri. Apakah menggunakan jasa prostitusi sama dengan berselingkuh? Sebab komitmen untuk setia berlaku menyeluruh pada hati, pikiran, tubuh, dan kelamin. Atau piye? Selain urusan bayar membayar, di zaman sekarang hanya orang-orang dengan idealisme tinggi saja yang enggak langsung terima waktu disodori bodi keren, cowok ataupun cewek.

Poin ke-6 disebut evaluatif, karena kebosanan terhadap pasangan adalah sebuah masalah yang kata banyak orang bisa diselesaikan. Barangkali gara-gara susah berkomunikasi, akhirnya kebosanan itu menjadi kronis, rasa suka berubah jadi ill-feel. Hati yang gundah mendadak mendapat kenyamanan dari seseorang yang berbeda. Pedahal, jikalau benar-benar yakin dengan rasa bosan itu dan telanjur malas mengurusinya, mending putus sekalian, ketimbang selingkuh bikin perkara baru. Tidak bisa putus karena masalah hati dan sayang? Lah, katanya bosan. Jangan labil deh.

Pandangan berbeda untuk poin nomor 7. Saya merasa kurang sreg menggunakan kata “kepuasan” dibanding “contentment”. Kata “puas” identik dengan perasaan badaniah: kenyang, lega, mengarah ke jenuh, perasaan setelah mendapatkan sesuatu. Untuk urusan lega-legaan, ya jatuhnya seksual lagi.

Sebagai pembanding soal contentment ini, bagi Anda yang sedang atau sudah berpacaran/menikah, pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang lebih menyenangkan kala diajak berbicara dibanding pacar/pasangan sendiri? Begitu senangnya, sampai-sampai Anda selalu menantikan momen ngopi bareng dengan orang tersebut. Sepasang kekasih tidak mesti punya kegemaran yang sama, karena itu Anda lebih senang mengajak orang lain untuk nonton bareng festival film atau gig dan gegilaan bersama. Atau dengan rekan bisnis? Dan sebagainya. Semua berjalan mesra tanpa sedikit pun intensi untuk bobok-bobok lucu. Apa itu namanya? Perselingkuhan kognitif? Perselingkuhan koheren? Apa yang diperoleh? Emotional contentment? Associative contentment? Apa lah apa deh.

Pun, apabila perasaan contentment ini berubah menjadi lebih intim, giliran logika dan perasaan yang berperang. Memilih salah satu, atau tetap mempertahankan dua-duanya dengan risiko harus makan hati serta selalu melakukan penyesuaian diri. Kecuali Anda masih alay.

Melelahkan enggak sih? Worth it?

Bagaimana dengan para korban perselingkuhan? You’re obviously the survivors! But if You’re still with that cheater, obviously a dumb then. Sorry. 🙂

Sekarang, setelah kelar membaca sengkarut sotoy ini, siapa saja berhak berceletuk: “duelah, selingkuh itu buat dijalani kali, bukan buat dibahas-bahas.”

Kembali ke prinsip universal: “pengin selingkuh? Bersedia diselingkuhi, enggak?”

[]

Iklan

13 thoughts on “Selingkuh

  1. Alasan no
    8. Rasional: selingkuh ada karena adanya komitmen. Kali ga ada komitmen sama siapapun, ga ada yg diselingkuhin, kan?
    9. (Sok) Filosofis: Karena takut sama pandangan masyarakat dan orangtua maka memilih melakukan alasan no 8 lalu craving alasan no 7. Berada di tengah, menjaga keseimbangan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s