Kesederhanaan Kelas Dunia – Catatan Kecil dari Angkor Wat International Half Marathon 2015

Kegemaran saya berlari, ternyata bisa membawa sampai keluar negeri. Sebagai hadiah ulang tahun dari teman-teman dekat yang juga suka berlari, tahun ini saya ditraktir berlari di Angkor Wat, Siem Reap. Selama ini, race yang saya ikutai paling seputaran CFD, Alam Sutra, Bekasi, BSD, paling mentok sampai ke Bali. Bali Marathon itu pun sudah kemewahan buat saya. Bayangkan beli tiket, akomodasi, dan lain-lain “hanya” untuk berlari di sebuah race. Saya bukan pelari serius apalagi ambisius, Berlari adalah bagian keseharian saya saja. Sebagai upaya untuk menjaga kebugaran.

Berangkat ke Siem Reap tanpa harapan, tanpa bayangan. Bersama kedua teman pelari, Laura Bee dan Rani Riskadewi. Walau sebelumnya sudah sempat google-google tetap saja sedikit terkejut melihat kota kecil yang lebih mengingatkan saya pada kota Pangkal Pinang sepuluh tahun lalu. Tak bisa berbahasa setempat. Cuaca panas. Semua transaksi menggunakan mata uang Dolar Amerika. Bahkan untuk membayar Tuk-tuk yang merupakan transportasi utama di sana.

2015-12-02 16.59.46 2015-12-03 10.53.28 2015-12-06 15.35.44

Race Pack Collection (RPC), rangkaian pertama dalam sebuah race event. Diadakan di sebuah Hotel yang sudah agak tua. Mengingatkan saya pada hotel-hotel di Jakarta seputar 80-an. Tak seperti RPC di Ibukota, kali ini lebih mirip acara Pemilu di Kelurahan. Pelari diharapkan mencari nama sendiri di papan raksasa. Setelah menemukan nama, di situ tertera nomor kode. Nomor kode akan dicatatkan di secarik kertas kecil. Dengan kertas kecil itulah baru kita mengantri mengambil Race Pack. Daftar Pelari pun masih dilakukan secara manual. Tak diminta identitas atau apa pun dari pelari. Hanya diminta tanda tangan saja setelah Race Pack diberikan.

Tak ada booth yang menawarkan barang-barang keperluan berlari terkini. Yang ada hanya sebuah meja kecil yang menjual hasil kerajinan warga Jepang yang tinggal di Siem Reap. Tidak ada musik menghentak yang menyemangatkan. Semuanya sunyi saja. MC? Lupakan. Seiring mengambil Race Pack kita bisa menyaksikan pelari dari berbagai negara turun dari Tuk-tuk. Semua berjalan kalem. Tak ada kehebohan. Isinya Race Pack? Kaos berlari, Chip Timing yang harus dikembalikan sesudah race, sebuah brosur panduan race, kata sambutan dan sponsor.

2015-12-04 11.29.35 2015-12-04 11.42.09 2015-12-04 11.50.24

Awalnya sempat mulai meragukan event ini. Tapi saat melihat daftar peserta yang juga mencantumkan negara asal peserta, di situ lah saya baru menyadari, Angkor Wat International Half Marathon benar-benar menghidupkan makna International. sepertinya 95% peserta berkewarga negaraan Perancis, Inggris, Belanda, Swedia, Jepang, Australia, Singapore, Malaysia, dan 75 negara lainnya. Peserta Indonesia kurang lebih sekitar 30-an. Peserta dalam negerinya saya perkirakan sekitar 5%-nya saja.

Dari buku panduan di dalam Race Pack itu, saya baru tersadar tahun 2015 adalah tahun ke-20 penyelenggaraan Angkor Wat Half Marathon. Dari jumlah peserta sekitar 190 pelari, tahun ini sekitar 7000-an pelari. Tahun ke-20. Bukan pekerjaan mudah untuk mengadakan dan menjaga sebuah acara bertahan selama itu kan? Selain komitmen juga pasti didukung oleh Pemerintah setempat. Yang meyakininya sebagai bagian dari pariwisata negeri.

Hari race pun tiba. Subuh itu masih gelap. Saya mulai melakukan pemanasan sambil tentunya lirak lirik melihat peserta lain. Saat pemanasan itulah matahari pagi mulai muncul. Muncul di saat bulan masih bertengger. Muncul dibalik Angkor Wat. Kuil yang dibangun pertengahan abad 12 di zaman kejayaan Suryavarman II. Angin pagi semilir bikin merinding. Menyaksikan pemandangan yang selama ini cuma bisa saya lihat di Google Image.

2015-12-06 05.35.52 2015-12-06 05.43.23-1

MC acara menggunakan bahasa Inggris mulai bersuara. Berselingan dengan MC berbahasa Khmer. Kalau di race biasanya diputar lagu-lagu menghentak pemberi semangat, kali ini berbeda. Mereka sangat percaya diri untuk memutarkan lagu-lagu tradisional mereka dengan irama mendayu-dayu. Sempat mengira ini adalah lagu kebangsaan. Tapi sulit untuk percaya karena iramanya yang terlalu mellow. Peserta dari berbagai negara itu pun seperti ikut menikmati. Beberapa ikut berjoged sambil bertepuk tangan.

2015-12-06 06.02.20

Sebelum race dimulai, saya sempat memperhatikan peserta yang rata-rata berusia sekitar 30 tahun ke atas. Sepertinya sedikit sekali yang mengenakan pakaian dan sepatu berlari terbaru. Rata-rata sepatu lari yang kelihatan sudah dibawa berlari jauh. Pakaiannya pun seadanya. Hampir tak ada yang menggunakan Compression. Bahkan peserta dari Australia mengenakan kaos yang lebih cocok buat kaos tidur bertuliskan besar: BILLABONG.

Racepun dimulai. Telat 30 menit dari jadwal. Tak ada yang protes. Semua mulai berlari dengan santai riang. Di depan tentu tampak pelari ambisius sudah mulai memimpin race. Di sepanjang jalan kita dipertontonkan hutan, danau yang luas, berbagi kuil sekitaran Angkor Wat, anak-anak kecil di kampung sekitar ikut menyemangati. Sayang saya tidak mengambil foto selama berlari. Saya lebih memilih untuk menikmati saja race ini. Lintasan yang flat membuat lari tanpa harus berpikir strategi. Ini race di luar negeri pertama saya. Saya ingin melihat dan menyerap sebanyak mungkin.

Sampai melewati sebuah gerbang candi yang besar bernama Victory Gate. Saat melewati itu entah bagaimana perasaan melankolis muncul. Kurang ajar! Saya merasa bersyukur untuk umur yang dianugerahkanNya. Saya merasa terselamatkan oleh teman-teman yang sayang sama saya. Dan di atas segalanya kesehatan dan kekuatan untuk berlari di separuh usia rata-rata usia manusia di bumi masa kini. Saya pun melambatkan lari dan bahkan berjalan. Seolah refleks tangan saya ingin mengusap dinding batu dari Victory Gate. Dalam hati saya berdoa untuk bersyukur seraya mengamini kehidupan ini adalah kemenangan. Ini foto Victory Gate yang saya colong dari Google.

SouthGate_0501_0412

Menjelang gars finish, pelari dari berbagai negara yang sudah lebih dahulu finish berteriak memberikan semangat. Ada yang saya pahami ada yang tidak karena menggunakan bahasa Jepang. “YOU CAN DO IT!!!” atau “SMILE SMILE SMILE!” dan beragam ucapan pembangkit semangat lainnya. Setelah melewati garis finish yang terbuat dari bambu mirip gerbang 17-an di Kelurahan, tak ada deretan meja panjang minuman dan pisang yang menanti. Kita harus melepas chip dari sepatu kita sendiri untuk ditukarkan dengan medali. Jangan dikira medalinya besar sebesar medali yang sudah saya terima. Warnanya emas berkilau dengan diameter kurang lebih 3 cm seolah tak peduli dengan medali-medali dari race di belahan dunia lain yang besar dan semakin membesar.

2015-12-06 09.44.09  2015-12-06 09.48.13

Teman kami Ncess yang batal ikut di saat terakhir. Dan Nat yang gagal dibujuk untuk ikutan lagi.
Teman kami Ncess yang batal ikut di saat terakhir. Dan Nat yang gagal dibujuk untuk ikutan lagi.

Di garbing finish, tak ada panggung, apalagi band. Pelari berkerumun di berbagai payung yang sudah disiapkan. Dari kejauhan terdengar MC menyebutkan pemenang podium HM Pria: Fraser Thompson (Australia) dengan catatan waktu 01:12:19,8, Necko Hiroshi (komedian ternama dari Jepang yang sudah berkewarga negaraan Kamboja 3 tahun lalu) 01:13:46,6 dan Hiratuka Jun (Jepang) 01:13:46,9. Di podium perempuan: Phap Sopheak di tempat pertama dengan catatan waktu 01:23:43.5, disusul Vivian Tang (Singapura) , disusul Maire Nic Amhlaoibh di tempat ketiga 01:31:43.

“I love it! All my friends in Singapore are now doing Singapore Marathon today. I think I’ve made the right choice. It’s better to be here. You see the sunrise, the forrest, the temple, the lake… There they see buildings. Weather is good, race track is flat… So gonna come back here next year with my kids” kata salah seorang pelari asal Singapura. Di pesawat kembali ke Jakarta pun saya menguping sekumpulan orang Australia yang ngobrol menceritakan kebahagiaan dan kepuasannya mengikuti race ini. Sebuah race International yang diselenggarakan dengan penuh kebersahajaan dan penuh percaya diri.

2015-12-03 12.01.43

 

Iklan

6 thoughts on “Kesederhanaan Kelas Dunia – Catatan Kecil dari Angkor Wat International Half Marathon 2015

  1. dulu sekali, pernah berkeinginan ikut race ini sama temen2, race luar negeri pertama yg kepengen ikut. sekarang karena dah gantung sepatu, keinginannya sudah hilang, tapi tetap suka baca tulisannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s