Arogansi Tak Membuatmu Jadi Lebih Keren

SELAMAT liburan panjang, khususnya bagi Anda yang cukup beruntung tidak harus bekerja menjelang Natal dan pengujung tahun. Namun bagi Anda yang tetap harus masuk kantor (seperti saya), atau mesti menjalani rutinitas profesi seperti biasa di mana saja, kira-kira sudah berapa kali harus berurusan dengan orang-orang arogan sepanjang setengah pekan ini? 🙂

Arogansi atau sikap angkuh dalam konteks hubungan kerja, sudah dianggap biasa, lazim, dan wajar terjadi. Apalagi di kota-kota besar sekarang, ketika kehidupan profesional kian kompleks, proyek-proyek yang ditangani makin ambisius juga fenomenal. Ditambah semakin banyak orang mementingan komunikasi ringkas yang mekanis dan efisien. Seringkas: “saat ini kita sedang terlibat kerja sama, dan saya perlu Anda untuk melakukan ini, ini, dan itu. Ada masalah?”; “saya tidak berurusan langsung dengan Anda, jadi sebaiknya Anda berkoordinasi dengan pihak lain yang berkepentingan,”; serta “apa kualitas yang Anda miliki sampai-sampai pantas untuk saya perhatikan?

Belakangan ini, sepertinya ranah profesional semakin lekat dengan arogansi atau sikap angkuh. Pasti selalu ada yang arogan saat berurusan atau berhubungan dengan orang lain dalam konteks pekerjaan. Baik antara atasan dan bawahan, pemberi jasa dan klien, rekan kerja sama, atau konsumen dan staf. Sejumlah batasan pun jadi tidak lagi relevan untuk dipertimbangkan. Yaitu usia, hubungan kekerabatan, hingga etiket. Sebab tidak berkontribusi langsung terhadap pencapaian kerja, bahkan cenderung dapat menghambat progres.

Kini, tatkala hampir semua orang berburu pencapaian dan pengakuan sosial, serta dituntut bergerak supercepat demi mengatasi keterbatasan waktu, bisa jadi arogansi muncul sebagai sesuatu yang alamiah dan sesuai perkembangan zaman. Ihwalnya, berbicara soal keangkuhan, ada tiga jenis manusia di muka bumi ini: yang merasa pantas arogan, yang merasa tidak nyaman bersikap arogan, yang ingin arogan tapi bingung mau menyombongkan apa.

Tak sedikit yang merasa pantas bersikap angkuh setelah memiliki jabatan atau kedudukan, memiliki wewenang tertentu. Padahal sudah menjadi kesepakatan umum, seorang atasan atau majikan pemberi gaji tidak sepatutnya bersikap arogan kepada bawahan.

Agak serupa, ada yang merasa berhak angkuh karena mempunyai kepandaian/keahlian khusus yang sangat dibutuhkan (“sudahlah, kamu ngerti apa sih?”), maupun merasa cukup keren untuk jadi orang arogan (kaya, cakep, dan sebagainya). Dalam kasus ini, bibit-bibit arogansi tumbuh tinggi, mendapat dorongan yang cukup untuk mekar indah, akan tetapi durinya melukai perasaan orang lain. Kepandaian adalah katalisator semu untuk bersikap arogan, dan arogansi adalah ilusi superioritas.

Di samping itu, ada yang tanpa sengaja bersikap angkuh karena lepas kendali waktu berhadapan dengan orang-orang menyebalkan, berkapabilitas rendah, nyolot, berkelakuan buruk, dan sebagainya. Sudah keliru, malah ngeyel. Agak dilematis memang. Sebaik-baiknya perilaku seseorang, tetap punya batas kesabaran. Itu sebabnya, terpujilah mereka yang meski sedang kesal namun tetap mampu melampiaskannya secara santun dan beradab.

Terakhir, tak sedikit pula yang bersikap angkuh lantaran memang tidak pernah diajari atau dididik menjadi pribadi yang santun. Anak-anak muda kekinian misalnya, walaupun tidak semua, yang barangkali hanya mengenal istilah Budi Pekerti (BP) sebagai salah satu mata pelajaran berisi penyuluhan tentang narkoba, menjauhi seks bebas, atau pemeriksaan kebersihan kuku, potongan rambut, panjangnya rok, dan hal-hal normatif lainnya. Kala berbicara dengan orang lain, bahkan yang lebih tua sekalipun, angkuh sekali. Pastinya, ada perbedaan yang sangat jelas antara gila hormat (yang sepaket dengan arogansi serupa), dan tata cara bertindak.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Boleh dibilang, setiap orang dilahirkan dengan hak dan kemampuan yang sama untuk jadi arogan. Bedanya, beberapa waktu kemudian, ada yang berkesempatan dan berkeinginan untuk arogan, ada yang sebaliknya. Semua tergantung pembawaan (Innatism-nya John Locke), ataupun asuhan lingkungan (Tabula Rasa).

Untuk bisa bersikap arogan, diperlukan kebanggaan. Untuk memiliki kebanggaan, diperlukan kualitas (atau yang dianggap kualitas). Sehingga bagaimanapun juga, Anda patut bersyukur atas kualitas tersebut. Tetapi, kualitas-kualitas tersebut akan jauh lebih memukau bila dilengkapi dengan sikap rendah hati. Minimal tidak angkuh lah, biar jadi lebih baik. Mengacu pada kaidah sosial; jangan perlakukan orang lain dengan tindakan yang kita tidak ingin dapatkan dari orang lain. Lagipula, ada perbedaan mendasar antara bersikap angkuh dan bersikap tegas dalam memimpin.

Lalu, apa yang harus kita lakukan apabila berhadapan dengan orang angkuh? Pada dasarnya, ya terserah masing-masing. Hanya saja, jangan memubazirkan waktu dan tenaga untuk memberikan tanggapan yang sia-sia, dan jangan merendahkan diri dengan membalas keangkuhan tersebut lewat keburukan yang sama. Rugi baper terhadap orang angkuh. Minim faedah. Jika serangan balasan berhasil, paling-paling hanya feeding the ego dan sensasinya bertahan sesaat. Belum lagi ada kemungkinan berlanjut ke masalah berikutnya, yang dalam konteks pekerjaan bisa berujung pada pemecatan. Iya kalau masih muda, masih punya banyak kesempatan untuk intern sana magang sini. Lah kalau sudah terbelit macam-macam tanggungan. Panik?

Tidak mudah memang, tapi salah satu cara terbaik untuk meng-counter arogansi adalah bertindak sebaik mungkin sampai membuat pelakunya merasa konyol, menelan kesalahannya sendiri. Dengan catatan, Anda di posisi yang benar dan mampu mempertanggungjawabkan tindakan tersebut. Jika tidak, ya doyong. Pasalnya, banyak yang justru bersikap angkuh supaya tidak ditimpakan kesalahan. Yang penting nyaring dan keras bersuara, supaya pihak lawan keder.

Terus, kira-kira sudah berapa kali Anda bersikap arogan sepanjang setengah pekan ini? 🙂

Lagi-lagi, selamat berlibur. Besok dan lusa sama-sama tanggal merah, sama-sama untuk memperingati hepi besdey.

[]

6 thoughts on “Arogansi Tak Membuatmu Jadi Lebih Keren Leave a comment

    1. Aha! Bener banget. Tapi ada yg merasa saking cantiknya, sampai-sampai pasti dimaklumi kalau jutek. Hahaha…

      Dan soal mug, ya begitulah. Ngakunya lebih baik, padahal typo. 😂😂😂

  1. Lucunya baru akhir-akhir ini gue menghadapi teman kerja (bawahan) yang arogan. Sebenarnya gue sendiri cukup bingung menghadapi orang yg arogan, padahal gue sudah lama noticed. Cuma mau dihardik di depan mukanya suka ga enak. Jadi kasian. Akhirnya dibiarkan. Jadilah setiap si orang ini bersiap arogan, gue secara tidak langsung mengakomodir arogansinya orang ini. Ujung-ujungnya ego nya di pampered selama sekian tahun. Sampai pada suatu titik di mana gue tidak bisa mentolerir lagi arogansi orang ini karena sudah kelewatan batas, kepala membuat summary list arogansi dan kaget sendiri karena banyak sekali arogansi dia dalam bentuk perilaku, kata-kata bahkan etika kerja. Dan arogansinya tadi ternyata disertai kemunafikan, hal-hal yang pretentious, image palsu dengan kemasan yang luar biasa bagus dan gue menyesal membiarkan arogansi dia tumbuh baik. Gue punya bangak kesempatan untuk mengingatkan, menghardik dan merasa keberatan. Lagi-lagi karena gue merasa kasihan saat insecuritynya diangkat di depan dia, gue memilih diam dan dilewatkan saja.

    Bgtulah

    1. Whoa! Thanks for sharing this story, dan biasanya semua jadi satu paket. Arogansi, ingin menang sendiri, mengelak dari kesalahan, melancarkan segala cara, termasuk berbohong, dan melemparkan kesalahan. Biasanya…

Leave a Reply